Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama potensi SAR di Nusa Tenggara Barat memperkuat kekompakan untuk mengantisipasi peningkatan potensi terjadinya bencana dan kecelakaan seiring dengan berkembangnya arus moda transportasi dan pariwisata di provinsi tersebut.

“Kita harus kompak demi kemanusiaan,” kata Deputi Bidang Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan Basarnas Abdul Haris Achadi, dalam pembukaan Forum Koordinasi Potensi Pencarian dan Pertolongan (FKP3) dan Pembinaan Dasar di Bidang Pertolongan Pertama Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Mataram, di hotel Aruna Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Senin (22/03).

Menurut dia, pada fase pengembangan saat ini, Basarnas tidak mudah dalam melaksanakan operasi pencarian dan pertolongan, baik kecelakaan, penerbangan, pelayaran, bencana serta kondisi yang membahayakan manusia.

Untuk itu, Basarnas mengajak semua institusi untuk bersatu padu dalam memberikan respon waktu (respon time) pelayanan SAR kepada masyarakat.

Haris menjelaskan pertemuan Basarnas dengan seluruh potensi SAR di NTB kali ini bertujuan menyatukan visi dan misi dalam pelaksanaan operasi SAR.

“Melalui forum ini juga, kami harapkan adanya peningkatan kompetensi, pembuatan rencana kontijensi, diseminasi, dan ide-ide progresif di bidang SAR,” ujarnya.

Kepala Kantor Basarnas Mataram Nanang Sigit PH menambahkan potensi terjadinya bencana dan kecelakaan yang membahayakan manusia di wilayah kerjanya semakin kompleks ke depannya.

Sebab, NTB saat ini menjadi destinasi wisata super prioritas dan menjadi pusat perhatian karena akan menjadi tuan rumah event MotoGP di sirkuti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, di Kabupaten Lombok Tengah.

Selain itu, perkembangan moda transportasi laut juga semakin berkembang, seiring dengan dibukanya rute pelayaran baru dari dan ke Lombok.

“Dengan potensi bencana dan kecelakaan yang semakin kompleks, potensi SAR di NTB dituntut untuk bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, baik teknologi, sarana dan prasarana serta personelnya,” kata Nanang saat mendampingi Deputi Bidang Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Zainal Abidin menyebutkan potensi kebencanaan di wilayahnya terdiri atas bencana alam dan non alam.

Bencana alam yang dimaksud berupa bencana alam geologi seperti gunung meletus, dan bencana alam hidrometeorologi berupa banjir, longsor dan angin puting beliung.

Ada juga potensi bencana kekeringan di musim kemarau yang bisa menyebabkan krisis air bersih serta kebakaran hutan dan lahan di beberapa kabupaten.

“Melihat potensi bencana di NTB, kita harus bersinergi. pemerintah dan para pihak lainnya harus kolektif, semuanya bergerak,” ucap Zainal sebelum membuka secara resmi kegiatan tersebut. (Tim Redaksi KM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *