DESA BERDAYA TRANSFORMATIF – 01
JEJAK KEHIDUPAN YANG MELAHIRKAN GAGASAN
Warisan Empati dari Pasar Senggol
Jejak gagasan membawa kita ke Kota Pasuruan pada dekade 1950-an. Di Pasar Senggol, salah satu pasar tertua di kota itu, denyut kehidupan berlangsung sejak pagi. Para petani datang membawa hasil bumi dari lereng Gunung Bromo. Pedagang kecil menjajakan kerupuk, tembakau, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Buruh, ibu rumah tangga, hingga para pencari nafkah bertemu di pasar.
Di tengah kehidupan pasar, Hajjah Sofijah membesarkan putri tunggalnya, Hajjah Alimah. Hajjah Sofijah tidak hanya mengajarkan putrinya cara berdagang. Ia mengajarkan cara melihat manusia. Hajjah Alimah menyaksikan langsung, bagaimana kerja keras dan memahami bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, untuk keluar dari keterbatasan. Dari sanalah empati mulai tumbuh, bukan sebagai teori, melainkan sebagai pengalaman hidup.
Hajjah Alimah tumbuh besar bersama tiga putra Kiai Haji Abdul Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid. Seorang ulama kharismatik yang dikenal karena karomah dan kewaliannya. Karena Mbah Hamidlah, Ayah Hajjah Alimah luluh dan mengizinkan putri kesayangannya menikah dan di bawa ke Praya, Lombok Tengah.
Hajjah Alimah meneruskan apa yang di ajarkan di Pasuruan kepada putranya. Lalu Muhamad Iqbal. Sejak kecil, ia tidak dibesarkan berjarak dengan lingkungannya. Ayahnya yang dikenal sebagai tokoh masyarakat kerap mengajaknya bertemu keluarga, kerabat, dan warga dari berbagai lapisan kehidupan.
Hajjah Alimah sering mengajak putranya berinteraksi dengan masyarakat di berbagai pelosok, mendampingi kegiatan penelitian pertanian, bekerja bersama NGO asing dan lokal, dan melihat langsung kehidupan masyarakat desa dengan segala harapan dan keterbatasannya.
Pengalaman-pengalaman itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
_”Yang saya alami pada masa kecil itu melekat di hati dan pikiran saya.”_
Kalimat itu bukan sekadar kenangan tentang masa lalu. Ia menjadi penjelasan mengapa, bertahun-tahun kemudian, ketika berbicara tentang kemiskinan, yang terbayang bukanlah angka statistik, melainkan wajah-wajah manusia yang pernah ditemuinya sejak kecil. Cara pandang itulah yang menjadi benih pertama dari gagasan yang kelak dikenal sebagai Desa Berdaya Transformatif.
Pesantren yang Menanamkan Nilai Pengabdian
“Saya meninggalkan kampung halaman usia 14 tahun,”
Usia empat belas tahun, perjalanan hidup Lalu Muhammad Iqbal memasuki babak baru. Ia meninggalkan Lombok ke Pondok Pesantren Assalam di Solo. Setiap libur mondok, Kiai Haji Idris Hamid memintanya nyambung belajar kitab-kitab dan nyantri di Pondok Pesantren Salafiah. Pondok pesantren ini di dirikan Mbah Hamid pada tahun 1951. Lalu Muhammad Iqbal, sudah seperti cucu sendiri, karna ia anak laki laki pertama dari Hajjah Alimah. Putri tunggal yang juga di besarkan oleh Mbah Hamid.
Di sana, Kiai Idris Hamid tidak membiarkannya pulang pada masa liburan sebagaimana biasanya santri. Hari-hari libur justru diisi dengan memperdalam kitab-kitab yang belum dipelajari. Kesempatan kembali ke Lombok hanya diberikan saat Idulfitri.
