Renungan Selasa Pagi:
Ada penderitaan yang tidak kita pilih, tetapi selalu ada pelajaran yang dapat kita petik. Ketika jalan terasa berat, hati jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan kita. Bisa jadi, melalui kesulitan itu Allah sedang membersihkan hati, menguatkan iman, menggugurkan dosa, dan mengajarkan ketergantungan yang lebih tulus kepada-Nya. Maka bersabarlah, berdoalah, dan tetaplah berjalan menuju Allah meski air mata menemani setiap langkah.
Penderitaan adalah bagian dari kehidupan yang tidak seorang pun dapat menghindarinya. Ada sakit yang datang tanpa diminta, kehilangan yang tidak pernah dibayangkan, kegagalan yang membuat hati malu, perpisahan yang menyisakan sunyi, serta ujian yang membuat seseorang bertanya, “Mengapa harus aku?” Pertanyaan itu manusiawi. Namun, seorang mukmin dituntun untuk tidak berhenti pada pertanyaan tersebut. Ia belajar mengubahnya menjadi renungan: “Apa yang Allah kehendaki agar aku pelajari melalui keadaan ini?”
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6)
Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan bahwa setelah kesulitan pasti baru datang kemudahan, tetapi menyebut bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam keadaan yang terasa sempit sekalipun, rahmat Allah tidak pernah benar-benar jauh. Ada pertolongan yang mungkin belum terlihat, ada hikmah yang belum dipahami, dan ada perubahan hati yang sedang Allah tumbuhkan secara perlahan.
Allah juga berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (QS. At-Talaq: 7)
Karena itu, jangan menganggap bahwa setiap luka adalah tanda kebencian Allah. Dalam banyak keadaan, penderitaan justru menjadi sebab seorang hamba kembali menundukkan kepala dalam sujud, memperbanyak doa, meninggalkan kesombongan, dan menyadari bahwa dirinya benar-benar membutuhkan Rabb-nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena musibah tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan penghiburan yang sangat dalam. Air mata yang jatuh karena kesedihan tidak sia-sia apabila dihadapi dengan iman dan kesabaran. Rasa sakit yang kita tanggung tidak luput dari pengetahuan Allah. Bahkan sesuatu yang tampaknya kecil, seperti tertusuk duri, dapat menjadi sebab penghapusan dosa.
Namun, sabar bukan berarti menikmati penderitaan atau berpura-pura tidak terluka. Sabar berarti tetap menjaga iman ketika hati sedang terluka, tetap menjalankan kewajiban ketika keadaan berat, tidak berputus asa dari rahmat Allah, serta tidak membalas keburukan dengan keburukan. Seorang mukmin boleh menangis. Ia boleh merasa sedih. Ia boleh mengadu kepada Allah. Yang harus dijaga adalah agar kesedihan tidak menyeretnya kepada prasangka buruk kepada Allah.
Nabi Ya’qub عليه السلام pernah berkata:
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Yusuf: 86)
Inilah tuntunan yang indah. Ketika dunia terasa gelap, bawalah kegelisahan kepada Allah. Ketika manusia tidak memahami air mata kita, Allah memahaminya. Ketika tidak ada pintu yang terbuka, pintu doa tidak pernah tertutup. Ketika hati merasa sendirian, ingatlah bahwa Allah mengetahui setiap detak kesedihan yang tersembunyi.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Maka jangan hanya bertanya kapan penderitaan ini berakhir. Bertanyalah pula, apakah selama melewatinya kita semakin dekat kepada Allah. Bisa jadi, kesulitan yang kita ingin segera hilangkan justru sedang menghilangkan sesuatu yang lebih berbahaya dari dalam diri: kesombongan, kelalaian, ketergantungan kepada manusia, kecintaan berlebihan kepada dunia, atau hati yang terlalu jauh dari mengingat Allah.
Tidak semua luka datang untuk menghancurkan. Sebagian luka datang untuk membangunkan. Sebagian kehilangan mengajarkan bahwa dunia bukan tempat bergantung selamanya. Sebagian kegagalan mengajarkan tawakal. Sebagian kesendirian mengajarkan munajat. Dan sebagian penderitaan menjadi jalan bagi seorang hamba untuk kembali mengenal kelemahan dirinya dan kebesaran Tuhannya.
Karena itu, jika hari ini sedang diuji, jangan merasa bahwa hidupmu telah kehilangan arah. Dekatkan diri kepada Allah, perbanyak istighfar, tegakkan salat, bacalah Al-Qur’an, mintalah pertolongan dengan sabar dan salat, serta tetaplah berbuat baik meskipun keadaan belum berubah. Ingatlah bahwa Allah tidak menyia-nyiakan kesabaran seorang hamba.
Boleh jadi, suatu hari nanti, ketika luka itu telah sembuh, kita akan memahami bahwa Allah tidak sedang menghancurkan hidup kita. Dia sedang membentuk hati kita agar lebih bersih, lebih rendah hati, lebih kuat, dan lebih dekat kepada-Nya. Maka bersabarlah. Tidak semua yang menyakitkan adalah keburukan. Ada penderitaan yang, dengan izin Allah, justru menjadi jalan pulang menuju-Nya. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
