Rebungan Sabtu Pagi
Hidup tidak pernah dijanjikan bebas dari masalah. Justru melalui ujian, manusia belajar mengenal kelemahan, menata hati, menguatkan ikhtiar, dan mendekat kepada Allah. Karena itu, doa yang paling tepat bukan sekadar meminta agar semua persoalan disingkirkan, melainkan memohon keteguhan, petunjuk, kesabaran, pertolongan, serta kemampuan menjalani setiap ujian dengan iman, akal sehat, dan tawakal yang benar kepada-Nya. dalam setiap keadaan kehidupan sehari-hari.
Ada sebuah gagasan yang sekilas terdengar tegas: jangan berdoa agar seluruh masalah kehidupan dihilangkan, karena masalah merupakan bagian dari kehidupan. Pada titik tertentu, gagasan ini mengandung pelajaran penting. Manusia memang tidak mungkin menjalani hidup tanpa ujian. Sejak lahir sampai meninggal, kehidupan selalu mempertemukan manusia dengan perubahan, kehilangan, kegagalan, penyakit, konflik, keterbatasan, ketidakpastian, dan berbagai keadaan yang tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Namun, gagasan tersebut perlu diluruskan dengan pandangan iman. Seorang Muslim tidak diajarkan untuk menyerah kepada masalah, apalagi menganggap Allah tidak peduli terhadap penderitaan hamba-Nya. Islam justru mengajarkan keseimbangan antara doa, ikhtiar, kesabaran, tawakal, dan keyakinan bahwa Allah senantiasa mengetahui keadaan hamba-Nya.
Al-Qur’an menegaskan bahwa kehidupan dunia memang merupakan ruang ujian. Allah berfirman:
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. Al-Insan: 2)
Ujian bukan tanda bahwa Allah meninggalkan manusia. Ujian adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan. Bahkan para nabi dan orang-orang saleh tidak luput dari ujian. Mereka mengalami kehilangan, penolakan, kesedihan, ancaman, kemiskinan, penyakit, dan berbagai kesulitan. Perbedaannya bukan pada ada atau tidak adanya masalah, melainkan pada bagaimana mereka menghadapi masalah tersebut.
Allah berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya: Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 2)
Perhatikan, Allah tidak mengatakan bahwa manusia akan diuji hanya sekali. Kehidupan itu sendiri berada dalam rangkaian ujian. Karena itu, berharap agar hidup sama sekali tidak memiliki masalah bukanlah harapan yang realistis. Yang lebih penting adalah memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk menghadapi masalah dengan benar. Kita boleh berdoa agar kesulitan diangkat. Kita boleh memohon kesembuhan ketika sakit, kelapangan ketika sempit, jalan keluar ketika buntu, keamanan ketika terancam, dan pertolongan ketika tidak berdaya. Tetapi doa itu harus berjalan bersama kesiapan hati untuk menerima ketetapan Allah dan kesungguhan melakukan ikhtiar.
Allah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat indah ketika menghadapi beban:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini memberikan keseimbangan yang sangat indah. Seorang mukmin tidak sekadar berkata, “Aku harus kuat sendiri.” Tidak. Ia mengakui keterbatasannya dan meminta pertolongan kepada Allah. Pada saat yang sama, ia tidak menjadikan doa sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Ia berdoa karena sadar bahwa dirinya lemah, lalu berikhtiar karena sadar bahwa Allah memerintahkannya untuk menempuh sebab-sebab yang tersedia.
Karena itu, kalimat bahwa manusia tidak boleh menggantungkan keselamatan pada pertolongan Allah perlu dikoreksi secara mendasar. Seorang Muslim justru menggantungkan hati kepada Allah, tetapi tidak menggantungkan tangan untuk berhenti bekerja. Hati bertawakal kepada Allah, sementara tangan tetap berikhtiar. Pikiran tetap mencari jalan keluar. Kaki tetap melangkah. Lisan tetap berdoa. Inilah tawakal yang benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Artinya: Bersungguh-sungguhlah dalam memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah kamu mengatakan, “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian,” tetapi katakanlah, “Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan,” karena perkataan “seandainya” membuka pekerjaan setan. (HR. Muslim)
Hadis ini seakan menjadi jawaban bagi manusia yang sedang berhadapan dengan persoalan. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kepasrahan yang pasif. Beliau memerintahkan agar seseorang bersungguh-sungguh mengejar sesuatu yang bermanfaat, meminta pertolongan Allah, dan tidak menyerah kepada kelemahan. Tiga hal ini harus berjalan bersama: ikhtiar, isti’anah, dan keteguhan.
