Membangun Ekonmi Secara Kolektif Kolegial

  • Share

Waktu terus berputer tanpa kenal konfromi, mulai dari detik yang  berganti menjadi menit terus ke jam, akhirnya menjadi hari. Hari kemudian berganti lagi menjadi minggu, minggu berganti bulan terus ke tahun akhirnya ke abad. Sehingga tidak terasa usia kita secara zahir telah bertambah namun pada hakekat sesungguhnya semakin berkurang karena kematian kita semakin dekat.

Disatu sisi tubuh kita semakin lemah daya fikir kita semakin berkurang sementara disisi lain anak kita semakin besar, anak kita semakin banyak bahkan juga istri kita bisa makin banyak. Hehe.  Ini artinya disaat tubuh kita semakin lemah tanggung jawab kita semakin banyak dan semakin besar. Sementara target hidup kita ini adalah bagaimana mencapai kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akherat.

Menyadari akan hal ini maka tentu harus ada kiat ekstra yang harus kita ikhtiarkan, harus ada kreatifitas unggulan yang harus kita orbitkan, harus ada inovasi canggih yang harus kita wujudkan untuk menyongsong masa depan yang lebih cemerlang demi anak-anak dan keturunan kita. Jika kita menjalani hidup ini dengan biasa-biasa saja maka tentu apa yang jadi muara terakhir dari tujuan hidup ini seperti terungkap diatas akan semakin sulit kita capai.

Berbicara tentang kreasi, inovasi, dan ikhtiar dalam membangun usaha sebagai alat untuk mempersiapkan masa depan yang mensejahterakan di dunia dan membahagiakan di akherat tentu tidak lah gampang, apalagi kalau kemudian dikaitkan dengan keadaan dunia hari ini yang sedang diserang covid 19 yang mengakibatkan semua sendi kehidupan jadi lumpuh,  tentu itu akan menambah kesulitan dalam membangun usaha. Kita coba mulai dari usaha yang paling kecil dan sederhanapun tetap membutuhkan modal yang tidak sedikit. Kalaupun ada usaha yang bermodalkan 5.000. 000 saja maka ini tentu akan sulit bisa kita harafkan sebagai usaha yang menjadi topangan hidup pemilik usaha karena itu hanya akan menunda proses habis. Apa lagi kalau modalnya kurang dari 5 juta. Sementara mencari modal 5 juta saja hari ini ternyata tidak mudah, apalagi kalau mau bangun usaha yang modalnya lebih dari itu tentu akan lebih sulit lagi.

Maka dari itu lewat tulisan singkat ini saya ingin mengajak kita semua untuk ikhtiar Membangun Ekonomi Dengan Sistim Kolektif Kolegial.

membangun ekonomi secara kolektif kolegial adalah membangun ekonomi secara bersama dengan cara mengumpulkan modal bersama , menjalankan usaha bersama dan membagi keutungan secara bersama. Cara ini tidak sekedar memudahkan dan membuat usaha cepat berkembang tapi juga usaha ini akan lebih barokah karena ini termasuk usaha qirod seperti yang disabdakan  oleh nabi kita Muhamaad SAW, bahwa harta yang paling barokah itu ada 2 yaitu maskawin dan hasil qirad atau usaha bersama.

Bentuk kemudahan yang ada dalam usaha ini antara lain

  1. Pengadaan modal.

Jika usaha yang mau dibangun butuh modal 10 juta, maka yang 10 juta ini jika kita sendiri yang upayakan tentu akan kesulitan tapi jika kita ber sepuluh orang misalnya maka 10:10 = 1 juta. mencari uang 1 juta tentu lebih mudah jika diabanding dengan mencari uang 10 juta.

  • Promosi dan pengembangan

Jika promosi dan pengembangan dilakukan dengan sendiri tentu waktu dan semua jenis pekerjaan akan lebih panjang dan tentu lebih lambat jika dibanding dengan promosi dan pengembangan kita lakukan bersama 10 orang rekanan kita yang sama sama menjadi pemilik modal dan pemilik usaha

  • Resiko

Jika modal kita adakan sendiri, promosi sendiri, maka ketika usaha itu bangkrut maka tentu yang rugi kita sendiri dan nominalnya lumayan banyak dan besar. Tapi jika dijalankan secara bersaama maka kerugiannya kecil dan kita tanggung bersama.

Adapun bentuk usaha yang bisa dikembangkan secara kolektif kolegial ini adalah banyak sekali hamper semua jenis usaha bisa dikembangkan dengan pola itu. Tapi untuk menghidari resiko carilah usaha yang non spekulatif. Dalam hal ini adalah Tanah

Contoh, misal ada tanah yang dibeli 2 are dengan harga 10 juta/are bersama 10 orang, maka kita butuh modal 20 jt.  jika dibagi 10 orang, maka masing-masing 2 juta. Mencari modal 2 juta tentu sulit tapi jauh lebih sulit lagi jika yang dicari 20 juta sendirian. Di lahan 2 are tersebut misalnya kita tanami pohon kurma 10 batang dengan asumsi 5 batang/are di tanami jarak 2 meter tiap pojok kemudian di tengah tengah 1 berarti 5 batang kali 2 are sama dengan 10 batang.

Menurut pengalaman beberapa orang yang sudah mengembangkan baik di Indonesia, Tailand atau lebih dekat lagi di Lombok utara yang merupakan bagian dari indoneisa tengah. 1 pohon itu berbuah 7 sampai 14 tangkai dengan berat buah pertangkai 7 kg sampai 14 kg lebih yang tahun 2020 panen kemarin perkilonya dijual 2.00.000. untuk memudahkan penghitungan, kita asumsikan saja rata rata rata 10 kg/tangkai, 10 tangkai/pohon. Maka akan muncul angka sebagai berikut : 1 pohon berbuah 10 tangkai, 1 tankai beratnya 10 kg, 1 kg dijual 200.000. sehingga 200.000 x 10 kg = 2.000.000 x 10 tangkai = 20.000.000/ pohon x 10 pohon = 200.000.000 x 2 kali berbuah dalam satu tahun maka akan ada uang 400.000.000./thn di lahan 2 are.

Bagaiman kalau kurmanya tidak berbuah? Mari kita lihat di Malaysia yang sudah mengembangkan. bahwa untuk kurma yang tidak berbuah alias jantan, diambil niranya dengan rata rata per pohon niranya 10 liter/ hari, 1 liter = 8 gelas kecil, 1 gelas nira kurma di jual 15 ringgir berarti 1 liter sama dengan 15 ringgit kali 8 sama dengan 120 ringgit kali 10 liter sama dengan 1200.000 ringgit/ hari/pohon. kalau kita asumsikan di indonesia atau di Lombok. 15 ringgit itu sama dengan 5 ribu berarti 8 kali 5000 = 40 ribu kali 10 liter = 400.000/hari/pohon kali 10 pohon sama dengan 4 juta/ hari kali 30 hari dalam 1 bulan 120 juta kali 12 bulan dalam satu tahun maka akan  ada 1.44 M/thn dalam lahan 2 are.

Gimana kalau berbuah tidak, bernira juga tidak?, maka kita masih dijamin pahala. karena sabda Nabi ada 7 macam pekerjaan yang 1 kali kita kerjakan pahalanya ngalir terus hingga hari qiamat. Satu diantara yang 7 macam pekerjaan itu adalah menanam pohon korma.

Bagaimana kalau kurma yang ditanam tidak hidup satupun?. Tanah tempat kita tanam tersebut masih tetap jadi tanah yang dulu kita beli 20 juta maka bisa dipastikan kalau dijual beberapa tahun kemudian pasti harganya lebih tinggi dari harga kita beli beberapa tahun lalu. Dan yang lebih penting lagi setidaknya kurun waktu tanah itu masih ada maka selama itu juga bisa dipasitkan hubungan silaturrahmi antar anggota masih utuh. Karena bagaimanapun kita akan tetap saling Tanya saling pantau karena kita ada investasi.

Jadi investasi tanah tidak ada spekulasinya akan selalu untung dan untung. Maka dari itu mari kita coba satukan kata dan langkah untuk kita bersepakat membangun ekonomi secara kolektif kolegial. Karena di tengah tengah berdinamika dalam kegiatan investasi ekonomi ini tentu akan banyak hal yang bida dirumuskan ditengah perjalanannya sehingga akan ada banyak jalan menuju Kota Suci Makkah Madinah. Biar tidak Cuma jalan ke Roma saja yang banyak.

Lalu yang menjadi pertanyaan terkahir. Dengan siapa ekonomi kolektif kolegial ini kita bangun?. Jawabannya tentu dengan orang orang yang kita bisa menyatukan paradigma soal ini yang salah satunya adalah yang menjadi anggota group ini atau mulai dari yang mendapat ajakan ini atau yang membaca tulisan ini. kemudian nantinya membikin group.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *