Kerapian bukan sekadar kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari, melainkan cerminan tanggung jawab, kepedulian, dan penghormatan kepada orang lain. Meletakkan kembali barang pada tempatnya, membersihkan sesuatu setelah digunakan, serta meninggalkan lingkungan dalam keadaan baik merupakan perbuatan sederhana yang menghadirkan kenyamanan, mencegah kesulitan, dan mengajarkan kita untuk tidak hidup hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.
Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim hendaknya memiliki kepedulian terhadap kebersihan, kerapian, dan kemaslahatan bersama. Sesuatu yang tampak kecil di hadapan manusia dapat menjadi besar nilainya di sisi Allah apabila dilakukan dengan niat yang benar. Ketika seseorang selesai menggunakan suatu barang, kemudian mengembalikannya ke tempat semula agar orang berikutnya mudah menemukannya, sesungguhnya ia sedang menunaikan amanah dan memberikan kemudahan kepada sesama.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebersihan memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Menjaga kebersihan bukan hanya berkaitan dengan tubuh dan pakaian, tetapi juga lingkungan tempat kita berada. Rumah, masjid, tempat kerja, sekolah, jalan, kendaraan, dan ruang bersama semestinya dijaga agar tetap bersih dan nyaman.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)
Keindahan yang dimaksud tidak berhenti pada penampilan seseorang. Keindahan juga dapat diwujudkan melalui keteraturan, kebersihan, kesopanan, dan perilaku yang membuat kehidupan bersama menjadi lebih nyaman. Barang yang dikembalikan pada tempatnya menciptakan keteraturan. Sampah yang dibuang pada tempatnya menjaga kebersihan. Ruangan yang dirapikan setelah digunakan memberikan kemudahan bagi orang yang datang kemudian.
Perhatikan pula sabda Nabi ﷺ:
وَإِمَاطَتُكَ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ
“Dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah bagimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut mengajarkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari amal kebajikan. Bahkan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu orang lain dinilai sebagai sedekah. Maka, apabila seseorang merapikan kursi setelah dipakai, mengembalikan alat ke tempatnya, membersihkan meja setelah digunakan, atau memastikan kamar mandi tetap bersih untuk pengguna berikutnya, semua itu dapat menjadi amal yang bernilai apabila dilakukan karena Allah.
Sering kali manusia menganggap bahwa merapikan sesuatu adalah pekerjaan sepele karena tidak menghasilkan keuntungan langsung. Padahal, justru dari kebiasaan kecil itulah karakter seseorang terbentuk. Orang yang terbiasa meninggalkan sesuatu dalam keadaan berantakan akan membuat orang lain menanggung akibat dari kelalaiannya. Sebaliknya, orang yang terbiasa merapikan akan meninggalkan kebaikan yang mungkin tidak pernah ia lihat hasilnya.
Inilah salah satu bentuk akhlak yang indah: menggunakan sesuatu tanpa merasa menjadi pemilik mutlak, kemudian mengembalikannya dalam keadaan baik. Kita menikmati kenyamanan yang disediakan oleh orang lain, maka sudah sepantasnya kita memberikan kenyamanan yang sama kepada orang yang datang setelah kita.
Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Menjaga kerapian adalah salah satu bentuk tolong-menolong dalam kebajikan. Kita mungkin tidak mengenal siapa pengguna berikutnya, tetapi kita dapat mempersiapkan sesuatu agar ia tidak mengalami kesulitan. Kita tidak perlu menunggu diperintah. Kesadaran untuk melakukan kebaikan sebelum diminta merupakan tanda kedewasaan akhlak.
Karena itu, marilah membiasakan diri dari perkara yang paling sederhana. Setelah mengambil barang, kembalikan ke tempatnya. Setelah menggunakan ruangan, rapikan kembali. Setelah makan, bersihkan tempat yang digunakan. Setelah melihat sampah yang dapat disingkirkan, singkirkanlah jika mampu. Setelah meminjam sesuatu, kembalikan dalam keadaan baik. Jangan meninggalkan pekerjaan rumah kepada orang lain hanya karena kita merasa akan ada orang yang membersihkannya.
Kebaikan semacam ini mungkin tidak selalu mendapat pujian. Bahkan bisa jadi tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa yang telah merapikan. Namun seorang mukmin tidak hidup untuk mencari pujian manusia. Ia berusaha berbuat baik karena mengetahui bahwa Allah melihat setiap amal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا
“Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan.” (HR. Muslim)
Maka jangan meremehkan tindakan kecil. Bisa jadi merapikan sebuah barang menjadi sebab seseorang tidak kebingungan mencarinya. Bisa jadi membersihkan lantai membuat seseorang tidak tergelincir. Bisa jadi membuang sesuatu yang mengganggu membuat orang lain selamat dari bahaya. Bisa jadi kerapian yang kita tinggalkan menjadi kenyamanan bagi seseorang yang sedang lelah.
Akhlak mulia tidak selalu tampak dalam perkara besar. Ia justru sering terlihat dalam kebiasaan yang dilakukan ketika tidak ada yang memperhatikan. Ketika seseorang tetap merapikan, membersihkan, dan menjaga fasilitas bersama meskipun tidak ada yang memuji, di situlah terlihat bahwa ia memiliki kesadaran bahwa hidup ini bukan hanya tentang apa yang ia terima, tetapi juga tentang apa yang ia tinggalkan.
Semoga kita menjadi pribadi yang ketika datang membawa manfaat, ketika menggunakan sesuatu menjaganya, dan ketika pergi meninggalkan keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya. Sebab seorang Muslim seharusnya tidak menjadi sumber kesulitan bagi orang lain. Jadikanlah kerapian, kebersihan, dan kepedulian sebagai bagian dari ibadah dan akhlak sehari-hari. Dengan demikian, lingkungan menjadi nyaman, hubungan antarmanusia menjadi lebih baik, dan kebiasaan sederhana itu menjadi bekal amal yang semoga bernilai di hadapan Allah. (Dr. H. Mutadi Hairi,M.Pd)
