Kreativitas Tanpa Batas dalam Keterbatasan

Kreativitas Tanpa Batas dalam Keterbatasan

Masa pandemi memunculkan banyak perubahan dalam dunia pendidikan. Tidak saja dalam tataran kebijakan, tetapi juga dalam pelaksanaan. Kebijakan yang lahir menyesuaikan kondisi yang ada. Di sisi lain, pelaksanaan di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Persoalan demi persoalan muncul menjadi hambatan. Rintangan yang membutuhkan kepekaan untuk bisa mengatasainya.

Tidak terkecuali bagi sekolah yang belum mendapat izin tatap muka. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mau tidak mau menjadi pilihan utama. Menyelenggarakan PJJ pun juga tidak mudah. Kendala seringkali muncul dalam praktiknya. Termasuk satuan pendidikan yang telah menyusun petunjuk teknis pelaksanaannya sekalipun.

Bagi sekolah yang memiliki sumber daya memadai, rasanya pemanfaatan teknologi bukan lagi menjadi masalah. Guru, siswa, dan orang tua bisa berkolaborasi penuh dalam proses pembelajaran. Lalu, bagaimana dengan satuan pendidikan yang memiliki keterbatasan sumber daya?

Jawabannya hanya satu, kreativitas tanpa batas. Kreativitas mengelola pembelajaran menjadi syarat wajib terselenggaranya proses transfer pengetahuan. Semua unsur dalam satuan pendidikan wajib memikirkan ide kreatif. Tujuannya agar proses pendidikan terus berjalan. Tidak saja pada tahap pembelajaran, tetapi juga penilaian.

Pihak satuan pendidikan bisa saja dengan mudah mengatasi keterbatasan sumber daya tersebut. Namun, tidak bisa menyamaratakan kemampuan masing-masing satuan pendidikan. Pada dasarnya masing-masing satuan pendidikan memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Oleh karena itu memerlukan kerja sama untuk berbagi kekuatan.

Lewat ide-ide kreatif masalah keterbatasan bukan lagi hambatan yang mengerikan. Bahkan bisa saja hambatan menjadi pemicu lahirnya ide-ide baru. Ide-ide yang muncul dari pemikiran mendalam terhadap keberlangsungan pendidikan anak negeri.

Khusus bagi satuan pendidikan yang memiliki keterbatasan, ini merupakan tantangan. Menaklukkannya merupakan sebuah kemenangan.

Sebagai contoh misalnya, pelaksanaan Ujian Satuan Pendidikan. Pemerintah memberikan kewenangan untuk menyelenggarakan sesuai kondisi masing-masing satuan pendidikan. Bagi satuan pendidikan yang mampu menggunakan mode daring penuh rasanya tidak masalah. Banyak faktor pendukung terkait penyelenggaraan ujian.

Namun, beda halnya dengan satuan pendidikan yang memiliki keterbatasan. Meskipun pada dasarnya keterbatasan bukanlah alasan untuk tetap bisa maju bersama. Oleh karena itu tugas besar bagi satuan pendidikan untuk bisa menyelenggarakan ujian. Lantas langkah apa yang bisa diambil?

Bagi satuan pendidikan yang sudah memperoleh izin tatap muka, rasanya tidak masalah. Ujian bisa dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan dengan sistem sif. Sedangkan bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan PJJ mode luring, jika ada izin bisa membentuk kelompok belajar di lingkungan tempat tinggal siswa.

Khusus kelas yang akan mengikuti ujian, pihak satuan pendidikan terlebih dahulu melakukan pemetaan jumlah siswa. Pemetaan bertujuan untuk menentukan kapasitas masing-masing kelompok belajar yang akan dibentuk. Jumlah siswa tentu menyesuaikan dengan standar ‘bukan kerumunan’.

Langkah selanjutnya adalah membagi jadwal guru kunjung sesuai jadwal ujian. Guru kunjung berperan dalam tugas kepengawasan ujian. Pengawas masing-masing kelompok belajar bisa terdiri dari dua orang guru kunjung. Bisa juga menyesuaikan dengan jumlah guru yang ada.

Pada saat pelaksanaan ujian, selanjutnya guru kunjung membawa soal ujian siswa mengerjakan ujian selayaknya di sekolah. Setelah selesai siswa mengumpulkan kepada guru kunjung selaku pengawas yang kemudian menyerahkan lembar jawaban kembali ke satuan pendidikan.

Aktivitas tersebut berlaku bagi satuan pendidikan yang memiliki medan bisa dijangkau. Membutuhkan ide bagi satuan pendidikan yang memiliki letak geografis dengan medan yang sulit. Hambatan ini bisa diakali melalui kerja sama dengan pihak desa. Satuan pendidikan menyerahkan soal kepada pihak desa untuk membantu distribusinya. Distribusi soal bisa saja sekaligus dalam satu bendel untuk semua mata pelajaran. Demikian halnya saat pengumpulan lembar jawaban pada waktu yang telah ditentukan.

Tentunya masing-masing satuan pendidikan memiliki banyak pilihannya. Tergantung kesiapan dan kemauan melahirkan kreativitas tanpa batas dalam keterbatasan. (mo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *