Renungan Rabu Pagi
Pertolongan Allah tidak selalu hadir dalam bentuk kekayaan, kelapangan urusan, kesehatan, atau terbebasnya seseorang dari masalah. Ada pertolongan yang jauh lebih besar dan menentukan keselamatan seorang hamba, yaitu ketika Allah meneguhkan hatinya di atas iman, mencintai ketaatan, menjauhi kemaksiatan, dan diberi kekuatan untuk terus istiqamah hingga akhir kehidupan.
Sering kali manusia menilai pertolongan Allah dari apa yang tampak oleh mata. Ketika rezeki bertambah, usaha berhasil, penyakit sembuh, persoalan selesai, atau cita-cita tercapai, seseorang merasa bahwa Allah sedang menolongnya. Semua itu memang dapat menjadi bentuk pertolongan Allah. Namun, ukuran yang lebih mendasar adalah apakah pertolongan tersebut membuat seseorang semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa pertolongan Allah memiliki hubungan erat dengan keteguhan seseorang dalam agama. Menolong agama Allah bukan berarti Allah membutuhkan pertolongan manusia. Allah Mahakaya dan Mahakuasa. Maknanya adalah seorang hamba bersungguh-sungguh menjalankan agama, membela kebenaran dengan cara yang benar, mengajak kepada kebaikan, meninggalkan kemungkaran, serta menjadikan kehidupan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.
Karena itu, istiqamah merupakan karunia yang sangat besar. Seseorang mungkin memiliki harta, jabatan, ilmu, popularitas, dan berbagai kemudahan hidup. Tetapi apabila hatinya jauh dari Allah, semua kenikmatan itu belum tentu menjadi pertolongan yang sebenarnya.
Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan sebuah doa yang menunjukkan betapa pentingnya keteguhan hati:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya: “Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi).
Doa tersebut mengandung kesadaran yang sangat dalam. Hati manusia dapat berubah. Hari ini seseorang dapat bersemangat beribadah, tetapi tanpa pertolongan Allah ia dapat mengalami kelemahan pada hari berikutnya. Karena itu, jangan merasa aman dari perubahan hati. Jangan pula terlalu percaya kepada kekuatan diri sendiri.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
Artinya: “Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati; Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki.” (HR. Muslim).
Maka, salah satu tanda seseorang memahami hakikat pertolongan Allah adalah semakin banyak berdoa agar diberi keteguhan. Ia tidak hanya meminta kekayaan, tetapi meminta keberkahan. Ia tidak hanya meminta kesembuhan, tetapi meminta agar kesehatan digunakan untuk beribadah. Ia tidak hanya meminta masalah diselesaikan, tetapi meminta agar dirinya tetap taat ketika menghadapi masalah.
Istiqamah bukan berarti seseorang tidak pernah salah. Istiqamah berarti ketika tergelincir, ia segera kembali; ketika lemah, ia kembali memohon pertolongan Allah; ketika melakukan dosa, ia bertobat; ketika mendapat nikmat, ia bersyukur; dan ketika mendapat ujian, ia bersabar.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS. Fussilat: 30).
Inilah kabar gembira bagi orang yang berusaha mempertahankan iman sampai akhir hayat. Dunia boleh berubah. Harta bisa datang dan pergi. Kedudukan dapat naik dan turun. Manusia bisa dipuji dan dicela. Namun, orang yang mendapatkan pertolongan Allah adalah orang yang tetap menggenggam agama ketika keadaan berubah.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mengapa doaku belum dikabulkan?” Tanyakan pula, “Apakah Allah masih menjaga hatiku?” Jangan hanya menghitung apa yang belum diberikan. Hitunglah pula nikmat iman, kesempatan beribadah, kemampuan bertobat, kecintaan kepada kebaikan, dan dorongan untuk kembali kepada Allah.
Boleh jadi tertundanya sesuatu adalah bentuk penjagaan Allah. Boleh jadi kesulitan menjadi jalan untuk memperbaiki hati. Boleh jadi kehilangan dunia justru menjadi sebab seseorang menemukan kembali kedekatan dengan Rabb-nya. Dan boleh jadi pertolongan terbesar bukanlah ketika semua masalah selesai, melainkan ketika hati tetap kokoh beriman meskipun masalah belum selesai.
Maka, mintalah kepada Allah bukan hanya kehidupan yang mudah, tetapi hati yang teguh. Mintalah bukan sekadar rezeki yang luas, tetapi rezeki yang membawa keberkahan. Mintalah bukan hanya umur yang panjang, tetapi umur yang dipenuhi ketaatan. Dan mintalah agar kehidupan ditutup dalam keadaan tetap berada di atas Islam dan iman.
Pertolongan Allah yang paling agung adalah ketika seorang hamba tetap mengenal Rabb-nya dalam kelapangan maupun kesempitan, tetap beribadah ketika dipuji maupun dicela, tetap jujur ketika kesempatan berbuat curang terbuka, tetap sabar ketika diuji, serta tetap berharap kepada Allah ketika semua pintu dunia terasa tertutup.
Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya, mencintakan kepada kita iman dan ketaatan, menjauhkan kita dari kesesatan setelah mendapat petunjuk, serta menganugerahkan husnul khatimah. Sebab, keberhasilan terbesar bukan sekadar memperoleh dunia, melainkan memperoleh pertolongan Allah untuk tetap istiqamah hingga menghadap-Nya. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
