Renungan Senin Pagi
Pernikahan bukan sekadar pertemuan dua hati yang saling mencintai, melainkan perjanjian suci yang menuntut tanggung jawab, kesetiaan, kesabaran, komunikasi, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Keindahan rumah tangga sering lahir bukan karena tanpa masalah, tetapi karena dua insan memilih bertahan, saling memahami, memaafkan, dan menjadikan Allah sebagai tujuan dalam setiap perjuangan bersama.
Pernikahan adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang seharusnya menghadirkan ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat. Karena itu, rumah tangga tidak boleh dipahami hanya sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan yang hidup dalam satu rumah. Ia adalah amanah, ibadah, sekaligus perjalanan panjang yang mempertemukan dua manusia dengan latar belakang, kebiasaan, karakter, kekurangan, dan kelebihan yang berbeda. Tidak ada pasangan yang benar-benar sempurna. Yang ada adalah dua manusia yang bersedia belajar menjadi lebih baik karena Allah.
Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Ayat tersebut memberikan gambaran mendasar tentang tujuan pernikahan. Ada sakinah, yaitu ketenteraman; ada mawaddah, yaitu kasih yang diwujudkan dalam perhatian dan kecintaan; serta ada rahmah, yaitu kasih sayang yang membuat seseorang tetap lembut ketika menghadapi kekurangan pasangannya. Karena itu, rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang tidak pernah bertengkar, melainkan rumah tangga yang mampu kembali kepada ketenangan setelah menghadapi perbedaan.
Banyak orang mengenal pernikahan dari sisi indahnya. Mereka melihat akad, pakaian terbaik, senyum pengantin, ucapan selamat, foto bersama keluarga, perjalanan bulan madu, dan berbagai impian tentang masa depan. Semua itu memang bagian dari kebahagiaan. Namun, pernikahan yang sebenarnya baru terlihat setelah pesta selesai. Ketika kehidupan mulai menghadirkan tagihan, pekerjaan, kelelahan, sakit, persoalan ekonomi, perbedaan cara berpikir, tanggung jawab terhadap anak, campur tangan keluarga besar, dan berbagai ujian yang tidak pernah tercantum dalam janji pernikahan.
Karena itu, apabila seseorang ingin memahami pahitnya kehidupan rumah tangga, ia dapat melihat banyak perkara yang sampai ke Pengadilan Agama. Di sana terdapat kisah manusia yang pernah saling mencintai, pernah berjanji untuk hidup bersama, tetapi kemudian berhadapan dengan luka yang panjang. Ada rumah tangga yang retak karena perselingkuhan, kekerasan, pengabaian, komunikasi yang buruk, masalah ekonomi, kecemburuan, campur tangan keluarga, kebiasaan buruk, hingga hilangnya rasa saling percaya. Kisah-kisah itu semestinya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi menjadi pelajaran bagi siapa pun yang masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki rumah tangganya.
Allah mengingatkan tentang beratnya ikatan pernikahan melalui firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 21:
وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُۥ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَٰقًا غَلِيظًا
Artinya: “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul dengan sebagian yang lain sebagai suami istri dan mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”
Pernikahan disebut sebagai mitsaqan ghaliza, perjanjian yang kuat. Ungkapan ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan permainan perasaan. Ia bukan sesuatu yang boleh dijalani dengan sikap coba-coba, lalu ditinggalkan ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Pernikahan membutuhkan kedewasaan. Seseorang tidak hanya dituntut mencintai ketika pasangannya menyenangkan, tetapi juga dituntut menjaga adab ketika sedang kecewa.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa cinta saja tidak cukup. Cinta tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi tuntutan. Cinta tanpa komunikasi dapat berubah menjadi prasangka. Cinta tanpa kesetiaan dapat berubah menjadi pengkhianatan. Cinta tanpa kesabaran dapat berhenti ketika menghadapi ujian. Sebaliknya, cinta yang dibimbing iman akan melahirkan tanggung jawab, kesetiaan, kelembutan, dan kesediaan untuk saling menguatkan.
Rasulullah ﷺ memberikan ukuran penting dalam memilih dan mempertahankan pasangan. Beliau bersabda:
إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
Artinya: “Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ menyebut agama dan akhlak. Ini menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga membutuhkan lebih daripada daya tarik fisik, kedudukan, kekayaan, atau popularitas. Agama memberikan arah, sedangkan akhlak menentukan bagaimana seseorang memperlakukan pasangannya ketika sedang marah, kecewa, lelah, cemburu, atau menghadapi persoalan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.
