Tidak semua nasihat datang dari luar diri. Ada nasihat yang tumbuh dari hati yang masih peka, dari kesadaran yang mengingat Allah, dan dari keberanian mengakui kesalahan. Jiwa yang selalu diajak bermuhasabah akan lebih mudah kembali kepada kebenaran karena tidak sibuk mencari kesalahan orang lain, melainkan terus memperbaiki diri dengan sabar, ikhlas, dan penuh harapan kepada Allah.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya seorang hamba akan selalu berada dalam kebaikan selama dia memiliki penasihat dari jiwanya dan muhasabah adalah keinginannya.” Nasihat ini mengajarkan pentingnya pengawasan terhadap diri sendiri. Jangan menunggu orang lain menunjukkan kesalahan kita. Hati yang menjadi penasihat akan segera bertanya: Mengapa aku melakukan ini? Apakah Allah ridha? Apa akibatnya? Apa yang harus aku perbaiki?
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Muhasabah bukan menyiksa diri dengan penyesalan tanpa akhir. Muhasabah adalah keberanian melihat diri secara jujur di hadapan Allah. Ia bukan membenci diri, melainkan usaha menyelamatkan diri. Ketika seseorang menyadari kesalahan, ia tidak berkata bahwa dirinya tidak mungkin berubah. Ia berkata, “Aku telah salah, tetapi masih ada kesempatan untuk bertobat dan memperbaikinya.”
Allah berfirman:
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“Dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah: 2)
Jiwa yang mampu menegur dirinya menunjukkan bahwa hati belum mati. Rasa bersalah dapat menjadi pintu menuju pertobatan. Sebaliknya, yang berbahaya adalah ketika dosa dilakukan berulang kali tanpa lagi menimbulkan penyesalan. Keburukan menjadi kebiasaan dan nasihat tidak lagi mampu mengetuk hati.
Allah juga mengingatkan:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Penasihat jiwa membuat seseorang berhenti sebelum berbicara, bertindak, mengambil harta, atau menyebarkan berita. Ia bertanya apakah perkataannya benar dan bermanfaat, apakah hartanya halal, serta apakah tindakannya merugikan orang lain. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Dalam menghadapi kemarahan pun hati membutuhkan penasihat. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kekuatan sejati bukan kemampuan mengalahkan orang lain, tetapi kemampuan mengalahkan hawa nafsu sendiri.
Muhasabah sebaiknya dilakukan setiap hari. Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri: Kebaikan apa yang kulakukan hari ini? Dosa apa yang kulakukan? Siapa yang mungkin kusakiti? Hak siapa yang belum kutunaikan? Bagaimana salatku? Apakah lisanku lebih banyak mengingat Allah atau membicarakan kekurangan manusia?
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)
Namun muhasabah harus melahirkan harapan, bukan keputusasaan. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Karena itu, ketika berdosa, segera bertobat. Ketika menyakiti seseorang, segera meminta maaf. Ketika menerima nikmat, bersyukur. Ketika mendapat ujian, bersabar. Ketika berhasil, jangan sombong. Ketika gagal, jangan mengira Allah meninggalkan kita.
Orang yang benar-benar bermuhasabah juga tidak menolak nasihat dari orang lain. Kritik yang benar mungkin terasa pahit, tetapi dapat menjadi hadiah. Sebelum menilai orang lain, periksalah diri sendiri. Sebelum menyebut seseorang kurang sabar, tanyakan apakah kita sudah sabar. Sebelum menuduh orang lain sombong, lihat apakah kesombongan sedang tumbuh dalam diri kita.
Hidup bukan tentang terlihat sempurna di hadapan manusia, tetapi tentang mempertanggungjawabkan diri di hadapan Allah. Karena itu, jangan membungkam hati ketika ia mengingatkan. Jangan membenarkan kesalahan hanya karena kita yang melakukannya. Jadikan setiap malam sebagai ruang untuk kembali kepada Allah.
Tanyakan: Apakah hari ini aku lebih dekat kepada Allah? Apakah kehadiranku membawa manfaat? Apakah lisanku menjaga kehormatan orang lain? Apakah hartaku menjadi jalan kebaikan? Apakah ibadahku melahirkan akhlak yang lebih baik?
Jika jawabannya belum baik, jangan menyerah. Perbaiki sedikit demi sedikit. Hati yang selamat tidak lahir dalam satu malam. Ia dibentuk oleh pertobatan, kejujuran, kesabaran, rasa takut kepada Allah, harapan kepada rahmat-Nya, dan muhasabah yang terus menerus.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Maka selama masih diberi umur, jangan lelah menasihati diri sendiri. Boleh jadi nasihat yang paling menyelamatkan bukanlah suara yang paling keras, melainkan suara hati yang lembut berkata: “Kembalilah kepada Allah, perbaikilah dirimu, karena waktu tidak akan menunggu.” (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
