Renungan Jumat Pagi:
Rezeki sering membuat manusia bimbang. Cukupkah untuk hari ini, bagaimana kebutuhan esok, dan apakah memberi akan membuat harta berkurang? Islam mengajarkan bahwa harta adalah amanah. Seorang mukmin tidak seharusnya dikuasai ketakutan ketika hendak berbagi, sebab rezeki berada dalam ketetapan Allah, bukan semata dalam hitungan manusia.
Nasihat yang masyhur kepada Bilal رضي الله عنه berbunyi:
أنفِقْ يَا بِلَالُ، وَلَا تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا
“Berinfaklah, wahai Bilal, dan janganlah engkau takut akan berkurangnya rezeki dari Pemilik Arasy.”
Pesan tersebut mengajarkan agar kekhawatiran terhadap berkurangnya harta tidak menjadi alasan menutup pintu kebaikan. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
Infak bukan sekadar mengeluarkan uang, tetapi latihan membebaskan hati dari penghambaan kepada harta. Manusia bukan pemilik mutlak, melainkan penerima amanah. Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati.
Allah juga berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Penggantian dari Allah tidak selalu berupa uang yang kembali dengan jumlah sama. Ia dapat hadir sebagai keberkahan, ketenteraman, kesehatan, kemudahan, perlindungan, terbukanya jalan kebaikan, maupun pahala untuk akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena sifat pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”
Hadis riwayat Muslim ini mengajarkan bahwa harta yang dikeluarkan karena Allah tidak sia-sia. Secara lahiriah jumlahnya berkurang, tetapi secara nilai dan keberkahan menjadi amal yang bernilai di sisi Allah.
Islam juga mengajarkan keseimbangan. Berinfak bukan berarti mengabaikan keluarga, utang, dan kebutuhan yang menjadi tanggung jawab. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila menginfakkan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di antara keduanya secara wajar.”
Allah juga mengingatkan:
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia kepadamu. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
Ketika muncul bisikan, “Jangan memberi, nanti kamu kekurangan,” seorang mukmin hendaknya kembali kepada Allah dan mempertimbangkan kebutuhannya secara bijaksana. Jangan sampai rasa takut mengalahkan iman.
Allah berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
Sedekah tidak selalu berupa harta. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ
“Setiap perbuatan baik adalah sedekah.”
Karena itu, jangan menunggu kaya untuk berbagi. Berilah sesuai kemampuan. Jika belum mampu dengan harta, berikan tenaga, ilmu, waktu, perhatian, pertolongan, atau perkataan yang baik.
Harta akan meninggalkan kita. Yang bernilai di hadapan Allah adalah bagaimana harta diperoleh, digunakan, dan dipertanggungjawabkan. Maka berinfaklah dengan ilmu, ikhlas, proporsional, dan penuh keyakinan. Jangan takut kehilangan harta hingga kehilangan kesempatan berbuat baik.
Berbagilah tanpa kesombongan, membantu tanpa merendahkan, dan memberi tanpa mengharapkan pujian. Rezeki bukan hanya apa yang berhasil kita simpan, tetapi juga apa yang Allah berkahi dan apa yang kita persembahkan sebagai amal. Pemilik Arasy adalah Allah Yang Mahakaya, sedangkan kita hanyalah hamba yang hidup dari rezeki dan kasih sayang-Nya. (Dr. H. Muhtadi Hairi.M.Pd)