Dibesarkan oleh nilai-nilai pesantren, juga kegigihan seorang ibu tunggal membentuk cara pandangnya. Pembangunan, sebagaimana kepemimpinan, pada akhirnya bukan semata-mata soal menghasilkan angka-angka keberhasilan. Pembangunan adalah tentang menghadirkan kemaslahatan bagi manusia. Pemahaman itu kemudian menjadi bekal yang terus dibawanya ketika perjalanan hidup mengantarkannya melintasi berbagai negara sebagai seorang diplomat.
Melihat Dunia, Memahami Pembangunan
Perjalanan hidup kemudian membawanya melampaui batas-batas kampung halaman. Selama hampir tiga dekade mengabdi sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal mendapat kesempatan melihat berbagai negara dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Penugasan itu mempertemukannya dengan beragam cara sebuah negara membangun masyarakatnya, mengelola sumber daya, serta menghadirkan kebijakan publik bagi warganya.
Pengalaman tersebut memperluas cara pandangnya. Ia menyaksikan bahwa pembangunan yang berhasil tidak pernah bertumpu pada satu program atau satu lembaga saja. Di berbagai negara, perlindungan sosial bukan sekadar penyaluran bantuan.
Bantuan diberikan menjawab kebutuhan mendesak, tetapi pada saat yang sama negara berupaya membangun kemampuan masyarakat agar mampu mandiri melalui pendidikan, kesehatan, keterampilan, kesempatan kerja, dan penguatan ekonomi keluarga. Pendekatan yang menyeluruh itulah yang membuat pembangunan memiliki dampak yang berkelanjutan.
Semakin luas pengalaman yang diperolehnya, semakin kuat pula keyakinannya bahwa setiap daerah memiliki jalan pembangunannya sendiri. Apa yang berhasil di satu tempat tidak selalu dapat diterapkan begitu saja di tempat lain. Setiap kebijakan harus lahir dari pemahaman terhadap karakter masyarakat, budaya, dan persoalan yang dihadapi.
Di tengah berbagai pengalaman internasional itu, pikirannya tidak pernah benar-benar jauh dari Nusa Tenggara Barat. Ingatan tentang desa-desa yang pernah ia kunjungi, keluarga-keluarga yang hidup dalam keterbatasan, serta wajah-wajah masyarakat yang dikenalnya sejak kecil tetap menjadi bagian dari perenungannya.
Justru karena melihat dunia, ia semakin memahami bahwa setiap daerah memiliki potensi untuk maju apabila mampu tegak dengan kekuatannya sendiri.
Pengalaman internasional tidak mengubah nilai-nilai yang diwariskan keluarga dan ditempa di pesantren. Sebaliknya, pengalaman memperkaya cara pandang bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang bekerja secara nyata.
Pulang Kampung Membawa Sebuah Misi
Jauh sebelum memutuskan pulang, keinginan pulang kampung sudah jadi bagian dari rencana hidupnya. Bahkan ketika hendak menikah, pertanyaan pertama yang ia ajukan kepada calon istrinya bukanlah tentang tempat tinggal atau pekerjaan, melainkan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan arah hidupnya.
“Apakah kamu siap mendampingi saya pulang kampung?”
Jawaban yang diterimanya menjadi sebuah kesepakatan hidup bersama. Tekad yang di tanam. Karena pulang adalah tujuan hidup.
Pertanyaan tentang mengapa di tengah begitu banyak program pembangunan dan bantuan yang telah diberikan selama puluhan tahun, kemiskinan masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan secara mendasar? Ini tantangan yang harus di kerjakannya.
Ketika Sebuah Gagasan Menemukan Bentuknya
Kembali ke Nusa Tenggara Barat, kegelisahan terasa nyata. Selama puluhan tahun, begitu banyak pihak telah bekerja untuk mengurangi kemiskinan. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, hingga berbagai lembaga donor datang membawa program dengan tujuan yang sama: membantu masyarakat keluar dari kemiskinan.
Namun, satu kenyataan tetap sulit diabaikan. Nusa Tenggara Barat masih berada di antara provinsi dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi di Indonesia. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi tentang seberapa besar bantuan yang telah diberikan, melainkan mengapa berbagai upaya tersebut belum mampu menghadirkan perubahan yang berkelanjutan.
