Renungan Kamis Pagi
Kesehatan sering terasa biasa ketika tubuh tidak menghadapi gangguan. Namun, ketika sakit datang, kita baru menyadari bahwa kemampuan berjalan, tidur, bekerja, beribadah, berkumpul bersama keluarga, bahkan menikmati makanan adalah karunia yang mahal. Karena itu, sehat bukan sekadar keadaan tubuh tanpa penyakit, melainkan kesempatan yang Allah berikan agar manusia menggunakannya untuk bersyukur, beribadah, dan memperbanyak amal saleh setiap hari dengan sungguh-sungguh.
Saudaraku, sebuah gambaran medis yang memperlihatkan tulang dengan pola menyerupai pancaran sinar matahari dapat mengingatkan kita pada betapa rapuhnya manusia. Dalam dunia kedokteran, gambaran semacam itu dapat dijumpai pada kondisi tertentu, termasuk pada sebagian kasus osteosarkoma. Namun, gambar medis saja tidak cukup untuk mengetahui keadaan seseorang secara lengkap. Yang lebih penting bagi kita adalah mengambil pelajaran tentang kehidupan, kesehatan, dan kesempatan yang Allah titipkan.
Ketika seseorang mengalami penyakit berat, banyak hal yang dahulu dianggap penting tiba-tiba kehilangan nilainya. Jabatan, kendaraan, rumah, pakaian mahal, harta dan berbagai kebanggaan dunia tidak selalu mampu memberikan ketenangan ketika tubuh sedang menghadapi penderitaan. Pada saat seperti itu, manusia dapat menyadari bahwa nikmat paling sederhana, seperti dapat tidur dengan nyaman, berjalan tanpa kesulitan, makan dengan lahap, bernapas dengan lega dan beribadah dengan tenang, sesungguhnya merupakan karunia yang luar biasa.
Allah mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia memang penuh dengan sesuatu yang dapat membuat manusia terlena. Allah Ta’ala berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan berarti Islam mengajarkan manusia meninggalkan dunia. Islam justru mengajarkan agar dunia digunakan sebagai sarana menuju kehidupan akhirat. Kesehatan pun demikian. Tubuh yang kuat bukan sekadar untuk mengejar pekerjaan, mengumpulkan harta atau menikmati kesenangan, tetapi merupakan amanah agar kita mampu menjalankan kewajiban, membantu sesama dan memperbanyak amal kebajikan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no. 6412)
Perhatikanlah sabda Nabi tersebut. Sehat dan waktu luang sering dianggap biasa justru karena keduanya hadir setiap hari. Manusia baru merasakan nilainya setelah kehilangan salah satunya. Ketika tubuh sakit, waktu yang dahulu digunakan untuk kegiatan yang tidak penting mungkin justru dirindukan untuk beribadah. Ketika kesempatan berlalu, seseorang baru berharap dapat mengulang masa yang telah pergi.
Karena itu, jangan menunggu sakit untuk belajar bersyukur. Jangan menunggu usia tua untuk memperbanyak ibadah. Jangan menunggu kehilangan kesempatan untuk melakukan kebaikan. Selagi tubuh masih mampu bergerak, gunakan langkah kita menuju kebaikan. Selagi tangan masih kuat, gunakan untuk menolong. Selagi lisan mampu berbicara, gunakan untuk berkata benar, berdzikir dan menenangkan hati orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan agar seorang mukmin memanfaatkan kesempatan hidup dengan sungguh-sungguh:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kecukupanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum kematianmu.” (HR. Al-Hakim)
Maka, kesehatan hendaknya melahirkan syukur, bukan kesombongan. Kekayaan hendaknya melahirkan kepedulian, bukan keangkuhan. Waktu luang hendaknya melahirkan amal, bukan kelalaian. Dan ketika sakit datang, seorang mukmin tetap berharap kepada Allah, berikhtiar mencari kesembuhan, bersabar serta tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Semoga setiap keadaan yang kita lihat menjadi bahan muhasabah. Semoga ketika masih sehat kita semakin rajin beribadah, ketika masih lapang kita semakin banyak berbagi, ketika masih memiliki waktu kita semakin banyak berbuat baik. Sebab suatu saat, kesempatan itu pasti berakhir. Yang akan menemani kita bukan jabatan, kendaraan atau kemegahan dunia, melainkan iman, amal saleh dan rahmat Allah Ta’ala.
Ya Allah, jadikan kesehatan yang Engkau karuniakan kepada kami sebagai sarana untuk semakin dekat kepada-Mu. Jauhkan kami dari penyakit yang berat dan berbahaya, berikan kesembuhan kepada mereka yang sedang sakit, kuatkan hati mereka yang sedang diuji, dan bimbinglah kami agar tidak menyia-nyiakan nikmat sehat, waktu dan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
