NTB, 28 Januari 2026 – Nama Herianto, politisi muda Partai Golkar sekaligus Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Nusa Tenggara Barat, kian menguat di tengah dinamika politik lokal. Mantan aktivis mahasiswa yang dikenal luas di NTB ini disebut-sebut masyarakat sebagai figur paling potensial untuk memimpin Desa Bukit Perigi, Kecamatan Suela, meskipun hingga kini ia belum menyatakan sikap ataupun komitmen politik secara terbuka.
Herianto bukan sosok baru dalam dunia pergerakan dan kepemimpinan. Ia tercatat sebagai mantan aktivis berpengaruh, pernah terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa dan organisasi kepemudaan, hingga kini dipercaya memegang posisi strategis di tubuh Partai Golkar NTB. Rekam jejak panjang itu menjadikannya figur yang disegani, baik di kalangan pemuda maupun tokoh masyarakat.
Menariknya, meski belum menyampaikan pernyataan resmi terkait pencalonan, dorongan masyarakat agar Herianto maju sebagai Kepala Desa Bukit Perigi terus menguat. Bahkan, dalam bursa bakal calon yang berkembang di tengah masyarakat, Herianto disebut sebagai satu-satunya kandidat termuda dengan tingkat elektabilitas paling tinggi.
Berdasarkan data survei internal dan aspirasi warga yang disampaikan secara terbuka di tingkat desa, Herianto memperoleh dukungan suara paling besar dibandingkan nama-nama lain yang sempat mencuat. Kondisi ini membuatnya dinilai memiliki peluang besar untuk memenangkan kontestasi apabila resmi maju.
“Beliau adalah anak desa yang kami kenal integritas dan keberaniannya sejak lama. Langkah-langkah politiknya tenang, terukur, dan tidak reaktif,” ujar salah satu tokoh masyarakat Bukit Perigi.
Sebagai anak desa yang tumbuh dari lingkungan akar rumput, Herianto dikenal tetap menjaga kedekatan dengan masyarakat meski kini berada di level politik yang lebih luas. Pendekatan komunikatif, latar belakang aktivisme, serta posisinya di organisasi kepemudaan partai membuatnya dipandang mampu menjembatani kepentingan rakyat dengan kebijakan yang progresif.
Pengamat politik lokal menilai, fenomena Herianto mencerminkan transformasi aktivisme ke jalur politik elektoral, di mana figur muda dengan legitimasi sosial kuat menjadi alternatif kepemimpinan desa ke depan.
“Jika Herianto maju, ini akan menjadi contoh bagaimana kader muda dengan basis moral dan sosial yang kuat dapat menjadi pemimpin desa yang visioner,” kata seorang pengamat.
Hingga berita ini diturunkan, Herianto belum memberikan pernyataan resmi terkait pencalonannya. Sikap diam tersebut justru dinilai memperkuat posisinya sebagai figur yang matang secara politik dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
Masyarakat kini menunggu langkah berikutnya dari Herianto, seorang anak desa yang disegani, politisi muda Golkar, dan mantan aktivis yang bertransformasi menjadi harapan baru kepemimpinan lokal.
