Renungan Jumat Pagi
Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh sehat, berkecukupan, dan memiliki masa depan yang baik. Mencari nafkah untuk keluarga merupakan tanggung jawab yang mulia. Namun, tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada makanan, pakaian, rumah, dan biaya pendidikan. Ada amanah yang lebih dalam: membimbing iman, ibadah, akhlak, pergaulan, dan kecintaan kepada Al-Qur’an agar anak tumbuh sebagai pribadi yang mengenal Allah serta mampu menjaga dirinya.
Dalam kehidupan keluarga, bekerja keras mencari nafkah merupakan bagian penting dari tanggung jawab. Orang tua yang bersungguh-sungguh memenuhi kebutuhan keluarganya tidak boleh diremehkan. Islam justru memberikan penghargaan besar kepada orang yang menunaikan kewajiban tersebut dengan cara yang halal. Namun, kecukupan materi tidak dengan sendirinya menjamin keselamatan anak di dunia dan akhirat.
Allah berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keluarga bukan sekadar tanggungan ekonomi. Ada tanggung jawab menjaga diri dan keluarga dari keburukan yang mengantarkan kepada siksa. Menjaga keluarga berarti memberikan perhatian terhadap iman, ibadah, akhlak, lingkungan pergaulan, serta berbagai hal yang membentuk kepribadian anak.
Karena itu, orang tua jangan merasa telah selesai menunaikan kewajiban hanya karena mampu membayar uang sekolah, membelikan pakaian, menyediakan makanan, atau memberikan fasilitas kehidupan. Semua itu penting, tetapi pendidikan agama juga merupakan kebutuhan mendasar. Anak perlu dikenalkan kepada Allah sejak kecil, dibiasakan berdoa, diajari membaca Al-Qur’an, dilatih shalat, serta diberikan teladan dalam kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan kasih sayang.
Allah memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan shalat dalam keluarga. Allah berfirman dalam Surah Taha ayat 132:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Artinya: “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.”
Perhatikan pesan ayat tersebut. Perintah shalat kepada keluarga berjalan berdampingan dengan kesabaran. Artinya, mendidik anak membutuhkan proses. Orang tua tidak boleh mudah menyerah ketika anak belum sempurna dalam menjalankan ibadah. Anak perlu dibimbing dengan keteladanan, nasihat, pembiasaan, kasih sayang, sekaligus ketegasan yang proporsional.
Rasulullah ﷺ juga memberikan tuntunan tentang pendidikan shalat. Beliau bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Artinya: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa pendidikan ibadah dilakukan secara bertahap. Anak tidak tiba-tiba menjadi saleh hanya karena orang tua menginginkannya. Mereka membutuhkan contoh nyata. Jika ayah dan ibu menjaga shalat, anak memperoleh teladan. Jika rumah dipenuhi bacaan Al-Qur’an, doa, kejujuran, dan adab yang baik, anak memiliki lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa anak merupakan amanah, bukan sekadar kebanggaan. Orang tua akan mempertanggungjawabkan cara mereka memperlakukan, membimbing, dan mendidik anak. Karena itu, kesibukan mencari nafkah jangan sampai membuat pendidikan anak sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, guru, atau lingkungan.
Ada saatnya orang tua harus berhenti sejenak dari kesibukan, duduk bersama anak, mendengarkan ceritanya, menanyakan shalatnya, membimbing bacaan Al-Qur’annya, mengenali teman-temannya, serta menjelaskan mana yang baik dan mana yang harus dijauhi. Pendidikan terbaik sering kali bukan berupa ceramah panjang, melainkan keteladanan yang dilihat anak setiap hari.
Maka, jangan hanya bertanya, “Sudahkah aku memberi makan anakku?” Tetapi tanyakan pula, “Sudahkah aku mengenalkan Allah kepadanya? Sudahkah aku mengajarinya shalat? Sudahkah aku membimbingnya mencintai Al-Qur’an? Sudahkah aku menjadi teladan akhlak baginya?”
Nafkah memenuhi kebutuhan jasmani, sedangkan pendidikan iman dan akhlak membimbing perjalanan hidupnya. Keduanya harus berjalan bersama. Sebab anak bukan hanya membutuhkan bekal untuk hidup di dunia, tetapi juga membutuhkan bekal untuk menghadap Allah.
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, mencintai Al-Qur’an, menjaga shalat, serta menjadi amal jariah bagi kedua orang tuanya. Dan semoga setiap rupiah nafkah yang halal, setiap nasihat yang baik, setiap doa, serta setiap keteladanan yang diberikan kepada anak menjadi bagian dari amal yang kelak memperberat timbangan kebaikan kita di hadapan Allah. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
