MATARAM – Mereka tidak ingin sekadar menjadi penonton ketika kekerasan terjadi di lingkungan sekitarnya. Mereka memilih bersuara, menyatakan sikap, dan mengambil bagian dalam menjaga kedamaian kota. Melalui sebuah deklarasi, Forum OSIS SMP se-Kota Mataram menegaskan satu pesan penting: tidak ada ruang bagi tindakan kekerasan di Kota Mataram!
Deklarasi yang dibacakan di Ruang Kenari, Kantor Wali Kota Mataram, pada Senin (02/11/26) itu menjadi pernyataan sikap sekaligus komitmen bersama para pelajar untuk mengambil peran sebagai pelopor kedamaian. Bukan sekadar seremonial, deklarasi tersebut lahir dari keprihatinan, kesadaran, dan tanggung jawab generasi muda terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
“Deklarasi ini kami sampaikan dengan penuh keprihatinan, kesadaran, dan tanggung jawab sebagai wujud komitmen bersama dalam menjaga Kota Mataram yang aman, damai, dan bermartabat,” demikian salah satu penegasan dalam deklarasi tersebut.
Bagi Forum OSIS, menolak kekerasan tidak cukup hanya dengan menyampaikan kecaman. Diperlukan keberanian untuk membangun kesadaran, mengajak sesama pelajar saling menjaga, serta menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat dan saling menghargai.
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, dalam audiensi bersama Forum OSIS SMP se-Kota Mataram. Pertemuan yang berlangsung hangat itu turut dihadiri Asisten I Setda Kota Mataram, H. L. Martawang, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, H. Yusuf, beserta jajaran, Kadiskominfo Kota Mataram, H.M Ramadhani, serta para guru pembina OSIS.
Mohan menilai keberanian para pelajar menyatakan sikap terhadap persoalan kekerasan merupakan cerminan karakter positif. Mereka tidak hanya menunjukkan kepedulian, tetapi juga kesediaan mengambil tanggung jawab atas lingkungan tempat mereka tumbuh.
Di hadapan para pengurus OSIS, orang nomor satu di Kota Mataram ini mengingatkan bahwa anak muda tidak perlu mencari eksistensi melalui tindakan yang keliru, apalagi dengan melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Eksistensi dan pengakuan justru dapat dibangun melalui kegiatan positif, aktivitas yang bermanfaat, serta berbagai pencapaian yang memberikan nilai bagi diri sendiri maupun lingkungan.
Menurutnya, pengakuan tidak harus dikejar dengan cara instan. Ia akan datang dengan sendirinya ketika seseorang konsisten, disiplin, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan hal-hal baik. Prestasi, pada akhirnya, menjadi salah satu bentuk pembuktian terbaik atas kualitas diri.
Mohan menitipkan sejumlah pesan tentang pentingnya disiplin, menghargai waktu, serta membangun karakter sejak usia sekolah.
“Kalau kalian tidak terlalu cerdas, kemampuan kalian mungkin tidak terlalu baik, hadapi dan lawan itu dengan disiplin. Hargai waktu, atur waktu kalian dengan baik, karena waktu berjalan begitu cepat,” pesannya.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terbawa arus tren atau fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Menurutnya, kemampuan menentukan pilihan harus dibangun dengan berpegang pada etika dan adab.
“Kalau kalian merasa tidak perlu terhadap sesuatu yang sedang menjadi tren, tidak usah ikut-ikutan. Lawanhal tersebut dengan etika dan adab. Itu jauh lebih mulia dan lebih baik. Etika dan adab itu penting sekali, bahkan lebih tinggi daripada ilmu,” tegasnya.
Mohan juga mengajak para pelajar untuk saling merangkul dan mengingatkan satu sama lain demi kebaikan bersama. Ia turut mengapresiasi inovasi Forum OSIS berupa website dan aplikasi posko pengaduan yang dihadirkan sebagai ruang dengar atau tempat pelajar menyampaikan keluhan dan persoalan yang mereka hadapi.
“Ini sangat luar biasa. Platform ini menunjukkan bahwa pelajar Kota Mataram memiliki kecerdasan analisis dan kecerdasan kreatif hingga mampu mengurai persoalan dan memberikan solusi melalui platform ini” pungkasnyanya dengan senyum sumringah.
Sementara itu, Ketua Forum OSIS SMP Kota Mataram, Adriene, menyampaikan apresiasi atas kesempatan berdialog langsung dengan Wali Kota. Menurutnya, pertemuan tersebut semakin memompa semangat seluruh pengurus OSIS untuk terus melakukan hal positif, menebar kebaikan, dan mengukir prestasi.
“Deklarasi ini menjadi pengingat bahwa membangun kota yang aman dan damai bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Pelajar pun memiliki peran penting melalui sikap, tindakan, dan keberanian untuk saling menjaga.” jelas Siswi SMPN 7 Kota Mataram ini.
Sebab, melawan kekerasan tidak selalu dimulai dengan tindakan besar. Terkadang, ia bermula dari keberanian untuk menolak, kepedulian untuk mengingatkan, dan ketulusan untuk merangkul sesama.
Dari ruang sekolah, suara itu kini bergema: Mataram harus menjadi rumah yang aman bagi semua. Sebab, eksistensi generasi muda bukan diukur dari seberapa keras mereka menunjukkan diri, melainkan dari seberapa besar kebaikan dan prestasi yang mampu mereka ukir.**(TK-DISKOMINFO)
