Renungan Jumat Pagi:
Pakaian yang menutup aurat adalah bagian penting dari ketaatan, tetapi kesalehan tidak berhenti pada penampilan. Kedewasaan seorang Muslim justru tampak ketika hati mampu mengendalikan nafsu, lisan menjaga kehormatan, dan perilaku menghadirkan kebaikan. Karena itu, jangan merasa telah menjadi baik hanya karena tampilan telah berubah. Perubahan sejati bermula dari hati, lalu tercermin dalam akhlak setiap hari.
Islam tidak pernah meremehkan pakaian. Menutup aurat merupakan tuntunan syariat dan pakaian juga menjadi nikmat Allah bagi manusia. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 26:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya: “Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa manusia memiliki dua kebutuhan yang harus berjalan bersama: memperhatikan penampilan lahiriah dan membangun ketakwaan batiniah. Pakaian dapat menutup sesuatu yang terlihat oleh mata, tetapi takwa menjaga sesuatu yang tersembunyi dari pandangan manusia.
Seseorang dapat mengenakan pakaian yang sangat sopan, berbicara dengan istilah agama, bahkan tampak begitu santun di hadapan banyak orang. Namun, ukuran kedewasaan tidak cukup dinilai dari apa yang tampak. Ketika sendirian, ketika keinginannya ditolak, ketika mendapat kritik, ketika berada dalam keadaan marah, atau ketika memiliki kesempatan melakukan sesuatu tanpa diketahui orang lain, di situlah kualitas jiwa lebih mudah terlihat.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan bukan sekadar penampilan fisik. Dalam hadis sahih riwayat Muslim, beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
Hadis ini bukan alasan untuk mengabaikan pakaian atau penampilan yang sesuai syariat. Sebaliknya, hadis ini mengingatkan agar kesalehan lahiriah tidak dipisahkan dari pembenahan batin. Pakaian yang baik hendaknya menjadi bagian dari ketaatan, bukan sekadar identitas untuk memperoleh pengakuan manusia.
Kedewasaan dalam Islam sangat dekat dengan kemampuan mengendalikan diri. Orang yang dewasa bukan orang yang tidak pernah marah, tidak pernah kecewa, atau tidak pernah memiliki keinginan. Ia adalah orang yang belajar mengendalikan semua itu agar tidak menyeretnya kepada dosa dan kezaliman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya: “Orang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Maka, jangan hanya bertanya, “Apakah pakaian saya sudah Islami?” tetapi tanyakan pula, “Apakah lisan saya sudah terjaga? Apakah saya mudah merendahkan orang? Apakah saya mampu meminta maaf? Apakah saya dapat menahan amarah? Apakah saya tetap jujur ketika tidak ada yang mengawasi? Apakah saya mampu menjaga pandangan dan hati ketika tidak seorang pun mengetahuinya?”
Allah bahkan menjadikan perjuangan membersihkan jiwa sebagai jalan keberuntungan. Dalam Surah Asy-Syams ayat 9–10, Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Inilah inti tazkiyatun nafs. Manusia tidak cukup memperindah wajah, pakaian, rumah, atau citra di hadapan manusia. Ia harus berusaha memperindah hati di hadapan Allah. Sebab manusia mungkin tertipu oleh penampilan, tetapi Allah mengetahui sesuatu yang disembunyikan di dalam dada.
Karena itu, pakaian agamis hendaknya menjadi pintu menuju akhlak yang lebih baik, bukan berhenti sebagai simbol. Semakin seseorang memahami agama, semestinya semakin lembut lisannya, semakin rendah hati sikapnya, semakin mampu mengendalikan hawa nafsunya, dan semakin besar kepeduliannya kepada sesama.
Kain memang dapat menutup aurat, tetapi hanya ketakwaan yang dapat menjaga martabat. Penampilan yang baik adalah keindahan lahiriah. Akhlak yang baik adalah keindahan yang hidup. Keduanya akan semakin bermakna ketika dipertemukan dalam diri seorang Muslim yang terus belajar memperbaiki dirinya.
Jangan sibuk membuktikan kesalehan kepada manusia, sementara hati masih haus pujian. Jangan merasa telah dewasa hanya karena tampak santun di luar, sementara emosi masih mudah melukai orang lain. Kedewasaan sejati adalah perjalanan panjang untuk menundukkan ego, membersihkan niat, mengendalikan nafsu, menjaga lisan, dan tetap memilih kebaikan meskipun tidak ada seorang pun yang melihat.
Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana kita terlihat di hadapan manusia, melainkan bagaimana keadaan hati kita ketika berdiri di hadapan Allah. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
