MATARAM – Jalan raya bukan hanya tempat menguji kemampuan mengendalikan sepeda motor, tetapi juga tempat menguji kemampuan mengendalikan emosi. Bagi pengendara muda, situasi sederhana seperti disalip, dipotong kendaraan lain, diklakson, atau melihat pengendara lain melakukan kesalahan bisa memicu emosi dan membuat keputusan berkendara menjadi tidak rasional.
Instruktur Safety Riding Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya, mengingatkan generasi Z untuk tidak membawa emosi ke atas sepeda motor. Menurutnya, ketika emosi mengambil alih, kemampuan seseorang dalam membaca risiko dan mengambil keputusan dapat menurun.
“Jangan baper di jalan. Ketika emosi naik, logika sering kali turun. Kita bisa merasa harus membalas, mengejar, atau menunjukkan bahwa kita juga bisa lebih cepat. Padahal, jalan raya bukan tempat untuk melampiaskan emosi,” ujar Satria.
Menurut Satria, salah satu bentuk emosi yang sering muncul adalah ketika pengendara merasa tidak dihargai oleh pengguna jalan lain. Misalnya ketika tiba-tiba disalip dari sisi yang tidak semestinya, dipotong jalurnya, atau dibunyikan klakson oleh pengendara lain.
Dalam kondisi seperti itu, respons paling aman bukan membalas tindakan tersebut.
“Kalau ada yang memotong kita, jangan langsung mengejar. Kalau ada yang menyalip dengan cara yang membuat kita kesal, jangan dibalas dengan melakukan hal yang sama. Kita tidak pernah tahu kondisi pengendara tersebut dan apa yang akan terjadi beberapa meter di depan,” jelasnya.
Satria menyebut kemampuan untuk “mengalah” justru merupakan salah satu bentuk skill berkendara. Mengurangi kecepatan, memberikan ruang, atau membiarkan kendaraan lain mendahului bukan berarti pengendara kalah. Sebaliknya, tindakan tersebut menunjukkan bahwa pengendara mampu mengendalikan ego dan memahami risiko.
Satria mengajak pengendara muda mengenali tiga kondisi emosional yang dapat memengaruhi perilaku berkendara.
Pertama, emosi karena disalip.
Jangan menjadikan kecepatan sebagai ajang pembuktian. Kendaraan yang menyalip tidak harus dikejar.
Kedua, emosi karena dipotong.
Berikan ruang dan jaga jarak aman. Hindari melakukan manuver spontan untuk “membalas”.
Ketiga, emosi karena diklakson atau ditegur.
Tidak semua klakson merupakan bentuk penghinaan. Bisa saja pengendara lain sedang memberikan peringatan karena melihat adanya potensi bahaya.
Selain mengendalikan emosi, Satria mengingatkan pengendara untuk selalu melakukan observasi sebelum melakukan manuver, khususnya ketika hendak berpindah jalur atau mendahului kendaraan.
Salah satu prinsip yang dapat diterapkan adalah 4T: Tunggu sejenak, Tengok kanan, Tengok kiri, kemudian Tengok kanan lagi.
Prinsip tersebut membantu pengendara tidak mengambil keputusan secara spontan, terutama ketika melewati persimpangan atau menghadapi kondisi lalu lintas yang padat.
Untuk mendahului kendaraan, pengendara juga harus memastikan kondisi benar-benar aman. Jangan melakukan manuver di tikungan, area dengan jarak pandang terbatas, persimpangan, atau ketika terdapat marka yang tidak memperbolehkan mendahului. Perhatikan pula kendaraan di depan yang menyalakan lampu sein karena dapat menjadi tanda akan berbelok atau berpindah arah.
“Satu detik menahan emosi bisa menyelamatkan kita dari keputusan yang salah. Tidak perlu membuktikan siapa yang paling hebat di jalan. Yang paling hebat adalah pengendara yang mampu tetap tenang ketika situasi tidak sesuai dengan keinginannya,” ungkap Satria.
Ia menambahkan bahwa budaya keselamatan berkendara harus dimulai dari kemampuan menghargai pengguna jalan lain.
Karena itu, Satria mengajak Gen Z untuk mengubah cara pandang terhadap safety riding. Safety riding bukan hanya soal teknik mengendarai sepeda motor, tetapi juga tentang attitude, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri.
“Kalau ada yang membuat kita kesal di jalan, tarik napas, kurangi kecepatan, dan kembali fokus pada tujuan. Kita berkendara bukan untuk menang melawan orang lain, tetapi untuk sampai dengan selamat,” tutup Satria.
Jago Cari Aman bukan berarti takut mengambil keputusan. Jago Cari Aman berarti tahu kapan harus maju, kapan harus menunggu, dan kapan harus mengalah. (Tim KM MD Astra Motor NTB)