Hadis ini seharusnya menjadi cermin bagi setiap suami dan istri. Ukuran kesalehan seseorang tidak cukup dilihat dari bagaimana ia berbicara di depan banyak orang, bagaimana ia aktif dalam kegiatan sosial, atau bagaimana ia terlihat baik di hadapan masyarakat. Ada ukuran yang lebih dekat dan lebih jujur, yaitu bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang hidup bersamanya setiap hari.
Seseorang bisa sangat ramah kepada orang lain, tetapi kasar kepada pasangan. Bisa sangat sopan kepada teman, tetapi mudah menghina pasangan. Bisa tampak dermawan di luar rumah, tetapi pelit terhadap keluarganya. Bisa berbicara tentang agama dengan indah, tetapi tidak mampu mengendalikan lisannya ketika marah. Padahal keluarga adalah tempat pertama akhlak seseorang diuji.
Al-Qur’an juga memberikan tuntunan yang sangat indah dalam memperlakukan pasangan. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah, karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
Ayat ini mengajarkan kedewasaan yang luar biasa. Ketika seseorang menemukan kekurangan pada pasangannya, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa seluruh kebaikan pasangan telah hilang. Manusia memang memiliki kekurangan. Bisa jadi seseorang tidak menyukai satu sifat pasangannya, tetapi mendapatkan begitu banyak kebaikan dari sifat-sifat lainnya.
Namun, kesabaran bukan berarti membenarkan segala bentuk kezaliman. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk bertahan dalam kekerasan, pengkhianatan, atau perlakuan yang membahayakan. Memperbaiki rumah tangga harus dilakukan dengan cara yang benar, melalui komunikasi, nasihat, musyawarah, bantuan keluarga yang bijaksana, dan jika diperlukan bantuan pihak yang memiliki kompetensi. Menjaga pernikahan bukan berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung.
Salah satu penyakit rumah tangga yang sering dianggap sepele adalah malas berkomunikasi. Dua orang tinggal serumah, tetapi hati mereka semakin jauh. Mereka berbicara tentang pekerjaan, anak, uang, dan kebutuhan sehari-hari, tetapi tidak pernah benar-benar berbicara tentang perasaan. Ketika kecewa, mereka memilih diam. Ketika terluka, mereka menyimpan semuanya. Ketika marah, mereka berharap pasangan dapat memahami sendiri.
Padahal pasangan bukan pembaca pikiran. Apa yang menurut kita jelas belum tentu dipahami oleh pasangan. Karena itu, komunikasi harus dibangun dengan kejujuran sekaligus kelembutan. Katakan apa yang dirasakan tanpa merendahkan. Sampaikan keberatan tanpa menghina. Berikan kritik tanpa membuka aib. Dan ketika pasangan berbicara, belajarlah mendengar sebelum buru-buru membela diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Betapa banyak rumah tangga rusak bukan karena masalah awalnya terlalu besar, tetapi karena cara menghadapi masalahnya salah. Masalah kecil menjadi besar karena kata-kata yang kasar. Kesalahpahaman berubah menjadi pertengkaran karena ego. Perselisihan berubah menjadi dendam karena tidak ada yang mau meminta maaf. Karena itu, kemampuan menahan amarah merupakan salah satu modal penting dalam kehidupan rumah tangga.
Pasangan juga harus memahami bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan menuntut pasangan berubah sementara diri sendiri tidak pernah melakukan introspeksi. Jangan terus menghitung kesalahan pasangan tetapi lupa menghitung kesalahan sendiri. Jangan bertanya, “Mengapa dia tidak seperti yang saya harapkan?” sebelum bertanya, “Sudahkah saya menjadi pasangan yang layak bagi dirinya?”
Allah berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga adalah tanggung jawab spiritual. Suami dan istri bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Rumah yang dipenuhi rezeki tetapi jauh dari Allah belum tentu menjadi rumah yang bahagia. Sebaliknya, rumah sederhana yang di dalamnya terdapat doa, salat, kesabaran, rasa syukur, dan saling menghormati dapat menjadi tempat yang sangat menenteramkan.
Maka jangan hanya memperjuangkan rumah agar terlihat baik dari luar. Perjuangkan pula agar hati penghuninya baik. Jangan hanya membeli perabot untuk memperindah rumah, tetapi perindahlah pula cara berbicara. Jangan hanya memperhatikan makanan keluarga, tetapi perhatikan pula makanan ruhani mereka. Jangan hanya memastikan anak mendapatkan pendidikan dunia, tetapi ajarkan pula tauhid, ibadah, akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab.
