Renungan Rabu Pagi
Di tengah perubahan tren yang cepat, seorang muslimah memiliki pedoman yang lebih tinggi daripada sekadar mengikuti apa yang sedang populer. Islam mengajarkan kebersihan, kesucian, kerapian, dan penjagaan fitrah sebagai bagian dari ketaatan. Karena itu, mencintai sunnah berarti menempatkan tuntunan Rasulullah ﷺ di atas dorongan mengikuti kebiasaan yang terus berubah dalam kehidupan sehari-hari.
Islam bukan agama yang mengajarkan umatnya mengabaikan kebersihan. Sebaliknya, kebersihan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tinggal, dan lingkungan merupakan bagian dari upaya menjaga kehormatan diri sekaligus mensyukuri nikmat Allah. Seorang muslimah hendaknya menyadari bahwa merawat diri bukan semata-mata persoalan penampilan, tetapi juga bagian dari amanah yang diberikan Allah kepada setiap manusia.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa kebersihan dan kesucian memiliki nilai yang mulia di sisi Allah. Maka, seorang muslim tidak seharusnya menjadikan tren sebagai ukuran utama dalam menentukan bagaimana dirinya merawat tubuh. Apa yang sedang viral boleh saja diketahui, tetapi seorang muslim memiliki standar yang lebih tinggi, yaitu apakah sesuatu tersebut sesuai dengan syariat dan tidak bertentangan dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Di antara tuntunan menjaga kebersihan adalah memotong kuku. Rasulullah ﷺ memasukkan memotong kuku ke dalam perkara fitrah. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ
Artinya: “Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan memendekkan kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa memotong kuku bukan sekadar kebiasaan kebersihan yang bersifat budaya. Ia termasuk tuntunan fitrah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Karena itu, seorang muslimah dapat menjadikan aktivitas sederhana tersebut sebagai bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat mengikuti sunnah dan menjaga kebersihan diri.
Namun, mengikuti sunnah juga membutuhkan pemahaman yang benar. Jangan sampai seseorang hanya mengambil bagian luar dari ajaran agama, tetapi kehilangan akhlak yang seharusnya menyertainya. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa agama tidak hanya tampak dalam penampilan, tetapi juga dalam kelembutan, kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan cara seseorang memperlakukan orang lain.
Ketika melihat saudari sesama muslim melakukan sesuatu yang kurang sesuai dengan tuntunan, nasihat hendaknya diberikan dengan kelembutan dan hikmah. Allah berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya: “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan cara yang baik. Menyampaikan sunnah tidak boleh berubah menjadi sikap merendahkan, mencela, atau merasa dirinya paling suci. Justru semakin seseorang memahami sunnah, semakin seharusnya ia memiliki kerendahan hati.
Seorang muslimah juga perlu memahami bahwa mengikuti sunnah bukan berarti menolak seluruh perkembangan zaman. Islam memberikan ruang bagi manusia untuk menggunakan hal-hal yang mubah selama tidak bertentangan dengan prinsip agama. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai tren mengambil alih posisi wahyu sebagai pedoman hidup. Jangan sampai sesuatu dianggap benar hanya karena banyak orang melakukannya, dan jangan pula dianggap baik hanya karena sedang populer.
Allah mengingatkan:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
Artinya: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka.” (QS. Al-An’am: 116)
Ayat tersebut bukan berarti setiap sesuatu yang dilakukan banyak orang pasti salah. Pesan utamanya adalah seorang muslim tidak menjadikan jumlah pengikut atau popularitas sebagai ukuran kebenaran. Ukuran utama adalah petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Maka, mari menjadikan pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sebagai kesempatan untuk mendekat kepada Allah. Memotong kuku, menjaga kebersihan, merapikan diri, menjaga aurat, berbicara dengan santun, dan meninggalkan sesuatu yang tidak baik dapat menjadi bagian dari perjalanan tazkiyatun nafs apabila dilakukan dengan kesadaran iman.
Sunnah tidak selalu hadir dalam perkara besar. Kadang ia hadir dalam tindakan sederhana yang dilakukan berulang-ulang dengan ikhlas. Dari kebiasaan kecil itulah karakter seorang muslim dibentuk. Semoga Allah memberikan kepada kita kecintaan kepada sunnah, kemampuan untuk mengamalkannya dengan ilmu, serta kelembutan dalam mengajak orang lain kepada kebaikan. Jangan biarkan tren menentukan arah hidup kita. Jadikanlah Al-Qur’an dan sunnah sebagai cahaya yang menuntun setiap pilihan menuju keridaan Allah. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
