Renungan Selasa Pagi.
Banyak manusia mengejar pujian hingga lupa bahwa hidup bukan panggung untuk memuaskan pandangan manusia. Ketika nama, kedudukan, dan sanjungan menjadi tujuan, hati mudah tersesat dalam kesombongan yang halus. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari keikhlasan, ketaatan, dan keridaan Allah. Karena itu, setiap cita-cita perlu diperiksa: apakah benar mendekatkan kita kepada-Nya atau justru menjauhkan kita dari jalan keselamatan akhirat kelak?
Hidup akan terasa hampa apabila seluruh perjuangan hanya diarahkan untuk memperoleh pengakuan manusia. Seseorang dapat bekerja keras, membangun nama, mengejar kedudukan, memperbanyak harta, bahkan melakukan banyak hal yang tampak hebat, tetapi jika tujuan terdalamnya hanyalah agar dipuji, maka ia sedang mempertaruhkan ketenangan jiwanya kepada penilaian manusia yang selalu berubah.
Pujian manusia tidak pernah menjadi ukuran mutlak kemuliaan. Hari ini seseorang dipuji, besok mungkin dilupakan. Hari ini disebut hebat, esok dapat dicela. Jika hati menggantungkan kebahagiaan kepada ucapan manusia, maka hidup akan mudah berubah mengikuti komentar, penilaian, dan pandangan orang lain. Padahal manusia diciptakan bukan untuk menjadi budak penilaian sesama manusia, melainkan untuk beribadah kepada Allah.
Allah berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Ayat ini mengembalikan manusia kepada tujuan hidup yang paling mendasar. Kita boleh memiliki cita-cita, bekerja, berdagang, menuntut ilmu, membangun usaha, memperoleh jabatan, menjadi orang terpandang, dan meraih keberhasilan. Namun semua itu harus berada dalam bingkai pengabdian kepada Allah. Kesuksesan dunia bukan masalah selama ia tidak membuat manusia lupa kepada Penciptanya.
Yang berbahaya bukanlah ketika seseorang memiliki nama baik, tetapi ketika ia hidup demi nama baik. Yang berbahaya bukanlah ketika seseorang dipuji, tetapi ketika ia tidak mampu hidup tanpa pujian. Yang berbahaya bukanlah ketika seseorang memperoleh kedudukan, tetapi ketika kedudukan membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain dan lupa bahwa semua itu hanyalah titipan Allah.
Allah mengingatkan tentang orang-orang yang menyangka telah melakukan kebaikan, padahal mereka tersesat dalam penilaian terhadap amalnya. Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 103–104:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.”
Betapa dalam peringatan tersebut. Ada manusia yang bukan hanya berbuat salah, tetapi bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam kesalahan. Ia mengira jalan yang ditempuhnya adalah jalan terbaik karena banyak orang memujinya. Ia menganggap keberhasilan materi sebagai tanda bahwa Allah meridai seluruh langkahnya. Padahal ukuran kebenaran bukanlah banyaknya tepuk tangan, tingginya kedudukan, atau besarnya pengakuan manusia.
Karena itu, seorang mukmin perlu sering memeriksa niat. Untuk siapa ia bekerja? Untuk siapa ia belajar? Untuk siapa ia berbicara? Untuk siapa ia membantu? Untuk siapa ia membangun nama? Untuk siapa ia mengejar keberhasilan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena amal yang tampak besar di mata manusia dapat menjadi kecil di sisi Allah apabila kehilangan keikhlasan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia tuju.”
Hadis ini mengajarkan bahwa arah batin menentukan nilai perjalanan seseorang. Dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama, tetapi memperoleh nilai yang berbeda di sisi Allah karena perbedaan niat. Karena itu, jangan hanya bertanya apakah pekerjaan kita berhasil. Tanyakan pula apakah keberhasilan itu membawa kita semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh dari-Nya.
Puja puji pada hakikatnya milik Allah. Manusia hanya memperoleh sedikit keindahan, kemampuan, kecerdasan, kekayaan, dan kesempatan karena semuanya berasal dari karunia-Nya. Maka ketika seseorang dipuji, seharusnya ia tidak mabuk oleh sanjungan. Ia justru mengembalikan pujian itu kepada Allah dalam hatinya dan menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang sedang menerima amanah.
Kehidupan akan menjadi lebih ringan ketika kita berhenti menjadikan pandangan manusia sebagai pusat kehidupan. Kita tidak harus membuktikan diri kepada semua orang. Kita tidak harus membuat semua orang menyukai kita. Kita tidak harus menjelaskan seluruh kebaikan yang kita lakukan. Cukuplah Allah mengetahui niat, perjuangan, air mata, kesungguhan, dan amal yang tersembunyi.
Justru amal yang tidak diketahui manusia sering menjadi tempat tumbuhnya keikhlasan. Sedekah yang tidak diumumkan, doa yang tidak diketahui siapa pun, tahajud yang hanya disaksikan Allah, pertolongan yang tidak dipublikasikan, serta kesabaran yang tidak dipuji manusia dapat menjadi bekal besar ketika seluruh pujian dunia telah berhenti.
Maka jangan sampai kita memperoleh banyak sebutan di dunia, tetapi kehilangan kedudukan di hadapan Allah. Jangan sampai manusia mengenal kita sebagai orang baik, sementara hati kita jauh dari kebaikan. Jangan sampai kita sibuk membangun citra di hadapan manusia, tetapi lalai membangun hubungan dengan Allah.
Hidup bukan tentang seberapa sering nama kita disebut, seberapa tinggi manusia mengangkat kita, atau seberapa banyak orang mengagumi kita. Hidup adalah perjalanan menuju Allah. Apa pun yang kita miliki akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir, harta akan berpindah, tubuh akan melemah, popularitas akan hilang, dan manusia yang dahulu memuji pun akan melanjutkan kehidupannya.
Yang tersisa adalah amal dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Karena itu, luruskan kembali impian. Jika ingin kaya, jadikan kekayaan sebagai sarana kebaikan. Jika ingin terkenal, jangan menjadikan ketenaran sebagai tujuan. Jika ingin memiliki kedudukan, gunakan kedudukan untuk melayani. Jika ingin dipuji, ingatlah bahwa pujian terbesar adalah ketika Allah menerima amal kita. Dan jika dunia memberikan penghormatan, jangan biarkan penghormatan itu mencuri kerendahan hati.
Cukuplah Allah sebagai tujuan. Cukuplah keridaan-Nya sebagai ukuran. Sebab ketika hati telah menemukan Allah, manusia tidak lagi terlalu gelisah karena pujian ataupun celaan. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, berbuat baik dengan tulus, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Itulah jalan yang membuat kehidupan tidak sia-sia: mengejar ridha-Nya, bukan mengejar tepuk tangan manusia. [Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd]
