Renungan Selasa Pagi
Setiap nasihat akan menjadi lebih bermakna ketika dimulai dari hati yang bersedia menasihati dirinya sendiri. Sebelum menunjuk kesalahan orang lain, marilah memeriksa kekurangan diri; sebelum mengajak orang lain memperbaiki hidup, marilah memperbaiki kehidupan kita. Sebab keselamatan seseorang tidak ditentukan oleh kepandaiannya menilai orang lain, melainkan oleh kesungguhannya memperbaiki diri di hadapan Allah.
Nasihat yang paling berat sesungguhnya bukanlah nasihat kepada orang lain, melainkan nasihat kepada diri sendiri. Lidah begitu mudah mengatakan kepada orang lain agar sabar, sementara hati sendiri mudah mengeluh. Kita mudah mengingatkan orang agar rajin beribadah, tetapi terkadang lalai menjaga kekhusyukan ibadah kita. Kita mudah berbicara tentang kejujuran, tetapi masih berkompromi dengan kebohongan kecil. Kita senang mengingatkan orang lain agar menjaga lisan, tetapi lupa bahwa ucapan kita sendiri mungkin pernah melukai hati seseorang.
Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia terlebih dahulu melakukan muhasabah. Perjalanan memperbaiki kehidupan seharusnya dimulai dari dalam diri. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengajarkan sebuah sikap hidup yang sangat penting: melihat kembali apa yang telah kita kerjakan. Allah tidak hanya memerintahkan manusia untuk bekerja, tetapi juga memerintahkan agar setiap orang memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok. Hari esok yang dimaksud bukan sekadar hari setelah hari ini, melainkan kehidupan akhirat yang kekal.
Maka pertanyaan penting bagi diri kita bukan hanya: “Apa yang telah saya dapatkan?” tetapi juga: “Apa yang telah saya siapkan?” Bukan hanya: “Berapa banyak harta yang saya miliki?” tetapi: “Berapa banyak amal yang akan saya bawa?” Bukan hanya: “Bagaimana penilaian manusia terhadap saya?” tetapi: “Bagaimana penilaian Allah terhadap saya?”
Kita sering terlalu sibuk memperhatikan kehidupan orang lain. Kita mengetahui siapa yang salah, siapa yang kurang, siapa yang gagal, siapa yang tidak sesuai dengan harapan kita. Kita bahkan kadang begitu cepat memberikan penilaian terhadap kehidupan orang lain, sementara kehidupan kita sendiri luput dari pemeriksaan.
Padahal, boleh jadi orang yang kita anggap buruk memiliki amal yang tidak kita ketahui. Boleh jadi orang yang kita pandang rendah memiliki air mata taubat yang lebih banyak daripada kita. Boleh jadi seseorang yang tampak biasa di mata manusia justru memiliki kedudukan mulia di sisi Allah karena keikhlasan yang tersembunyi.
Sebaliknya, boleh jadi seseorang yang tampak baik di hadapan manusia sedang menyimpan penyakit hati yang tidak terlihat. Karena itu, tugas kita bukan menghakimi isi hati manusia. Tugas kita adalah menjaga hati sendiri.
Rasulullah saw. mengingatkan tentang pentingnya memperbaiki diri melalui sabdanya:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ
Artinya: “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini memberikan ukuran kecerdasan yang berbeda dari ukuran dunia. Dalam pandangan manusia, kecerdasan sering diukur dengan pendidikan, jabatan, kekayaan, kemampuan berbicara, atau keberhasilan mencapai tujuan. Namun Rasulullah saw. mengajarkan bahwa kecerdasan yang paling penting adalah kemampuan mengendalikan diri dan mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Orang yang cerdas bukanlah orang yang paling pandai mencari kesalahan orang lain. Orang yang cerdas adalah orang yang berani mencari kesalahan dalam dirinya sendiri. Ia tidak alergi terhadap kritik. Ia tidak mudah tersinggung ketika diingatkan. Ia justru bertanya kepada dirinya: “Benarkah ada kekurangan dalam diriku? Apa yang harus aku perbaiki?”
Muhasabah membuat seseorang tidak mudah sombong. Ketika mendapatkan pujian, ia tidak segera merasa paling baik. Ketika memperoleh keberhasilan, ia mengingat bahwa semuanya adalah pertolongan Allah. Ketika mendapatkan kekurangan, ia tidak menyalahkan keadaan semata, tetapi mencari pelajaran yang dapat memperbaiki kehidupannya.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan besar sering kali dimulai dari perubahan kecil di dalam diri. Rumah yang lebih harmonis mungkin dimulai dari seseorang yang bersedia mengurangi kemarahan. Persahabatan yang lebih baik mungkin dimulai dari seseorang yang mau meminta maaf. Masyarakat yang lebih damai mungkin dimulai dari orang-orang yang belajar menjaga lisannya. Organisasi yang lebih baik mungkin dimulai dari orang-orang yang bersedia mengoreksi dirinya sebelum mengoreksi orang lain.
Karena itu, jangan terlalu sibuk bertanya, “Mengapa orang lain tidak berubah?” Tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang sudah berubah dalam diriku?”
Jangan hanya berkata, “Mereka harus belajar menghargai orang lain.” Tanyakan pula, “Sudahkah aku menghargai orang lain?”
Jangan hanya mengatakan, “Orang-orang harus lebih sabar.” Tanyakan, “Sudahkah aku bersabar?”
Jangan hanya menuntut kejujuran dari orang lain. Tanyakan, “Sudahkah aku benar-benar jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat?”
Inilah nasihat yang sering terasa pahit, tetapi justru menyelamatkan. Sebab manusia memiliki kecenderungan melihat kesalahan orang lain lebih jelas daripada kesalahan dirinya sendiri.
Allah bahkan memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang gemar mengatakan sesuatu tetapi tidak mengerjakannya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Ayat tersebut bukan berarti seseorang harus menunggu menjadi manusia sempurna sebelum memberikan nasihat. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita boleh mengajak kepada kebaikan meskipun diri kita masih belajar. Kita boleh mengingatkan tentang kesabaran meskipun kita sendiri masih berjuang untuk sabar. Kita boleh mengajak kepada kejujuran meskipun kita masih terus memperbaiki diri.
Yang harus dihindari adalah keadaan ketika nasihat kepada orang lain menjadi alat untuk menutupi kegagalan memperbaiki diri. Nasihat seharusnya menjadi cermin yang pertama kali diarahkan kepada diri sendiri.
Ketika menasihati orang lain, katakanlah dalam hati: “Nasihat ini pertama-tama untukku.” Dengan demikian, nasihat tidak lahir dari kesombongan, tetapi dari kasih sayang. Tidak muncul dari perasaan lebih tinggi, tetapi dari kesadaran bahwa kita semua adalah hamba Allah yang membutuhkan petunjuk.
Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Perhatikan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan memperbaiki diri, tetapi juga saling menasihati. Namun urutannya harus benar. Kita beriman, beramal saleh, kemudian saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Artinya, nasihat bukan sekadar ucapan. Nasihat harus disertai keteladanan, kesungguhan, kesabaran, dan kasih sayang.
Nasihat yang baik bukanlah kalimat yang membuat orang lain merasa hina. Nasihat yang baik adalah kalimat yang membuat seseorang ingin kembali kepada Allah.
Karena itu, sebelum menasihati orang lain tentang ibadah, periksalah hubungan kita dengan Allah. Sebelum berbicara tentang akhlak orang lain, periksalah akhlak kita. Sebelum menilai keluarga orang lain, periksalah bagaimana kita memperlakukan keluarga sendiri. Sebelum menyalahkan masyarakat, tanyakan apa kontribusi kita untuk memperbaikinya.
