Renungan Selasa Pagi
Kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau luasnya pengaruh seseorang. Ada ketenangan yang hanya tumbuh dalam hati orang yang mengenal Allah, menikmati ibadah, merasa cukup dengan pemberian-Nya, serta menemukan kedamaian ketika mengingat dan mendekat kepada-Nya. Inilah kebahagiaan yang tidak mudah dirampas oleh keadaan dunia apa pun.
Ada ungkapan yang dinisbatkan kepada sebagian ulama salaf yang menggambarkan begitu dalamnya kenikmatan iman yang mereka rasakan: لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلَدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ “Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui kenikmatan yang kami rasakan, niscaya mereka akan memerangi kami dengan pedang untuk merebut kenikmatan itu.” Ungkapan tersebut bukan berarti kehidupan orang beriman selalu terbebas dari kesulitan. Justru kebahagiaan iman adalah kemampuan hati untuk tetap tenang, berharap, bersyukur, dan bersandar kepada Allah ketika menghadapi keadaan apa pun.
Al-Qur’an menjelaskan sumber ketenteraman itu dengan sangat jelas. Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa ketenteraman bukan semata-mata hasil dari keadaan dunia yang sempurna. Seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi hatinya gelisah. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana dapat memiliki hati yang lapang karena merasa dekat dengan Allah. Karena itu, ukuran kebahagiaan seorang mukmin tidak cukup dilihat dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari bagaimana keadaan hatinya ketika menerima nikmat maupun menghadapi ujian.
Kebahagiaan iman tumbuh melalui ibadah. Membaca Al-Qur’an, berdoa, berzikir, bersedekah, membantu sesama, menghadiri majelis ilmu, dan menegakkan salat bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan. Dengan keimanan dan taufik Allah, ibadah dapat berubah menjadi kebutuhan jiwa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kedudukan salat dalam kehidupan beliau. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dijadikan kecintaan kepadaku dari dunia ini adalah wanita dan wewangian, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam salat.” (HR. An-Nasa’i)
Salat bukan hanya gerakan fisik yang dilakukan untuk menggugurkan kewajiban. Bagi hati yang mengenal Allah, salat menjadi tempat kembali setelah menghadapi hiruk-pikuk kehidupan. Di dalamnya seorang hamba berdiri menghadap Rabb-nya, membaca firman-Nya, memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, serta menyerahkan kegelisahan yang selama ini memenuhi dadanya.
Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu:
يَا بِلَالُ، أَقِمِ الصَّلَاةَ، أَرِحْنَا بِهَا
“Wahai Bilal, tegakkanlah salat dan istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Perhatikan ungkapan tersebut. Salat disebut sebagai sarana istirahat. Secara lahiriah, orang yang salat mungkin sedang berdiri, rukuk, sujud, dan membaca bacaan dalam waktu tertentu. Namun secara batin, ia sedang melepaskan beban kepada Allah. Inilah perbedaan antara melihat ibadah hanya sebagai aktivitas fisik dan merasakan ibadah sebagai kebutuhan ruhani.
Kenikmatan seperti ini juga dapat ditemukan dalam salat malam. Allah Ta’ala berfirman:
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 17–18)
Ayat tersebut menggambarkan orang-orang saleh yang menjadikan sebagian malam sebagai kesempatan untuk mendekat kepada Allah. Ketika kebanyakan manusia terlelap, mereka bangun untuk berdoa, membaca Al-Qur’an, bersujud, dan memohon ampun. Bagi orang yang belum terbiasa, bangun malam mungkin terasa berat. Namun bagi hati yang telah mengenal manisnya bermunajat, waktu malam justru menjadi saat yang sangat berharga.
Kebahagiaan iman juga melahirkan qanaah. Qanaah bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita atau berusaha memperbaiki kehidupan. Qanaah berarti menerima pemberian Allah dengan hati yang ridha sembari tetap berikhtiar secara benar. Orang yang qanaah tidak diperbudak oleh keinginan untuk memiliki segala sesuatu.
Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Kehidupan yang baik dalam ayat ini tidak harus dimaknai sebagai kehidupan tanpa masalah. Seorang mukmin tetap dapat sakit, kehilangan, mengalami kesempitan ekonomi, menghadapi fitnah, bahkan merasakan kesedihan. Namun iman membuatnya mempunyai tempat untuk kembali. Ia tahu bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya dan setiap ujian dapat menjadi jalan mendekat kepada-Nya.
Maka jangan hanya mengejar kebahagiaan yang terlihat oleh manusia. Carilah kebahagiaan yang tumbuh dalam kesunyian ketika kita bersujud, ketika air mata jatuh karena mengingat dosa, ketika hati tenang membaca Al-Qur’an, ketika doa dipanjatkan dengan penuh harap, dan ketika kita mampu mengatakan, “Cukuplah Allah bagiku.”
Harta dapat berkurang, jabatan dapat berakhir, pujian manusia dapat berubah menjadi celaan, dan kenikmatan dunia pasti memiliki batas. Namun hati yang dipenuhi iman memiliki sumber kekuatan yang jauh lebih dalam. Semoga Allah memberikan kepada kita taufik untuk merasakan manisnya iman, lezatnya ibadah, nikmatnya qanaah, ketenangan dalam salat, serta kebahagiaan karena senantiasa dekat dengan-Nya. (dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
