Renungan Jumat Pagi
Dalam kehidupan sehari hari, manusia sering kali menilai sesuatu dari apa yang tampak di permukaan. Penampilan, kedudukan, kekayaan, jabatan, gelar, dan kemasyhuran kerap menjadi ukuran dalam memandang seseorang. Padahal, tidak semua yang terlihat indah dari luar memiliki kebaikan di dalamnya. Sebaliknya, banyak pribadi sederhana yang tidak mencolok penampilannya, namun memiliki hati yang bersih, akhlak yang mulia, dan amal saleh yang mengagumkan di sisi Allah SWT. Karena itu, seorang mukmin dituntun untuk melihat lebih dalam daripada sekadar kulit luar kehidupan.
Ungkapan bahwa manusia laksana buku mengandung hikmah yang sangat mendalam. Ada buku yang sampulnya begitu menarik, mewah, dan memikat perhatian, tetapi ketika dibaca isinya kosong, dangkal, bahkan menyesatkan. Sebaliknya, ada buku yang sampulnya sederhana, tidak menarik perhatian banyak orang, namun ketika dibuka ternyata berisi ilmu, hikmah, dan manfaat yang luar biasa. Demikian pula manusia. Ada yang penampilannya mengesankan, tutur katanya memikat, dan kehidupannya tampak sempurna, namun ternyata akhlaknya buruk, lisannya menyakiti, dan perilakunya jauh dari tuntunan agama. Sebaliknya, ada orang yang sederhana, tidak terkenal, dan tidak memiliki kemewahan dunia, tetapi kejujurannya, ketulusannya, dan ketakwaannya membuatnya mulia di hadapan Allah.
Islam mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam penilaian yang dangkal. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”
(QS. Al Hujurat: 12)
Ayat ini mengingatkan bahwa penilaian yang hanya didasarkan pada apa yang tampak sering kali melahirkan prasangka yang tidak benar. Banyak orang saleh yang diremehkan karena kesederhanaannya, sementara banyak orang yang dipuji karena kemewahannya padahal tidak memiliki ketakwaan yang sejati.
Lebih jauh lagi, Allah SWT menegaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah rupa ataupun status sosialnya, melainkan ketakwaannya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
(QS. Al Hujurat: 13)
Ayat ini merupakan pedoman agung bagi setiap muslim agar tidak silau oleh tampilan luar. Ketakwaan tidak selalu tampak pada pakaian, rumah, kendaraan, atau jabatan seseorang. Ketakwaan bersemayam di dalam hati dan tercermin melalui amal saleh, kejujuran, kesabaran, keikhlasan, serta kepedulian kepada sesama.
Rasulullah SAW juga memberikan tuntunan yang sangat jelas dalam sebuah hadis yang masyhur:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa rupa kalian dan tidak pula kepada harta harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati hati kalian dan amal amal kalian.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menempatkan hati dan amal sebagai ukuran utama dalam pandangan Allah SWT. Betapa banyak manusia yang menghabiskan waktu untuk memperindah penampilan lahiriah, namun melupakan kebersihan hati. Padahal hati adalah sumber segala kebaikan dan keburukan. Jika hati baik, maka baiklah seluruh perilaku manusia. Jika hati rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.
Karena itu, seorang mukmin hendaknya lebih sibuk memperbaiki isi dirinya daripada sekadar mempercantik penampilannya. Kejujuran lebih berharga daripada pencitraan. Kerendahan hati lebih mulia daripada kesombongan. Ketulusan lebih indah daripada pujian manusia. Amal yang tersembunyi lebih bernilai daripada popularitas yang dibangun untuk mencari pengakuan.
Dalam sejarah Islam, banyak tokoh mulia yang penampilannya sederhana namun kedudukannya sangat tinggi di sisi Allah. Mereka tidak dikenal karena kemewahan hidup, melainkan karena keluasan ilmu, keteguhan iman, dan keikhlasan amalnya. Nama nama mereka tetap harum hingga hari ini bukan karena kekayaan yang dimiliki, tetapi karena isi kehidupannya yang dipenuhi pengabdian kepada Allah dan manfaat bagi manusia.
Sebaliknya, sejarah juga mencatat banyak orang yang tampak hebat di mata manusia, namun akhirnya jatuh karena kesombongan, kemunafikan, dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Sampul kehidupan mereka tampak mengagumkan, tetapi isi batinnya kosong dari ketakwaan.
Oleh sebab itu, ketika bergaul dengan sesama manusia, janganlah terburu buru menilai. Berikan kesempatan untuk mengenal akhlak, kejujuran, dan karakter seseorang. Jangan mudah terpikat oleh kemewahan yang tampak, dan jangan pula meremehkan kesederhanaan yang terlihat. Bisa jadi orang yang sederhana itu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah, sementara orang yang tampak hebat belum tentu memiliki kemuliaan yang sama.
Lebih penting lagi, marilah kita menjadikan nasihat ini sebagai cermin bagi diri sendiri. Jangan terlalu sibuk memperindah sampul kehidupan hingga melupakan isi yang sebenarnya. Perbaikilah hati dengan zikir, ilmu, dan ketakwaan. Hiasilah diri dengan akhlak mulia, kejujuran, amanah, dan kasih sayang. Penuhilah lembaran kehidupan dengan amal saleh yang bermanfaat bagi sesama.
Ketika manusia membaca “buku” kehidupan kita, semoga mereka menemukan ketulusan, kebaikan, dan ketakwaan di dalamnya. Dan ketika Allah menilai diri kita, semoga yang terlihat bukan sekadar penampilan lahir, melainkan hati yang bersih dan amal yang diterima. Sebab pada akhirnya, bukan sampul kehidupan yang akan menyelamatkan manusia di akhirat, melainkan isi kehidupannya yang dipenuhi iman, takwa, dan amal saleh. Itulah keindahan sejati yang tidak akan pudar oleh waktu, tidak akan rusak oleh usia, dan akan terus bercahaya hingga hari ketika manusia menghadap Rabb semesta alam. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
