Renungan Senin Pagi:
Waktu tidak pernah berhenti menunggu manusia yang terlena. Anak sekolah menjadi pekerja, remaja menjadi pasangan hidup, lalu keluarga bertambah dengan hadirnya anak. Usia terus berjalan menuju batas yang tidak diketahui. Karena itu, pertambahan umur seharusnya diiringi pertambahan iman, ilmu, amal, dan ketakwaan, agar setiap hari menjadi kesempatan untuk mendekat kepada Allah dan memperbaiki diri dengan sungguh sebelum kesempatan itu berakhir.
Ada sesuatu yang sering luput kita renungkan. Kita begitu mudah menyadari bahwa usia bertambah, tetapi belum tentu menyadari bahwa kesempatan hidup sebenarnya semakin berkurang. Ketika angka umur bertambah satu tahun, sesungguhnya jatah kehidupan kita di dunia juga semakin dekat kepada batas akhirnya.
Yang dahulu masih duduk di bangku sekolah, kini telah bekerja. Yang dahulu menikmati masa remaja, kini telah menikah. Yang dahulu baru membangun rumah tangga, kini telah memiliki anak. Waktu bergerak tanpa suara. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kita berubah secara fisik dan keadaan, tetapi pertanyaannya, apakah iman dan ketakwaan kita juga bertumbuh?
Allah mengingatkan manusia agar senantiasa melakukan perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Allah berfirman dalam Al Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS Ar Ra’d ayat 11.
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan bukan sekadar keinginan yang diucapkan, tetapi harus disertai kesungguhan untuk memperbaiki diri. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai taat. Jangan menunggu tua untuk memperbanyak ibadah. Jangan menunggu mendapat musibah untuk mengingat Allah. Jangan menunggu ajal terasa dekat untuk bertobat.
Manusia memang tidak luput dari kesalahan. Kita mempunyai kekurangan, pernah berbuat dosa, pernah lalai, bahkan mungkin berkali kali jatuh pada kesalahan yang sama. Namun dosa bukan alasan untuk mempertahankan kemaksiatan. Pintu pertobatan selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah, “Wahai hamba hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS Az Zumar ayat 53.
Karena itu, jangan pernah mengatakan, “Saya sudah terlalu banyak dosa untuk berubah.” Justru karena banyak dosa, kita semakin membutuhkan ampunan Allah. Pertobatan bukan tanda bahwa seseorang telah sempurna. Pertobatan adalah tanda bahwa seseorang masih ingin kembali kepada Tuhannya.
Rasulullah ﷺ juga memberikan kabar yang sangat menggembirakan:
التَّوْبَةُ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا
“Pertobatan menghapus dosa dosa yang telah dilakukan sebelumnya.” HR Muslim dalam makna hadis tentang masuk Islam dan pertobatan yang menghapus dosa sebelumnya.
Maka jangan biarkan masa lalu menjadi alasan untuk menghancurkan masa depan. Jika kemarin kita lalai, hari ini kita dapat memperbaikinya. Jika kemarin jarang membaca Al Qur’an, hari ini kita dapat mulai membacanya. Jika kemarin shalat masih sering terlambat, hari ini kita dapat belajar menjaga waktunya. Jika pernah menyakiti orang lain, kita dapat meminta maaf dan memperbaiki hubungan.
Alih alih menghitung berapa banyak umur yang telah berlalu, lebih baik kita menghitung berapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan. Sebab manusia tidak pernah diberi kepastian mengenai berapa lama lagi ia akan hidup.
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” QS Ali Imran ayat 185.
Inilah alasan mengapa kesempatan hari ini tidak boleh disia siakan. Kita tidak mengetahui apakah esok masih menjadi milik kita. Bisa jadi seseorang merencanakan banyak kebaikan untuk hari berikutnya, tetapi malam ini menjadi malam terakhirnya.
Imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah memberikan nasihat yang sangat dalam:
تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ، فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ
“Berbuat baiklah pada sisa umurmu, niscaya akan diampuni bagimu apa yang telah berlalu. Namun jika engkau tetap berbuat buruk pada sisa umurmu, engkau akan diperhitungkan karena apa yang telah berlalu dan apa yang masih tersisa.”
Nasihat ini bukan alasan untuk memastikan bahwa seluruh dosa masa depan pasti diampuni. Maknanya adalah dorongan agar seseorang menggunakan sisa hidupnya untuk kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan. Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi sikap kita terhadap masa lalu dapat diubah melalui taubat, perbaikan, dan amal saleh.
Maka mulai hari ini, mari kita memperbaiki diri. Tidak harus dengan perubahan besar yang langsung terlihat manusia. Mulailah dari shalat yang lebih baik, doa yang lebih sungguh sungguh, membaca Al Qur’an, menjaga lisan, memperbaiki akhlak, menunaikan amanah, mencari rezeki yang halal, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, serta memperbanyak sedekah dan amal yang bermanfaat.
Jangan menunggu usia tua untuk menjadi hamba yang taat. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan untuk mensyukuri nikmat. Dan jangan menunggu kematian mendekat untuk menyadari bahwa kehidupan adalah amanah.
Semoga Allah memperbaiki sisa usia kita, mengampuni dosa dosa kita yang telah lalu, meneguhkan hati kita dalam ketaatan, serta menjadikan hari hari yang tersisa lebih baik daripada hari hari yang telah berlalu.
Sebab yang paling penting bukan sekadar berapa panjang usia kita, melainkan untuk apa usia itu kita gunakan. Semoga ketika waktu benar benar berhenti bagi kita, Allah mendapati kita sedang berada dalam keadaan beriman, bertaubat, dan berusaha melakukan kebaikan. Aamiin. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
