Renungan Rabu Pagi
Fathu Makkah bukan sekadar kemenangan sebuah pasukan, melainkan momentum pemurnian tauhid dan pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah. Setelah Mekah ditaklukkan, Rasulullah ﷺ membersihkan pusat kota itu dari simbol kemusyrikan. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa kemenangan lahiriah belum cukup apabila hati masih menyimpan kesombongan, merasa kuat karena jumlah, harta, atau kekuasaan yang dimiliki.
Penaklukan Mekah merupakan salah satu peristiwa terbesar dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Ketika kekuatan kaum Muslimin semakin besar, berhala-berhala yang dahulu diagungkan oleh masyarakat Arab tidak lagi memiliki tempat sebagai sesembahan. Penyucian Mekah dari berhala merupakan penegasan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 20 dan 21:
وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
Artinya: “Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, sedangkan berhala-berhala itu sendiri diciptakan. Berhala-berhala itu benda mati, tidak hidup, dan tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”
Ayat tersebut mengajarkan ukuran yang sangat sederhana tetapi mendasar. Sesuatu yang disembah harus memiliki kekuasaan yang layak untuk disembah. Berhala tidak menciptakan manusia, tidak menciptakan langit dan bumi, tidak menguasai kehidupan dan kematian, bahkan tidak mampu mendatangkan manfaat atau menolak mudarat bagi dirinya sendiri. Karena itu, menyandarkan penghambaan kepada selain Allah merupakan penyimpangan dari fitrah tauhid.
Al-Qur’an juga mengabadikan perkataan Nabi Ibrahim عليه السلام ketika berdialog dengan kaumnya:
قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Dia berkata, ‘Apakah kamu menyembah sesuatu yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.’”
Pelajaran tauhid dari kisah tersebut tetap relevan. Berhala tidak selalu berbentuk patung. Dalam kehidupan modern, manusia dapat membuat “berhala” dalam bentuk kekayaan, jabatan, popularitas, kekuasaan, atau hawa nafsu apabila semua itu membuat hati bergantung secara berlebihan dan melupakan Allah. Harta boleh dimiliki, jabatan boleh dijalankan, dan kekuasaan boleh digunakan, tetapi semuanya harus ditempatkan sebagai amanah, bukan sebagai sesembahan hati.
Setelah Fathu Makkah, datang pula ujian dari Hawazin dan Tsaqif. Rasulullah ﷺ menghadapi situasi baru dengan jumlah pasukan yang besar. Dalam perjalanan menuju Hunain, sebagian kaum Muslimin sempat merasa percaya diri karena jumlah mereka sangat banyak. Al-Qur’an mengingatkan peristiwa itu:
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ
Artinya: “Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam banyak medan peperangan dan pada hari Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakanmu, tetapi jumlah yang banyak itu sama sekali tidak berguna bagimu. Bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, serta menyiksa orang-orang kafir. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.”
Inilah salah satu pelajaran paling dalam dari rangkaian peristiwa tersebut. Kemenangan tidak boleh melahirkan ujub. Jumlah yang banyak tidak otomatis mendatangkan kemenangan. Persenjataan yang kuat tidak otomatis menjamin keselamatan. Kekayaan yang melimpah tidak otomatis membuat seseorang bahagia. Semua sebab itu penting, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekuatan tidak boleh membuat manusia kehilangan tawakal. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan:
وَلَنْ يُغْلَبَ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا مِنْ قِلَّةٍ
Artinya: “Dua belas ribu orang tidak akan dikalahkan karena sedikitnya jumlah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, tetapi Abu Dawud menjelaskan bahwa sanad yang lebih tepat adalah mursal. Karena itu, hadis tersebut tidak boleh dipahami sebagai jaminan mutlak bahwa jumlah dua belas ribu pasti menang dalam setiap keadaan. Al-Qur’an tentang Hunain justru memberikan pelajaran bahwa banyaknya jumlah tidak boleh menjadi alasan untuk sombong.
Maka, kisah penghancuran berhala dan peristiwa Hunain sebenarnya mempunyai satu benang merah: manusia harus menghancurkan dua jenis kesombongan sekaligus. Pertama, kesombongan dalam akidah, yaitu menempatkan sesuatu selain Allah sebagai tempat penghambaan. Kedua, kesombongan dalam diri, yaitu merasa mampu tanpa pertolongan Allah.
Allah berfirman:
وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Artinya: “Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
Karena itu, ketika memperoleh kemenangan, janganlah hati berkata, “Aku berhasil karena aku kuat.” Katakanlah, “Allah telah memberikan pertolongan.” Ketika memperoleh kekayaan, jangan merasa seluruhnya hasil kemampuan diri. Ketika mendapatkan jabatan, jangan merasa lebih tinggi daripada orang lain. Dan ketika memiliki ilmu, jangan menjadikannya alasan untuk merendahkan sesama.
Tauhid yang benar melahirkan kerendahan hati. Orang yang benar-benar mengenal Allah akan memahami bahwa dirinya hanyalah hamba. Ia bekerja keras, tetapi tidak menyembah hasil kerja. Ia menggunakan sebab, tetapi tidak menggantungkan hati kepada sebab. Ia berikhtiar dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Fathu Makkah mengajarkan bahwa membersihkan kehidupan dari kesyirikan harus berjalan bersama dengan membersihkan hati dari kesombongan. Berhala yang tampak harus dihancurkan, tetapi berhala yang tersembunyi di dalam hati juga harus diperangi. Sebab bisa jadi seseorang tidak pernah menyembah patung, tetapi diam-diam menjadikan harta, kedudukan, pujian manusia, atau kekuatan dirinya sebagai pusat kehidupan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang kokoh dalam tauhid, bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, rendah hati ketika memperoleh keberhasilan, sabar ketika menghadapi ujian, serta selalu menyadari bahwa seluruh kekuatan, pertolongan, dan kemenangan pada hakikatnya berasal dari Allah سبحانه وتعالى. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
