Renungan Rabu Pagi:
Sering kali keberhasilan seseorang terlihat seperti keberuntungan. Padahal, di balik pencapaian itu mungkin ada doa panjang, air mata, kegagalan, pengorbanan, kesabaran, dan perjuangan yang tidak pernah terlihat. Dalam pandangan Islam, usaha yang sungguh sungguh bukan sekadar jalan menuju hasil, tetapi bagian dari ibadah yang akan dinilai Allah.
Manusia sering melihat hasil, tetapi Allah mengetahui seluruh proses. Orang lain mungkin hanya melihat seseorang ketika ia berhasil, memiliki pekerjaan baik, hidup berkecukupan, atau mencapai cita cita. Mereka tidak melihat malam malam ketika ia gelisah, kegagalan yang membuatnya menangis, kesempatan yang terlewat, orang orang yang pergi, serta berbagai keadaan yang memaksanya belajar menjadi lebih kuat.
Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan, “Dia beruntung.” Bisa jadi yang disebut keberuntungan itu adalah buah dari ikhtiar panjang yang dilakukan dengan sabar. Kesempatan memang penting, tetapi kesempatan yang datang tanpa kesiapan sering berlalu begitu saja. Sebaliknya, orang yang terus belajar, bekerja, berdoa, memperbaiki diri, dan tidak mudah menyerah akan lebih siap ketika Allah membuka jalan.
Al Quran memberikan tuntunan yang sangat jelas bahwa manusia memperoleh sesuatu sesuai dengan usaha yang dilakukannya. Allah berfirman dalam Surah An Najm ayat 39:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak boleh dijalani dengan sikap pasif. Seorang Muslim diperintahkan untuk berusaha, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tawakal bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar. Tawakal justru lahir setelah manusia melakukan usaha terbaik yang mampu dilakukannya.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya mengambil sebab dan berusaha. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
Artinya: “Bersungguh sungguhlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengandung tiga tuntunan penting. Pertama, seorang Muslim harus mengejar sesuatu yang bermanfaat. Kedua, usaha itu harus disertai permohonan pertolongan kepada Allah. Ketiga, seseorang tidak boleh menyerah hanya karena menghadapi kesulitan.
Maka, ketika seseorang jatuh berkali kali tetapi tetap bangkit, sesungguhnya ia sedang membangun ketangguhan. Ketika ia gagal lalu belajar, ia sedang bertumbuh. Ketika ia kehilangan sesuatu tetapi tetap melanjutkan kehidupan dengan sabar, ia sedang ditempa menjadi pribadi yang lebih matang.
Allah bahkan menjanjikan bahwa kesulitan tidak berdiri sendirian. Dalam Surah Al Insyirah ayat 5 dan 6, Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Pengulangan ayat tersebut memberikan penguatan bahwa kesulitan bukan akhir perjalanan. Ada ruang bagi kemudahan, ada jalan keluar, dan ada hikmah yang mungkin baru terlihat setelah seseorang melewati masa sulitnya.
Namun, ketekunan dalam Islam bukan berarti mengejar dunia dengan menghalalkan segala cara. Kerja keras harus tetap berada dalam batas halal. Keberhasilan yang dibangun dengan kejujuran akan membawa ketenteraman, sedangkan pencapaian yang diperoleh melalui penipuan, kezaliman, atau mengambil hak orang lain bukanlah keberhasilan yang patut dibanggakan.
Allah berfirman dalam Surah At Taubah ayat 105:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
Artinya: “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang orang mukmin.’”
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap pekerjaan berada dalam pengetahuan Allah. Bahkan ketika manusia tidak menghargai perjuangan kita, Allah tidak pernah luput dari apa yang kita kerjakan.
Karena itu, jangan berkecil hati jika perjuanganmu belum menghasilkan sesuatu yang besar. Bisa jadi Allah sedang membentukmu sebelum memberikan apa yang kamu harapkan. Jangan iri kepada seseorang yang tampak lebih dahulu berhasil. Kita tidak pernah mengetahui berapa panjang perjalanan yang telah ditempuhnya, sebagaimana kita juga tidak mengetahui rencana Allah terhadap perjalanan hidup kita sendiri.
Ada orang yang cepat memperoleh hasil. Ada pula yang harus berjalan lebih jauh. Ada yang mendapatkan kesempatan sejak muda. Ada yang baru menemukan jalannya setelah berkali kali gagal. Semuanya memiliki waktu masing masing. Tugas manusia bukan membandingkan garis waktunya dengan orang lain, melainkan memastikan bahwa hari ini dirinya lebih baik daripada kemarin.
Jika sedang lelah, beristirahatlah, tetapi jangan menyerah. Jika gagal, evaluasilah, tetapi jangan menganggap diri tidak berharga. Jika diremehkan, jangan membalas dengan kebencian. Jadikan keraguan orang lain sebagai alasan untuk memperbaiki kualitas diri, bukan sebagai alasan untuk menyimpan dendam.
Keberhasilan yang paling penting bukan hanya ketika seseorang memperoleh banyak harta, jabatan, popularitas, atau pengakuan manusia. Keberhasilan yang hakiki adalah ketika perjalanan panjang itu membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, semakin jujur, semakin rendah hati, semakin bermanfaat, dan semakin kuat menghadapi kehidupan.
Sebab perjuangan yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah benar benar sia sia. Jika hasil dunia belum datang, mungkin Allah sedang memberikan pahala, pengalaman, kedewasaan, atau jalan menuju sesuatu yang lebih baik. Manusia hanya melihat hasil hari ini, sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan.
Maka teruslah melangkah. Berdoalah dengan sungguh sungguh. Belajarlah tanpa henti. Bekerjalah dengan jujur. Perbaiki kekurangan. Jangan mudah menyerah. Ketika kesempatan bertemu dengan ketekunan, manusia sering menyebutnya keberuntungan. Namun bagi seorang Mukmin, di balik semua itu ada ikhtiar, doa, kesabaran, dan ketetapan Allah yang harus disyukuri. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
