Renungan Ahad Pagi:
Sempitnya dada tidak selalu disebabkan oleh beratnya persoalan hidup, kekurangan harta, atau buruknya keadaan. Adakalanya, kegelisahan tumbuh ketika hati menjauh dari Allah, menggantungkan kebahagiaan kepada makhluk, dan melupakan zikir kepada-Nya. Cinta yang berlebihan kepada dunia dapat memenjarakan jiwa. Karena itu, ketenteraman sejati perlu dicari dengan memperbaiki iman, meluruskan cinta, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam kehidupan ini, setiap manusia mendambakan ketenangan. Kita ingin hati yang lapang, pikiran yang jernih, keluarga yang tenteram, rezeki yang berkah, serta masa depan yang memberikan harapan. Namun, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ada persoalan yang datang bertubi-tubi, harapan yang belum terwujud, kehilangan yang menyakitkan, dan perlakuan manusia yang meninggalkan luka mendalam. Semua itu dapat membuat dada terasa sesak dan pikiran dipenuhi kegelisahan.
Dalam perspektif Islam, salah satu sumber ketenteraman adalah kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, berpaling dari petunjuk-Nya, lalai mengingat-Nya, dan menjadikan dunia sebagai pusat seluruh harapan dapat membuat hati kehilangan arah. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Zaadul Ma’ad, jilid 2, halaman 29, membahas penderitaan yang muncul ketika hati terlalu bergantung dan mencintai sesuatu selain Allah. Gagasan ini mengingatkan kita bahwa sesuatu yang dicintai secara berlebihan dapat berubah menjadi sumber kegelisahan.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini menunjukkan bahwa zikir bukan sekadar ucapan yang diulang-ulang, melainkan jalan untuk menyadarkan hati tentang siapa Tuhan yang menjadi tempat bergantung. Zikir yang benar semestinya menghidupkan kesadaran, memperbaiki perilaku, menumbuhkan kesabaran, dan menguatkan keyakinan bahwa kehidupan berada dalam pengetahuan serta ketetapan Allah.
Berpaling dari Allah tidak selalu berarti seseorang meninggalkan ibadah sepenuhnya. Ada kalanya seseorang tetap salat, bekerja, dan menjalankan berbagai kegiatan keagamaan, tetapi hatinya sepenuhnya dikuasai kecemasan terhadap harta, kedudukan, penilaian manusia, atau ketakutan kehilangan sesuatu yang dicintainya. Ia merasa hidupnya baru berharga ketika memperoleh pujian, kekayaan, atau pengakuan. Ketika semua itu terganggu, ketenteramannya ikut runtuh.
Allah mengingatkan dalam firman-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Artinya: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124).
Kehidupan yang sempit tidak harus berarti miskin secara materi. Seseorang dapat memiliki rumah megah, kendaraan bagus, jabatan tinggi, dan harta berlimpah, tetapi tetap merasa kosong. Sebaliknya, orang yang hidup sederhana dapat merasakan kelapangan karena mampu menerima karunia Allah, bersyukur atas yang dimiliki, dan tidak membiarkan keinginannya melampaui batas kewajaran.
Namun, kita juga harus berhati-hati dalam memahami ayat tersebut. Tidak setiap kegelisahan berarti seseorang sedang jauh dari Allah. Orang beriman pun dapat mengalami kesedihan, kecemasan, tekanan hidup, dan persoalan kesehatan mental. Para nabi sendiri menghadapi kesedihan serta ujian berat. Karena itu, jangan mudah menghakimi orang yang sedang menderita, melainkan hadirkan empati, pertolongan, doa, dan dukungan yang dibutuhkan.
Persoalan berikutnya adalah hati yang bergantung kepada selain Allah. Mencintai pasangan, menyayangi anak, menghormati orang tua, menjaga persahabatan, dan bekerja untuk memperoleh rezeki bukanlah kesalahan. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan yang dapat bernilai ibadah. Masalah muncul ketika kecintaan tersebut melampaui batas, sehingga seseorang mengorbankan prinsip kebenaran, menghalalkan segala cara, atau merasa hidupnya tidak lagi bermakna tanpa seseorang maupun sesuatu.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
Artinya: “Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, menghimpun urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kemiskinan di hadapannya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sebatas yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2465).
Hadis ini mengajarkan pentingnya menata prioritas. Dunia bukan sesuatu yang harus dibenci atau ditinggalkan. Kita tetap perlu bekerja, membangun usaha, mendidik anak, menjaga kesehatan, dan memperjuangkan kesejahteraan. Akan tetapi, semua itu hendaknya menjadi sarana untuk berbuat baik, bukan tujuan yang menguasai seluruh kehidupan. Ketika akhirat menjadi orientasi, urusan dunia ditempatkan secara proporsional dan dijalani dengan tanggung jawab.
Lalai dari mengingat Allah juga dapat membuat seseorang kehilangan pegangan ketika menghadapi masalah. Pikiran terus berputar memikirkan kemungkinan terburuk, hati dipenuhi penyesalan atas masa lalu, dan waktu habis untuk mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi. Dalam keadaan demikian, zikir, doa, membaca Al-Qur’an, salat, dan muhasabah dapat membantu menata kembali batin. Semua itu bukan jaminan bahwa persoalan langsung selesai, tetapi menjadi jalan untuk menguatkan iman dan menghadapi kenyataan dengan lebih bijaksana.
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152).
Mengingat Allah hendaknya disertai rasa syukur. Syukur bukan berarti menutup mata terhadap kesulitan atau berpura-pura bahagia ketika sedang terluka. Syukur berarti tetap menyadari nikmat yang masih ada, sekalipun sebagian harapan belum tercapai. Seseorang boleh menangis, mengadukan kesedihan, meminta bantuan, dan berusaha mengubah keadaan, tanpa kehilangan keyakinan kepada rahmat Allah.
Karena itu, ketika dada terasa sempit, marilah kita melakukan pemeriksaan batin. Apakah kita terlalu menggantungkan kebahagiaan kepada penilaian manusia? Apakah kita terus mengejar sesuatu hingga melupakan keluarga, kesehatan, ibadah, dan tanggung jawab? Apakah kita sulit menerima kenyataan karena menganggap keinginan sendiri harus selalu terwujud? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri secara berlebihan, melainkan untuk menemukan bagian kehidupan yang perlu diperbaiki.
Mulailah dengan langkah sederhana. Jagalah salat, biasakan berzikir, bacalah Al-Qur’an dengan memahami maknanya, perbanyak istigfar, dan berdoalah dengan jujur. Belajarlah melepaskan sesuatu yang memang tidak dapat dipaksakan. Perbaiki hubungan dengan sesama, mintalah maaf jika bersalah, dan jangan ragu mencari pertolongan ketika beban hidup terasa terlalu berat. Jika kegelisahan berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga profesional juga merupakan ikhtiar yang patut dilakukan.
Kelapangan dada bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan menghadapi masalah tanpa kehilangan arah dan harapan. Cinta kepada Allah tidak mengharuskan kita berhenti mencintai manusia, tetapi mengajarkan agar cinta kepada manusia tidak menggeser ketaatan kepada-Nya. Harta boleh dicari, jabatan boleh diperjuangkan, dan cita-cita boleh diraih, tetapi jangan sampai semuanya menjadi penguasa hati.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari ketergantungan yang berlebihan kepada dunia, membimbing kita agar mencintai segala sesuatu secara proporsional, dan mengaruniakan ketenteraman dalam menjalani kehidupan. Sebab, hati yang dekat kepada Allah akan terus belajar bersabar ketika kehilangan, bersyukur ketika memperoleh nikmat, dan berharap ketika menghadapi kesulitan. Bukan karena ia tidak pernah terluka, melainkan karena ia mengetahui ke mana harus kembali dan kepada siapa seharusnya menggantungkan harapan. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