Ada saatnya kita berhenti sejenak dari kesibukan menilai dunia. Duduklah dalam kesunyian. Matikan suara yang datang dari luar. Dengarkan suara hati. Tanyakan kepada diri sendiri: Bagaimana salatku? Bagaimana hubunganku dengan Al-Qur’an? Bagaimana lisanku ketika marah? Bagaimana sikapku kepada pasangan, anak, orang tua, tetangga, sahabat, dan orang yang berbeda pandangan denganku? Apakah aku masih mudah iri? Apakah aku masih menyimpan dendam? Apakah aku masih mengejar pujian manusia? Apakah aku sudah ikhlas ketika kebaikanku tidak diketahui siapa pun?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin membuat hati tidak nyaman. Tetapi terkadang ketidaknyamanan adalah pintu menuju perubahan.
Jangan takut menemukan kekurangan dalam diri. Yang berbahaya bukanlah mengetahui bahwa diri kita memiliki kekurangan. Yang berbahaya adalah mengetahui kekurangan itu, tetapi tidak mau memperbaikinya.
Jangan pula berputus asa karena masa lalu. Allah membuka pintu taubat selama kehidupan masih berlangsung. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini mengajarkan bahwa muhasabah bukan untuk membuat kita membenci diri, melainkan agar kita kembali kepada Allah. Muhasabah bukan berarti tenggelam dalam penyesalan, tetapi menjadikan penyesalan sebagai energi untuk berubah.
Maka, jika hari ini kita menyadari bahwa masih banyak kekurangan, bersyukurlah karena Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaikinya. Jika kita pernah salah, mintalah ampun. Jika pernah menyakiti, mintalah maaf. Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika pernah lalai beribadah, mulailah kembali. Jika pernah sombong, belajarlah merendahkan hati.
Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berubah. Mulailah dari satu langkah. Satu salat yang lebih khusyuk. Satu kebohongan yang ditinggalkan. Satu kemarahan yang ditahan. Satu permintaan maaf yang diucapkan. Satu sedekah yang disembunyikan. Satu ayat Al-Qur’an yang direnungkan. Satu dosa yang ditinggalkan karena takut kepada Allah.
Begitulah cara manusia memperbaiki nasibnya.
Pada akhirnya, kita akan meninggalkan semua yang selama ini kita banggakan. Jabatan akan ditinggalkan. Kekayaan akan ditinggalkan. Popularitas akan ditinggalkan. Pujian manusia akan berhenti. Yang menemani kita hanyalah amal yang pernah dilakukan dengan ikhlas.
Karena itu, sebelum sibuk memperhatikan bagaimana orang lain menjalani hidupnya, perhatikanlah bagaimana kita menjalani hidup sendiri. Sebelum bertanya apakah orang lain sudah menjadi baik, tanyakan apakah kita sudah sungguh-sungguh berusaha menjadi baik.
Nasihatkanlah dirimu terlebih dahulu. Tegurlah dirimu dengan lembut. Didiklah dirimu dengan sabar. Ajaklah hatimu kembali kepada Allah setiap kali ia menjauh. Jangan biarkan umur berjalan tanpa pertumbuhan iman.
Semoga kita termasuk orang-orang yang setiap hari semakin mengenal kekurangan dirinya, semakin banyak memperbaikinya, semakin rendah hati, semakin lembut kepada sesama, semakin kuat dalam kebaikan, dan semakin dekat kepada Allah.
Sebab hidup yang paling beruntung bukanlah hidup yang paling banyak dipuji manusia, melainkan hidup yang ketika sampai pada penghujungnya dapat berkata: “Ya Allah, aku memang belum sempurna, tetapi aku telah berusaha kembali kepada-Mu.”
Dan ketika kita hendak menasihati orang lain, semoga hati kita selalu berbisik: “Nasihat ini pertama-tama untuk diriku sendiri.” (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
