Renungan Rabu Pagi
Hidup di dunia sering diibaratkan seperti perjalanan singkat yang hanya berlangsung sesaat. Banyak orang menghabiskan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk mengejar kenikmatan yang sementara, tetapi melupakan kehidupan akhirat yang kekal. Padahal, setiap detik kehidupan adalah kesempatan berharga untuk mempersiapkan bekal terbaik menuju kampung abadi. Orang yang cerdas bukan hanya menikmati hidup, melainkan juga mempersiapkan kehidupan setelah kematian dengan iman, amal saleh, dan ketakwaan.
Kita sering mendengar ungkapan, “Hidup itu singkat, nikmatilah.” Kalimat tersebut tidak sepenuhnya salah, sebab Islam memang mengajarkan agar seorang mukmin mensyukuri nikmat Allah dan memanfaatkan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Namun, ungkapan itu menjadi berbahaya apabila dimaknai sebagai ajakan untuk mengejar kesenangan dunia tanpa memikirkan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Islam justru mengajarkan keseimbangan. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat adalah tujuan akhir seluruh manusia. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh terlena oleh gemerlap kehidupan yang hanya sementara.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini mengingatkan bahwa segala yang kita banggakan di dunia, seperti harta, jabatan, popularitas, kekuasaan, maupun kemewahan, semuanya akan berakhir. Tidak ada yang dapat dibawa ke liang kubur kecuali amal yang telah kita lakukan.
Allah juga berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-‘Ankabut: 57)
Kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal perjalanan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan memperbaiki amal. Penyesalan saat itu tidak akan berguna. Oleh sebab itu, selama napas masih berembus, pintu taubat masih terbuka dan kesempatan beramal masih tersedia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim)
Hadis ini mengajarkan bahwa seluruh nikmat yang Allah berikan hanyalah titipan. Semua akan dimintai pertanggungjawaban. Masa muda akan ditanya untuk apa digunakan. Kesehatan akan ditanya dipakai untuk apa. Harta akan ditanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Waktu akan ditanya dihabiskan untuk apa. Bahkan umur yang kita jalani akan menjadi saksi di hadapan Allah.
Akhirat adalah kehidupan yang tidak mengenal batas waktu. Tidak ada kematian setelahnya. Di sanalah manusia menerima balasan yang sempurna atas seluruh amalnya.
Allah berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Tidak ada amal yang sia-sia di sisi Allah. Senyum yang tulus, sedekah yang ikhlas, doa untuk orang tua, menolong sesama, menjaga lisan, memaafkan kesalahan orang lain, semuanya akan menjadi cahaya pada hari ketika manusia sangat membutuhkan pertolongan.
Sebaliknya, dosa yang dianggap kecil apabila terus dilakukan tanpa taubat dapat menjadi sebab datangnya azab. Oleh karena itu, seorang mukmin selalu memperbanyak istigfar dan memperbaiki diri setiap hari.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ
“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu hanya berangan-angan kepada Allah.”
(HR. At-Tirmidzi)
Inilah ukuran kecerdasan menurut Islam. Bukan sekadar tingginya pendidikan, banyaknya kekayaan, atau luasnya pengaruh, tetapi sejauh mana seseorang mempersiapkan bekal untuk bertemu Allah.
Bekal itu bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga akhlak mulia, kejujuran, amanah, kasih sayang kepada sesama, berbakti kepada orang tua, mendidik keluarga dalam keimanan, bekerja dengan halal, menjauhi kezaliman, dan menebarkan manfaat bagi masyarakat.
Allah memberikan pedoman yang sangat indah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengajak setiap mukmin untuk melakukan muhasabah. Setiap hari hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah hari ini lebih banyak amal daripada dosa? Apakah lisan kita lebih banyak berdzikir daripada menyakiti orang lain? Apakah harta kita telah disucikan dengan zakat dan sedekah? Apakah hati kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin terpaut kepada dunia?
Marilah kita menikmati kehidupan dunia dengan penuh rasa syukur, tetapi jangan pernah menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Jadikan dunia sebagai ladang amal, tempat menanam benih-benih kebaikan yang kelak akan dipanen di akhirat. Sebab hidup memang singkat, tetapi akhirat sangat panjang. Dunia hanya sekejap, sedangkan kehidupan setelahnya berlangsung selama-lamanya. Maka, jangan sampai kita sibuk mempercantik kehidupan yang sementara, tetapi lalai mempersiapkan kehidupan yang kekal. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa beramal saleh, istiqamah dalam ketakwaan, memperoleh husnul khatimah, serta dikumpulkan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh di dalam surga-Nya. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