Pernikahan yang panjang bukan berarti tidak pernah mengalami badai. Justru pasangan yang telah menua bersama biasanya telah melewati begitu banyak ujian yang tidak terlihat oleh orang lain. Mereka pernah kecewa, pernah berbeda pendapat, pernah mengalami masa sulit, bahkan mungkin pernah berada pada titik ingin menyerah. Namun, mereka belajar bahwa mempertahankan rumah tangga membutuhkan lebih banyak daripada perasaan cinta. Dibutuhkan kesetiaan ketika keadaan sulit, kesabaran ketika pasangan belum sempurna, dan doa ketika ikhtiar manusia terasa terbatas.
Karena itu, jangan mudah iri melihat rumah tangga orang lain. Apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan. Tidak semua luka terlihat. Tidak semua perjuangan diumumkan. Tidak semua air mata dipublikasikan. Rumah tangga yang tampak sempurna pun memiliki ujian sendiri. Maka tugas kita bukan membandingkan pasangan dengan pasangan orang lain, tetapi merawat amanah yang Allah titipkan kepada kita.
Bagi mereka yang sedang berada dalam rumah tangga, jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilai seseorang. Jangan menunggu pasangan pergi untuk mengenang kebaikannya. Jangan menunggu sakit untuk belajar menghargai. Jangan menunggu usia senja untuk menyadari bahwa waktu bersama ternyata sangat berharga.
Biasakan mengucapkan terima kasih. Biasakan meminta maaf. Biasakan memuji kebaikan pasangan. Biasakan mendoakan pasangan tanpa sepengetahuannya. Biasakan berbicara dengan lembut. Biasakan menyelesaikan masalah sebelum tidur jika memungkinkan. Dan yang paling penting, biasakan membawa Allah ke dalam setiap persoalan rumah tangga.
Bagi mereka yang sedang mengalami keretakan, jangan mengambil keputusan ketika emosi sedang memuncak. Tenangkan hati, perbanyak doa, cari nasihat dari orang yang amanah, dan selesaikan persoalan dengan cara yang bermartabat. Jika masih ada ruang untuk memperbaiki, jangan gengsi untuk memulai kembali. Namun apabila terjadi kezaliman yang serius dan segala upaya perbaikan telah ditempuh, Islam juga memberikan jalan keluar dengan aturan dan kehormatan. Perceraian bukan sesuatu yang boleh dipermainkan, tetapi keputusan yang harus ditempuh secara bertanggung jawab apabila memang menjadi jalan terakhir yang paling maslahat.
Pada akhirnya, pernikahan adalah perjalanan menuju Allah melalui tanggung jawab terhadap manusia yang paling dekat dengan kita. Suami adalah amanah bagi istrinya, istri adalah amanah bagi suaminya, dan anak-anak adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Rumah tangga bukan tempat untuk mencari manusia sempurna, melainkan tempat dua manusia belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik.
Maka jika hari ini rumah tangga masih utuh, syukurilah. Jika sedang diuji, sabarlah dan ikhtiarkan perbaikannya. Jika sedang bahagia, jangan lupa berdoa agar kebahagiaan itu diberkahi. Jika pernah melakukan kesalahan, segera bertobat dan meminta maaf. Jika pernah terluka, belajarlah memaafkan tanpa mengabaikan batas-batas yang benar.
Sebab cinta yang matang bukan sekadar berkata, “Aku mencintaimu.” Cinta yang matang adalah kesediaan untuk berkata, “Aku akan berusaha memperlakukanmu dengan baik karena Allah.” Ia bukan hanya janji pada saat akad, tetapi diwujudkan dalam ribuan tindakan kecil setiap hari. Ia hadir dalam kesetiaan ketika tidak ada yang melihat, dalam kelembutan ketika sedang marah, dalam kesabaran ketika keadaan sulit, dalam kejujuran ketika kesempatan untuk berkhianat terbuka, dan dalam doa ketika manusia tidak lagi mampu melakukan apa-apa.
Semoga Allah menjadikan setiap rumah tangga kaum Muslimin sebagai tempat tumbuhnya sakinah, mawaddah, dan rahmah. Semoga pasangan yang sedang bahagia diberi rasa syukur, pasangan yang sedang diuji diberi kesabaran, pasangan yang sedang terluka diberi kekuatan, dan pasangan yang sedang berjuang memperbaiki rumah tangganya diberi jalan keluar yang terbaik. Semoga setiap pernikahan menjadi jalan menuju kebaikan, bukan sekadar tempat berbagi kehidupan, tetapi juga tempat bersama-sama menuju ridha Allah dan keselamatan di akhirat. (Dr. H. Mutadi Hairi,M.Pd)