Maka, ketika menghadapi masalah keluarga, jangan hanya menangis dan menunggu semuanya berubah. Berdoalah, lalu belajar memperbaiki komunikasi. Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, jangan hanya mengeluh kepada keadaan. Berdoalah, lalu tingkatkan kemampuan, evaluasi kesalahan, dan cari jalan yang halal. Ketika menghadapi kegagalan, jangan langsung menganggap hidup telah berakhir. Berdoalah, lalu bangkit, belajar, dan mencoba kembali. Ketika menghadapi kehilangan, jangan merasa bahwa Allah telah mencampakkan diri kita. Menangislah jika memang harus menangis, tetapi tetaplah percaya bahwa Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan kerendahan hati di hadapan takdir. Tidak semua yang menyakitkan berarti buruk. Tidak semua yang menyenangkan berarti baik. Manusia hanya melihat satu bagian kecil dari perjalanan hidup, sedangkan Allah mengetahui keseluruhan perjalanan. Karena itu, tugas seorang hamba bukan memaksa seluruh kehidupan berjalan sesuai keinginannya, melainkan berusaha sebaik mungkin dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Lebih dari itu, Islam tidak mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan yang cuek terhadap penderitaan manusia. Sebaliknya, Al-Qur’an berulang kali memperkenalkan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Bahkan Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 186)
Ayat ini sangat menenteramkan. Allah tidak mengatakan bahwa Dia jauh. Allah mengatakan, “Sesungguhnya Aku dekat.” Kedekatan Allah bukan berarti setiap permintaan manusia harus dikabulkan persis seperti yang diminta dan pada waktu yang diinginkan. Allah mengabulkan dengan ilmu dan hikmah-Nya. Kadang jawaban doa datang dalam bentuk pemberian. Kadang berupa perlindungan dari keburukan. Kadang berupa penguatan hati. Kadang berupa jalan keluar yang baru terlihat setelah seseorang melewati masa yang sulit.
Karena itu, jangan berdoa hanya untuk meminta hidup tanpa masalah. Berdoalah dengan doa yang lebih luas: “Ya Allah, jika masalah ini harus kuhadapi, kuatkan aku. Jika jalan ini harus kutempuh, tuntun aku. Jika ada kesalahan dalam diriku, tunjukkan dan perbaikilah. Jika aku harus kehilangan sesuatu, jangan biarkan kehilangan itu membuatku kehilangan-Mu. Jika aku jatuh, berikan kekuatan untuk bangkit. Jika aku berhasil, jauhkan aku dari kesombongan. Dan dalam keadaan apa pun, jangan lepaskan hatiku dari pertolongan-Mu.”
Kesabaran pun bukan berarti diam tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan menjaga diri agar tetap berada di jalan yang benar ketika keadaan sedang tidak sesuai dengan keinginan. Sabar ketika tertimpa musibah. Sabar dalam menjalankan ketaatan. Sabar menahan diri dari kemaksiatan. Sabar dalam proses panjang memperbaiki kehidupan. Orang yang sabar bukan orang yang tidak merasakan sakit, melainkan orang yang tidak membiarkan rasa sakit mengendalikan seluruh hidupnya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 153)
Perhatikan ungkapan “mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat”. Ini menunjukkan bahwa ketika masalah datang, seorang mukmin tidak hanya mencari kekuatan dari dirinya sendiri. Ia kembali kepada Allah melalui kesabaran dan ibadah. Salat bukan pelarian dari kenyataan, melainkan sumber kekuatan untuk menghadapi kenyataan dengan jiwa yang lebih tertata.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa keadaan seorang mukmin memiliki peluang kebaikan yang sangat luas. Beliau bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya. (HR. Muslim)
Inilah cara pandang yang mengubah kehidupan. Masalah tetap masalah, tetapi jiwa tidak lagi melihatnya sebagai akhir dari segalanya. Kesulitan menjadi kesempatan untuk bersabar. Nikmat menjadi kesempatan untuk bersyukur. Kegagalan menjadi kesempatan untuk belajar. Kesalahan menjadi kesempatan untuk bertobat. Kehilangan menjadi kesempatan untuk menyadari bahwa dunia bukan tempat menetap selamanya.
