Ketika urusan dunia datang bertubi-tubi, ketika hati terasa sempit karena beban kehidupan, ketika tugas sebagai orang tua, pasangan, atau pencari nafkah terasa begitu berat, sering kali kita lupa bahwa sesungguhnya kita sedang menempuh perjalanan yang sangat singkat. Kita terlalu sibuk menggenggam apa yang tidak akan pernah benar-benar menjadi milik kita. Padahal seluruh kehidupan ini hanyalah amanah dari Allah yang suatu saat pasti akan diminta kembali oleh-Nya.
Ada saat-saat dalam hidup ketika dada terasa sesak oleh berbagai urusan dunia. Pikiran dipenuhi kekhawatiran tentang masa depan anak-anak, kebutuhan keluarga, kesehatan, pekerjaan, dan berbagai persoalan lainnya. Seolah-olah seluruh beban kehidupan berada di pundak kita. Pada saat seperti itulah seorang mukmin perlu berhenti sejenak, menenangkan hati, lalu mengingat kembali hakikat keberadaan dirinya di dunia.
Allah mengingatkan manusia bahwa ketika datang ke dunia, kita tidak membawa apa-apa. Kita lahir dalam keadaan lemah, tanpa harta, tanpa jabatan, tanpa pengikut, bahkan tanpa pakaian. Dan ketika meninggalkan dunia pun, kita akan kembali dengan keadaan yang hampir sama. Semua yang selama ini kita banggakan akan tertinggal.
Allah berfirman:
﴿وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ﴾
“Dan sungguh, kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakan kamu pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.”
(QS. Al-An’am: 94)
Ayat ini menjadi pengingat yang sangat kuat bahwa tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi milik kita. Rumah yang kita tempati, kendaraan yang kita gunakan, tabungan yang kita kumpulkan, bahkan pasangan dan anak-anak yang sangat kita cintai, semuanya adalah titipan Allah. Kita hanya diberi kesempatan untuk menjaganya selama waktu yang ditentukan.
Ketika seseorang memahami hakikat ini, maka beban hidup akan terasa lebih ringan. Ia tidak lagi menggantungkan kebahagiaannya kepada sesuatu yang fana. Ia menyadari bahwa tugasnya bukan memiliki, melainkan menjaga amanah dengan sebaik-baiknya.
Di antara amanah terbesar yang diberikan Allah kepada manusia adalah tugas menjadi khalifah di muka bumi. Setiap orang memiliki bentuk amanah yang berbeda. Ada yang diberi amanah sebagai ayah, ibu, guru, pemimpin, pekerja, atau anggota masyarakat. Semua itu adalah ladang ibadah yang Allah siapkan.
Allah berfirman:
﴿وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً﴾
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.'”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Bagi seorang ibu, merawat anak bukan sekadar pekerjaan harian yang melelahkan. Itu adalah bagian dari tugas kekhalifahan. Menyiapkan makanan, mendidik akhlak, mengajarkan kebaikan, dan menemani tumbuh kembang anak merupakan amal besar yang sering kali tidak terlihat oleh manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.
Begitu pula bagi seorang ayah yang bekerja keras demi keluarganya. Keringat yang menetes dalam mencari nafkah halal bukanlah sesuatu yang sia-sia. Semua itu dicatat sebagai ibadah apabila dilakukan karena Allah.
Karena itu jangan pernah merasa hidup kita tidak berarti hanya karena tidak memiliki pencapaian dunia yang dianggap hebat oleh manusia. Nilai seseorang di sisi Allah tidak diukur dari kemewahan hidupnya, melainkan dari ketakwaan dan keikhlasannya.
Sayangnya, banyak manusia tertipu oleh standar dunia. Mereka mengira kebahagiaan terletak pada banyaknya harta, luasnya rumah, tingginya jabatan, atau pujian manusia. Padahal semua itu hanyalah perhiasan sementara.
Allah berfirman:
﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ﴾
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan melarang manusia memiliki harta atau menikmati nikmat Allah. Namun Allah mengingatkan agar hati tidak terikat kepada semuanya. Sebab apa yang hari ini membuat manusia bangga, esok bisa lenyap dalam sekejap.
Betapa banyak orang kaya yang kehilangan hartanya. Betapa banyak orang terkenal yang dilupakan. Betapa banyak bangunan megah yang akhirnya menjadi reruntuhan. Semua itu menunjukkan bahwa dunia memang tidak dirancang untuk menjadi tempat tinggal abadi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang pengembara yang sedang melewati jalan.”
(HR. Bukhari)
Seorang pengembara tidak akan terlalu sibuk menghias tempat singgahnya. Ia sadar bahwa tujuannya bukan di sana. Demikian pula seorang mukmin. Ia memanfaatkan dunia secukupnya sebagai bekal menuju kehidupan yang lebih kekal.
Suatu hari nanti, seluruh tugas yang kita jalani akan selesai. Anak-anak tumbuh dewasa. Tanggung jawab berakhir. Tubuh menjadi lemah. Rambut memutih. Dan pada saat yang telah ditentukan, kematian datang menjemput.
Bagi orang yang beriman, kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Kematian adalah pintu menuju perjumpaan dengan Allah.
Allah berfirman:
﴿يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴾
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.”
(QS. Al-Fajr: 27-28)
Alangkah indahnya panggilan itu. Setelah bertahun-tahun menjalani perjuangan hidup, seorang hamba yang beriman akhirnya dipanggil pulang oleh Rabb yang selama ini ia sembah, cintai, dan harapkan rahmat-Nya.
Karena itulah, tidak mengherankan jika kita sering merasa lelah selama hidup di dunia. Dunia memang bukan tempat istirahat yang sesungguhnya. Dunia adalah tempat ujian, perjuangan, dan pengabdian.
Allah berfirman:
﴿وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ﴾
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
(QS. Al-Ankabut: 64)
Maka jika hari ini hati terasa sesak, jangan biarkan kesedihan menguasai jiwa. Ingatlah bahwa semua yang sedang terjadi adalah bagian dari perjalanan menuju Allah. Tidak ada air mata yang sia-sia. Tidak ada kesabaran yang terbuang. Tidak ada pengorbanan yang luput dari pengetahuan-Nya.
Tetaplah melangkah dengan iman. Tetaplah berbuat baik meski tidak dihargai manusia. Tetaplah menjaga amanah meski terasa berat. Sebab setiap langkah menuju ketaatan sedang mengantarkan kita semakin dekat kepada kampung halaman yang sesungguhnya.
Dan ketika suatu hari perjalanan ini berakhir, semoga Allah menyambut kita dengan panggilan yang paling indah: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu.” Saat itulah seluruh kelelahan dunia akan berubah menjadi kebahagiaan yang tidak pernah berakhir. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
