MATARAM — Kontestasi telah usai. H. Mohan Roliskana memenangkan pemilihan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB periode 2026–2030 setelah mengungguli petahana Mori Hanafi dalam Musyawarah Olahraga Provinsi Luar Biasa (Musorprovlub) KONI NTB di Mataram, Selasa (13/10/2026). Namun, kemenangan ini bukan garis akhir. Justru dari sinilah pekerjaan besar olahraga NTB dimulai.
Mohan, Wali Kota Mataram sekaligus mantan Ketua KONI Kota Mataram, memperoleh 45 suara. Sementara Mori Hanafi meraih 29 suara, dengan dua suara abstain dari total 76 suara yang diperebutkan. Hasil tersebut memastikan pergantian kepemimpinan di tubuh organisasi olahraga NTB untuk empat tahun mendatang.
Sebelum sampai pada angka kemenangan, Musorprovlub berlangsung dalam dinamika yang cukup alot. Perdebatan bahkan mengemuka sejak pembahasan mekanisme pemilihan. Kubu Mori menghendaki pemungutan suara tertutup, sedangkan kubu Mohan menginginkan sistem terbuka. Hasil pengambilan suara menunjukkan 43 suara mendukung mekanisme terbuka dan 30 suara memilih mekanisme tertutup. Mekanisme terbuka akhirnya disepakati untuk menentukan ketua baru.
Dalam pemungutan suara berikutnya, dukungan terhadap Mohan kembali unggul. Pimpinan sidang, Baiq Isvie Rupaida, kemudian menetapkan hasil tersebut sebagai keputusan resmi Musorprovlub.
Di balik persaingan yang berlangsung ketat, Mohan memilih menempatkan kebersamaan sebagai pijakan awal kepemimpinannya. Ia menyadari, membangun olahraga tidak mungkin dilakukan seorang diri, terlebih ketika NTB menghadapi agenda besar sebagai tuan rumah bersama Nusa Tenggara Timur pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028.
“Saya butuh bantuan dari banyak pihak untuk membangun olahraga di NTB. Terima kasih kepada Pak Mori Hanafi, sahabat saya, atas wejangannya,” ujar Mohan saat menyampaikan visi dan misinya.
Pernyataan itu menjadi pesan penting setelah kontestasi yang membelah dukungan. Mohan menegaskan komitmennya merangkul seluruh insan olahraga, termasuk pihak-pihak yang sebelumnya mendukung Mori. Baginya, perbedaan pilihan tidak boleh menjadi sekat dalam membangun prestasi.
“ Saya tentu akan melibatkan semua teman-teman insan olahraga ini,” tegasnya.
Tantangan berikutnya adalah waktu. Bersama tim formatur, Mohan harus segera menyusun kepengurusan KONI NTB periode 2026–2030. Ia menargetkan proses tersebut rampung dalam dua minggu atau paling lambat 30 hari, sebelum konsolidasi dan percepatan program dilakukan.
Mohan juga telah memetakan tahapan kerja menuju PON 2028. Tahun 2026 difokuskan pada pemetaan, dilanjutkan pembinaan pada 2027, kemudian perjuangan prestasi pada PON 2028. Evaluasi direncanakan pada 2029, sementara 2030 menjadi momentum meninggalkan warisan kepemimpinan bagi Mohan, tugas sesungguhnya bukan lagi memenangkan pemilihan, melainkan memastikan NTB tidak sekadar menjadi tuan rumah PON 2028, tetapi juga menjadi rumah bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi.**(TK-DISKOMINFO)
