Di masa Pandemi, Petani Sakbar Tetap Tanam Tembakau & Keluhkan Harga Produksi Tinggi

  • Share

Sakra Barat, Lotim – Musim tanam Tembakau di wilayah Kecamatan Sakra Barat Kabupaten Lombok Timur sudahpun di mulai sejak pertengahan Mei hingga awal Juni kemarin.

Keadaan pandemi Corona sekarang tidak menyurutkan semangat pera petani tembakau di wilayah ini untuk tidak menanam tembakau, Bahkan tingginya harga pupuk juga tidak membuat petani mengurungkan niatnya untuk libur menanam. Ada juga petani menanam padi karena keluhkan harga pupuk dan produksi yang semakin meningkat namun jumlahnya tidak seberapa.

Amaq Angga, (42) Salah seorang petani tembakau dari dasa Rensing Bat menuturkan kepada Media ini Selasa, (15/06), Keadaan sekarang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Biaya produksi menjadi salah satu yang dikeluhkan para petani, Harga pupuk bersubsidi perkuwintal mencapai kurang lebih 500 ribu rupiah, Pupuk juga langka, jatah pupuk untuk kelompok tani berkurang seiring pengurangan areal, tidak sesuai dilapangan, areal persawahan di desa Rensing bat mencapai 150 hektar lebih namun di kurangi hingga puluhan hektar, kami kurang tau pasti penyebabnya.

Mahalnya harga produksi di tengah pandemi sekarang membuat banyak petani tembakau gulung tikar, lebih-lebih yang tidak berani meminjam uang di bank, mereka lebih memilih menjual areal tanamnya kepada orang lain dan banyak juga petani yang memilih menanam padi karena biaya produksi padi menurutnya lebih sedikit, Sambungnya.

Lain halnya dengan Mahsun, (50) petani asal dusun Jerua desa Montong Beter, Tahun ini dia tidak menanam tembakau karena paktor biaya, dia hanya membeli tembakau siap panen di areal petani untuk di keringkan, cara ini sudah sering ia lakukan karena menurutnya lebih efektif dibandingkan menanam langsung ataupun membeli areal tanam.

Menurutnya lagi, Cara ini juga kadang untung kadang rugi tergantung kualitas dan harga tembakau sa’at dijual ke gudang tembakau. Modal yang ia gunakan hanyalah keberanian, Pembayaran ke pemilik tembakau dilakukan setelah pinal pemanenan. Biasannya per 10 are di beli dengan harga 3 sampai 5 juta tergantung keaadaan dan kualitas tembakaunya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk desa Rensing Bat Suartana, Sp
Sa’at di konfirmasi oleh media ini melalui sambungan telepon seluler, Membenarkan harga pupuk dan limitnya pupuk sekarang, Petani sering mengeluh namun kami tidak bisa berbuat banyak karena menurutnya kaadaan ini sipatnya menyeluruh, bukan di sini saja, di tempat lain juga keluhkan hal yang sama, pihaknya sudah sering konsultasi ke dinas terkait namun jawabannya juga sama, ini sudah dari sana, imbuhnya.

Mudah mudahan kedepan keadaan ini bisa berubah, Pandami sekarang sangat banyak berpengaruh kepada para petani. Semoga corona ini cepat berakhir, Harapnya singkat.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *