“Seandainya kita punya 5 ustadz Sanir, 3 Rendi, 9 Amri dan 5 Roni, “TGH. Sukarman Azhar”

Terpaan udara pagi terasa begitu nikmat, mobil kupacu santai mendaki perbukitan yang panjang, niatku bisa sarapan sepiring berkah bersama dengan tuanGURU pagi ini. Amanat dari ketua tanfidziah jam 7 pagi sudah dikediaman beliau di Santong, jam 9 sudah kumpul dikediaman ketua tanfidziah di Pemenang, koordinasi dan langsung berangkat menuju Bandara Internasional Lombok.

Tepat jam 7, Mobil ku parkir sopan dibawah berugak gang kediaman, tuanGURU sedang persiapan. Istri, anak dan cucu terlihat berat melepaskan. Namun karena beliau milik Islam, pelukan, cium tangan, dan senyum sumringah senantiasa terpancarkan tanpa tetesan air mata keberatan. “Siilaaq lampaq…” tawar beliau dengan kepulan asap rokok yang terlihat ditahan keluar sembarangan. “Nggiiih siilaaaq…” sambutku menciumi perut-punggung tangan beliau. Almukarram tuanGURU Haji Sukarman Azhar Bayyinul Ulum Santong Kayangan.

Ku perhatikan beliau yang menaiki mobil dengan lirikan menunduk sepertinya sudah tidak ada yang tertinggal. “tuanGURU sampun sarapan niki?” Tanyaku membuka keramahan memecah lengang. “Nggiiih sawEq. KumbEq kabar ustadz MJ? Begaq laEq dEq wah bedaitt” timpal beliau seraya bertanya tentang ustadz MJ. “alhamdulillah driki, tyang bareng ustadz Thoha Mahsun sering berkunjung kerumah beliau, laguq beliau masih kokoh kukuh niki”. jawabku sedikit realistis, walau beliau spontanitas menghela nafas tertahan sambil bercerita mewEjang mengenai bagaimana Nahdlatul Ulama kemarin, saat ini dan yang akan datang di Lombok Utara.

Hening, jalan raya masih belum ramai, hanya terlihat beberapa Ojek nakal yang hilir mudik membawa penumpang dengan kecepatan Rosi. “SeandainTa bedoE lima ustadz Sanir, telu Rendi, siwaq Amri dit lima Roni,,, NU Lombok Utara ini insyaAllah akan produktif, besar, berkah”. suara beliau pelan sambil membuang pandangan pada pepohonan pinggir jalan yang berlarian, tidak memandangku walau lama ku menunggu. “Sehat wal’afyat selalu tuanGURU Nggiiih…”. membathinku.

Mobil yang kami tunggangi belok kanan gang masjid Lekok perlahan memasuki kediaman komandan Amri. “KumbEq kabar Diksar Banser di Lombok Barat no Amri?” tembak tuanGURU setelah mobil melaju. “Baroq Subuh niki tyang dateng lEq lokasi acara, kebetulan pelatih nasional tidak bisa datang karena semuanya didrop menuju lokasi Muktamar Lampung niki, ada yang salah dengan koordinasi kita,,, Lombok Utara ternyata tidak mengirimkan satupun peserta diksar, sangat disayangkan”. penjelasan jelas komandan Amri. TuanGURU tersenyum lepas sedikit terbahak.

Setelah mampir menjemput ustadz Thoha Fauzi(Sekjend), mobil kami terus menyusuri jalanan padat Tanjung, juru parkir pasar terlihat begitu sibuk bahagia,,, peluit bersahutan sana-sini, kedua tangan bergerak berirama pada kunci saling pahami. Ada banyak aneka bau.

Ketua tanfidziah menyambut kami dengan salam, mobil memasuki pekarangan, sudah ada ustadz Thoha Mahsun (bendahara), dan TGH. Sibawaih Telagawareng (Katib) menunggu. Tersedia tujuh nasi bungkus, kerupuk, pepaya, air minum dan tujuh botol C1000. Alhamdulillah. Saat ku ceritakan niat awal untuk sarapan sepiring berkah itu pada tuanGURU,,, beliau tersenyum rapi sekali.

Terpaan udara pagi terasa begitu nikmat, mobil kupacu santai mendaki perbukitan yang panjang, niatku bisa sarapan sepiring berkah bersama dengan tuanGURU pagi ini. Amanat dari ketua tanfidziah jam 7 pagi sudah dikediaman beliau di Santong, jam 9 sudah kumpul dikediaman ketua tanfidziah di Pemenang, koordinasi dan langsung berangkat menuju Bandara Internasional Lombok.

Tepat jam 7, Mobil ku parkir sopan dibawah berugak gang kediaman, tuanGURU sedang persiapan. Istri, anak dan cucu terlihat berat melepaskan. Namun karena beliau milik Islam, pelukan, cium tangan, dan senyum sumringah senantiasa terpancarkan tanpa tetesan air mata keberatan. “Siilaaq lampaq…” tawar beliau dengan kepulan asap rokok yang terlihat ditahan keluar sembarangan. “Nggiiih siilaaaq…” sambutku menciumi perut-punggung tangan beliau. Almukarram tuanGURU Haji Sukarman Azhar Bayyinul Ulum Santong Kayangan.

Ku perhatikan beliau yang menaiki mobil dengan lirikan menunduk sepertinya sudah tidak ada yang tertinggal. “tuanGURU sampun sarapan niki?” Tanyaku membuka keramahan memecah lengang. “Nggiiih sawEq. KumbEq kabar ustadz MJ? Begaq laEq dEq wah bedaitt” timpal beliau seraya bertanya tentang ustadz MJ. “alhamdulillah driki, tyang bareng ustadz Thoha Mahsun sering berkunjung kerumah beliau, laguq beliau masih kokoh kukuh niki”. jawabku sedikit realistis, walau beliau spontanitas menghela nafas tertahan sambil bercerita mewEjang mengenai bagaimana Nahdlatul Ulama kemarin, saat ini dan yang akan datang di Lombok Utara.

Hening, jalan raya masih belum ramai, hanya terlihat beberapa Ojek nakal yang hilir mudik membawa penumpang dengan kecepatan Rosi. “SeandainTa bedoE lima ustadz Sanir, telu Rendi, siwaq Amri dit lima Roni,,, NU Lombok Utara ini insyaAllah akan produktif, besar, berkah”. suara beliau pelan sambil membuang pandangan pada pepohonan pinggir jalan yang berlarian, tidak memandangku walau lama ku menunggu. “Sehat wal’afyat selalu tuanGURU Nggiiih…”. membathinku.

Mobil yang kami tunggangi belok kanan gang masjid Lekok perlahan memasuki kediaman komandan Amri. “KumbEq kabar Diksar Banser di Lombok Barat no Amri?” tembak tuanGURU setelah mobil melaju. “Baroq Subuh niki tyang dateng lEq lokasi acara, kebetulan pelatih nasional tidak bisa datang karena semuanya didrop menuju lokasi Muktamar Lampung niki, ada yang salah dengan koordinasi kita,,, Lombok Utara ternyata tidak mengirimkan satupun peserta diksar, sangat disayangkan”. penjelasan jelas komandan Amri. TuanGURU tersenyum lepas sedikit terbahak.

Setelah mampir menjemput ustadz Thoha Fauzi(Sekjend), mobil kami terus menyusuri jalanan padat Tanjung, juru parkir pasar terlihat begitu sibuk bahagia,,, peluit bersahutan sana-sini, kedua tangan bergerak berirama pada kunci saling pahami. Ada banyak aneka bau.

Ketua tanfidziah menyambut kami dengan salam, mobil memasuki pekarangan, sudah ada ustadz Thoha Mahsun (bendahara), dan TGH. Sibawaih Telagawareng (Katib) menunggu. Tersedia tujuh nasi bungkus, kerupuk, pepaya, air minum dan tujuh botol C1000. Alhamdulillah. Saat ku ceritakan niat awal untuk sarapan sepiring berkah itu pada tuanGURU,,, beliau tersenyum rapi sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *