Mataram – Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Nusa Tenggara Barat periode 2025–2030, Dr. Lalu Muhamad Iqbal Murad, M.A., menjadi narasumber dalam PLUT Podcast NTB pada Selasa pagi (28/4/2026). Mengangkat tema “UMKM Berdaya, Umat Sejahtera”, dialog ini menyoroti peran strategis zakat dalam penguatan ekonomi kerakyatan.
Podcast yang dipandu oleh Santi Meitasari, S.T., M.Entre, selaku penanggung jawab PLUT KUMKM NTB, menghadirkan diskusi hangat mengenai transformasi zakat dari sekadar ibadah menjadi instrumen pembangunan ekonomi umat.
Dalam pemaparannya, Iqbal Murad menegaskan bahwa BAZNAS merupakan lembaga pemerintah nonstruktural yang memiliki mandat menghimpun serta menyalurkan zakat, infak, dan sedekah kepada masyarakat yang berhak. Ia merujuk pada ketentuan dalam Surah At-Taubah ayat 60 yang menetapkan delapan golongan penerima zakat (asnaf), seperti fakir, miskin, hingga musafir.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pola distribusi zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif melalui program pemberdayaan ekonomi.
“Kalau konsumtif itu seperti memberi ikan, maka pemberdayaan adalah memberi kail. Kita ingin mustahik tidak hanya bertahan hari ini, tetapi mampu mandiri di masa depan,” ujarnya.
BAZNAS NTB saat ini menjalankan sejumlah program unggulan, di antaranya:
• NTB Cerdas: bantuan pendidikan bagi mahasiswa kurang mampu
• NTB Makmur: pemberdayaan UMKM melalui bantuan modal dan sarana usaha
• Program lumbung pangan, gerobak usaha, hingga Z-Coffee untuk mendukung wirausaha muda
Melalui program tersebut, BAZNAS juga menggandeng berbagai pihak, termasuk PLUT NTB dan perbankan syariah, guna memastikan keberlanjutan usaha para penerima manfaat.
Iqbal mengakui bahwa tantangan terbesar bukan pada penyaluran bantuan, melainkan menjaga keberlanjutan usaha. Oleh karena itu, BAZNAS menyiapkan pendampingan intensif dan membuka akses permodalan lanjutan bagi UMKM yang berkembang.
Potensi zakat di NTB dinilai sangat besar, mencapai sekitar Rp200 miliar per tahun jika dihimpun secara optimal dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Dana tersebut telah dimanfaatkan untuk berbagai program, termasuk pembangunan rumah layak huni dan pemberdayaan ekonomi desa.
Dalam kesempatan tersebut, Iqbal juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan PLUT NTB, untuk memperluas jenis usaha dan meningkatkan kualitas pelaku UMKM.
BAZNAS NTB mengusung visi besar: transformasi mustahik menjadi muzakki. Artinya, penerima zakat diharapkan suatu saat mampu menjadi pemberi zakat.
“Zakat hari ini bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi instrumen strategis pembangunan. Kita ingin mengentaskan kemiskinan, bukan sekadar memeliharanya,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mempercayakan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS, yang terus meningkatkan transparansi melalui platform digital dan laporan berkala.
Diskusi ini menegaskan bahwa sinergi antara zakat, UMKM, dan kebijakan pemerintah daerah dapat menjadi kunci dalam membangun ekonomi umat yang kuat dan berkelanjutan di NTB.
Dengan pendekatan pemberdayaan yang terarah, BAZNAS optimistis mampu menciptakan lebih banyak pelaku usaha mandiri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis keumatan. (Tim KM Mataram)
