Renungan Senin Pagi
Kematian bukan sekadar cerita tentang akhir kehidupan, melainkan kepastian yang sedang berjalan mendekati setiap manusia. Kita tidak pernah tahu kapan waktunya tiba. Karena itu, jangan menunda taubat dan kebaikan. Selagi napas masih berembus, pintu kembali kepada Allah masih terbuka, dan kesempatan memperbaiki diri belum berakhir.
Setiap manusia sedang berjalan menuju satu peristiwa yang pasti, yaitu kematian. Tidak seorang pun dapat melarikan diri darinya. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Ayat ini mengajarkan bahwa kematian bukan kemungkinan, melainkan kepastian. Yang tidak kita ketahui hanyalah kapan dan di mana ia datang. Karena itu, persoalan terbesar bukanlah bagaimana menghindari kematian, sebab tidak ada manusia yang mampu menghindarinya, tetapi bagaimana mempersiapkan diri ketika kematian itu benar-benar datang.
Allah juga mengingatkan bahwa kematian tidak dapat ditunda ketika waktunya telah tiba. Dalam Surah Al Munafiqun ayat 10 dan 11 disebutkan:
وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.’ Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Betapa banyak manusia memiliki rencana untuk hari esok. Ada yang ingin bertaubat setelah merasa cukup tua, ingin bersedekah setelah memiliki banyak harta, ingin memperbaiki shalat setelah urusan dunia selesai, atau ingin meminta maaf setelah keadaan menjadi lebih tenang. Padahal tidak seorang pun mendapat jaminan bahwa esok masih menjadi miliknya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengingatkan manusia agar memperbanyak mengingat kematian. Beliau bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.”
Hadis ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad. Mengingat kematian bukan berarti meninggalkan kehidupan, menjadi putus asa, atau berhenti bekerja. Justru kesadaran tentang kematian seharusnya membuat seseorang menjalani kehidupan dengan lebih bertanggung jawab.
Harta yang dikumpulkan tidak akan dibawa ke dalam kubur. Jabatan akan ditinggalkan. Rumah akan dihuni orang lain. Kendaraan akan berpindah tangan. Nama dan kedudukan perlahan akan dilupakan. Yang menemani seseorang setelah kematian adalah amalnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Mayit diikuti oleh tiga perkara. Dua di antaranya akan kembali dan satu tetap bersamanya. Ia diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”
Karena itu, jangan menunggu usia tua untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu sakit untuk mengenal doa. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai keluarga. Jangan menunggu kematian orang lain untuk menyadari bahwa giliran kita pun akan tiba.
Allah membuka pintu taubat selama manusia masih hidup. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.”
Maka selama hari ini masih diberikan, gunakanlah untuk kembali kepada Allah. Perbaiki shalat. Tinggalkan dosa yang diketahui. Mintalah maaf kepada orang yang pernah disakiti. Lunasi utang. Tunaikan amanah. Bersedekahlah. Bacalah Al Quran. Perbanyak zikir. Berbuat baiklah kepada orang tua dan keluarga. Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Kematian mungkin datang ketika seseorang sedang tertawa, bekerja, bepergian, beristirahat, atau bahkan ketika sedang menyusun rencana untuk masa depan. Itulah sebabnya seorang mukmin tidak menunggu waktu yang dianggap sempurna untuk menjadi baik.
Hidup ini bukan tentang seberapa panjang usia yang diberikan, tetapi tentang apa yang kita lakukan dengan waktu yang Allah titipkan. Semoga ketika panggilan itu datang, kita tidak termasuk orang yang memohon agar dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki amal, tetapi termasuk hamba yang telah berusaha mempersiapkan kepulangan kepada Allah.
Sebelum tanah merangkul tubuh, sebelum lisan berhenti berbicara, sebelum mata tertutup untuk selamanya, marilah kita kembali kepada Allah. Kematian memang pasti, tetapi waktu kedatangannya adalah rahasia. Karena itu, taubat jangan ditunda, kebaikan jangan ditangguhkan, dan kesempatan beribadah jangan disia-siakan. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
