MATARAM — Suara mesin belum meraung di lintasan Mandalika, tetapi denyut MotoGP sudah lebih dulu menggetarkan jantung Mataram.
Ribuan masyarakat tumpah ke jalan. Bendera berkibar. Sorak-sorai pecah dari tepian jalan. Kota yang biasanya bergerak dalam ritme kesehariannya, Rabu (7/10/2026), mendadak berubah menjadi panggung besar yang menyambut para pebalap dunia dalam Parade Riders MotoGP 2026 Mandalika, Nusa Tenggara Barat.
Parade dimulai dari Taman Sangkareang dan bergerak menuju Teras Udayana. Sepanjang rute, warga berdiri berjejer, membawa atribut MotoGP, mengabadikan momen dengan telepon genggam, sekaligus memberi sambutan meriah kepada para riders yang menjadi magnet utama perhelatan balap motor kelas dunia tersebut.
Taman Sangkareang menjadi titik awal yang sarat energi. Sebelum rombongan bergerak, suasana semakin semarak dengan tari penyambutan yang membawa warna budaya NTB ke tengah atmosfer olahraga otomotif dunia.
Bendera start kemudian diangkat bersama oleh Gubernur NTB L. M. Iqbal, Wakil Gubernur NTB Dinda Damayanti, Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana, Ibu Bhayangkara Polda NTB Widhy Kalingga Rendra Raharja serta perwakilan InJourney dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA), turut hadir melepas parade.
Dari titik itu, rombongan riders melaju. Jalanan Mataram bukan lagi sekadar jalur lalu lintas. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat, olahraga, pariwisata, budaya dan ekonomi kreatif.
Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar deru mesin dalam parade ini.
MotoGP telah menjadikan Mandalika sebagai salah satu panggung olahraga paling bergengsi di dunia. Tetapi sebelum dunia menyaksikan pertarungan di lintasan, Mataram menunjukkan wajah lain NTB: kota yang ramah, hidup, dan mampu menyambut perhelatan internasional dengan energi masyarakatnya sendiri.
Di sepanjang jalan, warga menjadi bagian dari pertunjukan. Mereka bukan penonton yang membeli tiket. Mereka adalah bagian dari atmosfer yang membuat parade terasa dekat dan membumi.
Dari Sangkareang menuju Udayana, Mataram seperti sedang mengirimkan satu pesan sederhana kepada dunia: MotoGP bukan hanya tentang siapa yang tercepat di lintasan. Ia juga tentang bagaimana sebuah daerah menyambut dunia dengan identitasnya sendiri.
Dan sore itu, identitas tersebut hadir melalui ribuan wajah, kibaran bendera, tari tradisional, sorak warga, serta deru para riders yang membelah jalanan kota.
Mandalika boleh menjadi arena pertarungan.
Tetapi Mataram menunjukkan bahwa sebelum lampu start di lintasan menyala, semangat MotoGP sudah lebih dulu menyala di tengah kotanya.**(TK-DISKOMINFO)