Maka jangan berharap hidup tanpa ujian. Berharaplah menjadi manusia yang lebih kuat ketika ujian datang. Jangan hanya meminta pintu masalah ditutup. Mintalah agar Allah menunjukkan pintu yang benar untuk keluar darinya. Jangan hanya memohon agar jalan hidup selalu mudah. Mintalah agar hati tidak mudah patah ketika jalan menjadi sulit.
Pada akhirnya, benar bahwa manusia sendiri harus menghadapi kenyataan. Tetapi seorang mukmin tidak pernah menghadapinya sendirian. Ia menghadapinya dengan pertolongan Allah, petunjuk wahyu, doa, ikhtiar, kesabaran, dan tawakal. Inilah perbedaan besar antara merasa sendirian menghadapi kehidupan dan menyadari bahwa setiap langkah berada dalam pengetahuan Allah.
Allah berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya: Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. At-Talaq: 3)
Jadi, jangan meminta kehidupan yang tidak memiliki masalah. Mintalah jiwa yang tidak mudah menyerah ketika masalah datang. Jangan berharap semua ujian dihapus sebelum kita belajar darinya. Mintalah agar setiap ujian menjadi jalan menuju kedewasaan, kesabaran, ketakwaan, dan kedekatan kepada Allah.
Sebab hidup bukan tentang seberapa sedikit masalah yang kita temui, tetapi tentang seberapa baik kita menjalani setiap keadaan sebagai seorang hamba. Ada hari ketika kita tertawa, ada hari ketika kita menangis. Ada masa ketika pintu terbuka, ada masa ketika semua terasa tertutup. Namun dalam setiap keadaan, seorang mukmin memiliki pegangan: berikhtiar ketika mampu, berdoa ketika lemah, bersabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi, bertobat ketika salah, dan bertawakal setelah melakukan yang terbaik.
Masalah mungkin datang silih berganti. Tetapi selama hati masih mengenal Allah, tidak ada masalah yang harus dijalani dengan keputusasaan. Karena pertolongan Allah tidak selalu berbentuk hilangnya masalah. Terkadang pertolongan itu hadir dalam bentuk hati yang dikuatkan, pikiran yang dijernihkan, kesalahan yang disadarkan, orang baik yang dipertemukan, jalan yang dibukakan, atau kemampuan untuk tetap berdiri ketika keadaan berusaha menjatuhkan.
Maka teruslah berjalan. Jangan menyerah hanya karena perjalanan sedang berat. Jangan mengira Allah tidak peduli hanya karena jawaban doa belum hadir sesuai keinginan. Bisa jadi, di balik keterlambatan itu ada pendidikan jiwa yang sedang berlangsung. Bisa jadi, di balik kesulitan itu ada kedewasaan yang sedang Allah tumbuhkan. Dan bisa jadi, setelah semua yang berat terlewati, kita akan memahami bahwa pertolongan Allah tidak pernah benar-benar jauh.
Yang perlu kita lakukan adalah terus mengetuk pintu-Nya, terus memperbaiki diri, terus menempuh sebab-sebab yang halal, dan terus percaya bahwa Allah mengetahui apa yang sedang kita perjuangkan. Karena seorang mukmin tidak dituntut memenangkan seluruh keadaan. Ia dituntut tetap menjadi hamba yang baik dalam keadaan apa pun.
Itulah keteguhan yang sejati: bukan hidup tanpa masalah, tetapi hati yang tetap memiliki Allah ketika masalah datang. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