Semakin dalam ia mengamati, semakin jelas bahwa persoalannya bukan semata-mata terletak pada besarnya sumber daya yang dikeluarkan. Persoalannya berada pada cara bekerja. Banyak program berjalan dengan baik, tetapi masing-masing bergerak dalam ruangnya sendiri. Dari fokus Pendidikan hingga layanan kesehatan. Dari stunting hingga rumah layak huni. Dari sanitasi hingga pelatihan keterampilan. Semua penting, tetapi seringkali belum terhubung menjadi satu ikhtiar yang utuh. Padahal, dalam kenyataannya, kemiskinan tidak pernah hadir dalam satu wajah.
Di balik satu keluarga miskin, sering kali berkumpul berbagai persoalan sekaligus. Anak yang putus sekolah, rumah yang tidak layak huni, keterbatasan akses pelayanan kesehatan, rendahnya keterampilan, hingga tidak adanya sumber penghasilan tetap.
Menyelesaikan satu persoalan tanpa menyentuh persoalan lainnya hanya akan memindahkan bentuk kemiskinan, bukan mengakhirinya.
Di titik inilah seluruh pengalaman hidupnya seolah menemukan satu simpul yang sama. Pelajaran tentang empati yang diwariskan keluarganya, nilai pengabdian yang dibentuk di pesantren, pengalaman melihat berbagai praktik pembangunan di berbagai negara, serta perjumpaan kembali dengan realitas masyarakat Nusa Tenggara Barat, semuanya mengarah pada satu keyakinan: kemiskinan harus dipandang sebagai persoalan yang utuh, sehingga penyelesaiannya pun harus dilakukan secara utuh.
Dari keyakinan itulah kemudian lahir sebuah pendekatan pembangunan yang tidak lagi menempatkan masyarakat sebagai penerima bantuan semata, melainkan sebagai subjek yang harus diberdayakan.
Pemerintah tidak bekerja sendiri, tetapi menjadi penghubung yang menyatukan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan kota, pemerintah desa, dunia usaha, lembaga filantropi, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, hingga berbagai kekuatan sosial lainnya dalam satu arah yang sama.
Pendekatan dimulai dengan memahami setiap keluarga secara menyeluruh.
Apa persoalan yang mereka hadapi, layanan dasar apa yang belum mereka peroleh, potensi apa yang mereka miliki, dan peluang apa yang dapat dikembangkan agar mereka mampu bangkit secara mandiri. Dengan cara itulah setiap intervensi tidak lagi bersifat seragam, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan nyata setiap keluarga.
Pendekatan inilah yang kemudian dikenal sebagai Desa Berdaya Transformatif.
Ia bukan sekadar nama sebuah program. Ia adalah cara pandang yang lahir dari perjalanan hidup. Sebuah keyakinan bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan ketika negara hadir bukan sekadar memberi bantuan, tetapi membangun kemampuan masyarakat agar mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Setiap gagasan besar selalu memiliki jejak yang panjang. Desa Berdaya Transformatif pun demikian. Ia tidak lahir dalam satu malam, tidak pula lahir semata karena sebuah jabatan. Ia bertumbuh dari nilai-nilai yang diwariskan keluarga, ditempa oleh pendidikan, diperkaya oleh pengalaman melihat dunia, lalu diuji kembali ketika berhadapan dengan kenyataan di tanah kelahiran.
Pada akhirnya, Desa Berdaya Transformatif bukan hanya berbicara tentang desa atau tentang kemiskinan. Ia berbicara tentang cara memandang manusia. Bahwa di balik setiap angka statistik terdapat keluarga yang menyimpan harapan, anak-anak yang memiliki masa depan, dan masyarakat yang tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan untuk bangkit dengan martabatnya sendiri.
Seri kedua : Dari Dirjen Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Perlindungan Keluarga Miskin Ekstrem di NTB (Tim Ahli Gubernur)
