Kegiatan KKN KKB Unram dilaksanakan di wilayah Labuhan Lombok, yang merupakan salah satu kawasan pesisir dengan aktivitas tambak udang vannamei yang cukup intensif. Dalam proses observasi awal, ditemukan adanya permasalahan lingkungan yang cukup signifikan, yaitu menumpuknya limbah kulit udang hasil kegiatan tambak. Limbah tersebut dalam jumlah besar tidak dikelola secara optimal sehingga menimbulkan dampak lingkungan berupa bau menyengat serta meningkatnya populasi lalat di sekitar area tambak. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan masyarakat dan pekerja tambak, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas lingkungan pesisir apabila tidak segera ditangani.
Berdasarkan permasalahan tersebut, tim KKN berupaya melakukan inovasi melalui pemanfaatan limbah kulit udang menjadi produk yang lebih bernilai guna, yaitu pupuk organik cair (POC). Inovasi ini dipilih karena selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, juga memberikan manfaat ekonomi dan pertanian bagi masyarakat sekitar. Pemilihan produk pupuk organik cair didasarkan pada kondisi wilayah Labuhan Lombok yang memiliki banyak petani hortikultura, khususnya petani cabai dan tomat. Kedua jenis tanaman tersebut membutuhkan suplai unsur hara yang cukup tinggi, sehingga POC dari limbah kulit udang dinilai sangat relevan untuk mendukung produktivitas pertanian lokal.
Proses pembuatan pupuk organik cair dilakukan secara bertahap. Tahap awal dimulai dengan pengumpulan kulit udang vannamei sebanyak 500 gram yang kemudian dicuci hingga bersih untuk menghilangkan kotoran dan sisa bau. Setelah itu, kulit udang dijemur sebentar agar kadar air berkurang tanpa menghilangkan kandungan organiknya secara keseluruhan. Selanjutnya, bahan dicacah menggunakan blender hingga berukuran lebih kecil untuk mempercepat proses fermentasi. Hasil cacahan kemudian ditimbang sesuai takaran yang telah ditentukan. Pada tahap berikutnya, dibuat larutan fermentasi dengan mencampurkan molase sebanyak 200 ml dan EM4 sebanyak 50 ml, lalu diaduk hingga homogen agar mikroorganisme dapat aktif dengan optimal.
Setelah larutan starter siap, ditambahkan air cucian beras sebanyak 2 liter dan air bersih sebanyak 3 liter ke dalam campuran. Seluruh bahan kemudian diaduk menggunakan sendok kayu hingga merata dan tidak terdapat gumpalan. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah fermentasi berupa galon, lalu ditutup rapat namun tetap diberi ruang untuk keluarnya gas hasil fermentasi. Proses fermentasi dilakukan selama 7–12 hari di tempat yang teduh. Selama proses berlangsung, dilakukan monitoring harian dengan membuka sedikit wadah untuk mengeluarkan gas agar tekanan di dalam galon tetap stabil. Keberhasilan fermentasi ditandai dengan aroma khas seperti tape, tidak berbau busuk, serta perubahan warna menjadi cokelat kehitaman.
Setelah pupuk organik cair berhasil dibuat, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi kepada para pekerja tambak dan masyarakat sekitar di Labuhan Lombok. Edukasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai manfaat pengolahan limbah kulit udang menjadi produk yang bernilai guna, sekaligus mengenalkan cara pembuatan dan pemanfaatan POC dalam kegiatan pertanian. Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan bahwa pupuk organik cair ini dapat digunakan pada tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, terong, sawi, dan kangkung yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Selain itu, POC juga bermanfaat untuk tanaman buah seperti Pepaya dan Pisang, karena mampu membantu meningkatkan kesuburan tanah serta ketahanan tanaman terhadap penyakit. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya pengelolaan limbah serta mampu memanfaatkan sumber daya lokal secara lebih produktif dan berkelanjutan
