Renungan Selasa Pagi:
Hidayah adalah anugerah Allah yang sangat berharga, sedangkan istiqamah merupakan perjuangan panjang untuk menjaga anugerah itu agar tetap hidup dalam hati. Menjadi baik membutuhkan kesungguhan, tetapi mempertahankan kebaikan memerlukan kesabaran, keikhlasan, dan pertolongan Allah. Semoga kita tidak hanya dipertemukan dengan iman, tetapi juga diteguhkan di atasnya hingga menghadap Allah dalam keadaan husnul khatimah.
Hidayah bukan sekadar kemampuan membedakan yang benar dan yang salah, melainkan karunia yang menggerakkan hati untuk mencintai kebenaran, menerima nasihat, meninggalkan kemaksiatan, dan menapaki jalan yang diridai Allah. Betapa banyak manusia mengetahui kebaikan, tetapi tidak semua mampu mengamalkannya. Betapa banyak pula yang telah memulai perjalanan menuju Allah, tetapi kemudian melemah ketika diuji oleh dunia, godaan hawa nafsu, dan bisikan setan. Karena itu, jangan pernah merasa aman dengan keadaan iman hari ini, sebab hati manusia membutuhkan pertolongan Allah setiap saat.
Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 8:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8).
Doa tersebut mengajarkan bahwa orang beriman tidak cukup hanya bersyukur karena telah memperoleh hidayah. Ia juga harus memohon agar hatinya tidak menyimpang setelah mengenal kebenaran. Sebab, ujian kehidupan dapat datang dalam berbagai bentuk: kekayaan yang melalaikan, jabatan yang menumbuhkan kesombongan, pujian yang merusak keikhlasan, kesulitan yang menggoyahkan kesabaran, bahkan amal saleh yang menimbulkan rasa bangga terhadap diri sendiri.
Istiqamah bukan berarti seseorang tidak pernah melakukan kesalahan. Istiqamah adalah kesungguhan untuk terus berada di jalan Allah, menjaga ketaatan, dan segera kembali ketika tergelincir dalam dosa. Orang yang istiqamah bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, melainkan orang yang tidak menjadikan kejatuhannya sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Ia bertobat ketika bersalah, bersyukur ketika memperoleh nikmat, bersabar ketika ditimpa musibah, dan terus berusaha memperbaiki hubungannya dengan Allah serta sesama manusia.
Allah berfirman dalam Surah Fussilat ayat 30:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, akan turun kepada mereka para malaikat dengan berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30).
Ayat ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan istiqamah. Mengakui Allah sebagai Tuhan bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan melalui ketaatan dan keteguhan menjalani kehidupan sesuai tuntunan-Nya. Iman harus tercermin dalam salat yang dijaga, kejujuran yang dipertahankan, amanah yang ditunaikan, lisan yang dikendalikan, serta kepedulian kepada orang lain yang diwujudkan dalam perbuatan nyata.
Rasulullah ﷺ juga memberikan tuntunan penting tentang istiqamah. Dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam yang tidak perlu aku tanyakan lagi kepada siapa pun setelah engkau.’ Beliau bersabda:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Artinya: “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.” (HR. Muslim, no. 38).
Jawaban Rasulullah ﷺ sangat singkat, tetapi mengandung tuntunan yang luas. Iman harus diikuti keteguhan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tidak cukup seseorang mengaku beriman ketika berada di masjid, tetapi melupakan Allah ketika berhadapan dengan kepentingan dunia. Tidak cukup pula seseorang tampak saleh di hadapan manusia, tetapi mengabaikan kejujuran ketika tidak ada yang melihatnya.
Kita juga perlu menyadari bahwa penampilan lahiriah seseorang tidak selalu menggambarkan keadaan akhir kehidupannya. Orang yang hari ini tampak baik tidak boleh merasa pasti akan memperoleh akhir yang baik sehingga meremehkan dosa. Sebaliknya, orang yang pernah terjerumus dalam kesalahan tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih hidup, pintu tobat tetap terbuka, dan kesempatan memperbaiki diri masih ada.
Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini bukan alasan untuk meremehkan dosa, melainkan undangan agar manusia kembali kepada Allah dengan pertobatan yang sungguh-sungguh. Jangan menunda tobat hanya karena merasa masih muda, masih memiliki banyak waktu, atau menganggap kesempatan memperbaiki diri akan selalu tersedia. Kematian tidak pernah meminta persetujuan manusia, dan tidak seorang pun mengetahui kapan perjalanan hidupnya berakhir.
Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang pentingnya keadaan akhir seseorang melalui sabdanya:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Artinya: “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini mengajarkan agar kita tidak terpedaya oleh pencapaian masa lalu dan tidak meremehkan keadaan diri pada masa sekarang. Amal yang baik harus dijaga dengan keikhlasan, sedangkan kesalahan harus disusul dengan penyesalan dan perbaikan. Kita tidak berhak memastikan seseorang berakhir dalam kebahagiaan atau kebinasaan hanya berdasarkan penampilan sesaat, sebab pengetahuan tentang isi hati dan akhir kehidupan manusia berada dalam kekuasaan Allah.
Lalu, bagaimana menjaga istiqamah dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, peliharalah salat lima waktu karena salat merupakan tiang agama dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Kedua, biasakan membaca dan memahami Al-Qur’an, meskipun sedikit, tetapi dilakukan secara rutin. Ketiga, pilihlah lingkungan pergaulan yang mengingatkan kepada kebaikan. Keempat, jagalah lisan dan perilaku, sebab kesalehan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kejujuran, amanah, kerendahan hati, serta kemampuan menjaga hak sesama manusia.
Kelima, jangan meremehkan dosa kecil yang dilakukan berulang-ulang. Keenam, jangan membiarkan satu kegagalan menghancurkan seluruh semangat untuk berubah. Ketujuh, perbanyak doa agar Allah meneguhkan hati. Semua ikhtiar tersebut perlu disertai kesadaran bahwa manusia tidak mampu menjaga dirinya tanpa pertolongan Allah.
Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya: “Wahai Zat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 2140).
Jika Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini, kita semakin memahami bahwa menjaga iman bukan perkara yang boleh dianggap ringan. Oleh sebab itu, jangan hanya berdoa ketika menghadapi kesulitan. Berdoalah pula ketika hidup terasa lapang, ketika rezeki melimpah, ketika usaha berhasil, dan ketika segala sesuatu berjalan sesuai harapan. Sebab, kelapangan juga merupakan ujian yang dapat menentukan apakah seseorang semakin bersyukur atau justru semakin jauh dari Allah.
Kehidupan bukan perlombaan untuk terlihat paling saleh di hadapan manusia, melainkan perjalanan untuk menjadi hamba yang tulus dalam pengabdian kepada Allah. Jangan sibuk menilai akhir kehidupan orang lain, tetapi sibukkanlah diri dengan memperbaiki amal sendiri. Jangan merasa lebih mulia karena masa lalu yang baik, dan jangan merendahkan seseorang karena masa lalunya yang kelam. Bisa jadi orang yang sedang berjuang memperbaiki diri memperoleh rahmat Allah yang luas, sementara orang yang merasa aman justru lalai menjaga hatinya.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hidayah yang menerangi jalan kehidupan, iman yang menguatkan langkah, hati yang bersih dari kesombongan, serta kesabaran untuk terus berbuat baik. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, melindungi kita dari fitnah kehidupan, dan meneguhkan hati kita di atas Islam dan istiqamah hingga akhir hayat. Semoga ketika ajal menjemput, kita termasuk hamba-hamba yang memperoleh husnul khatimah, diampuni dosa-dosanya, diridai Allah, dan dipertemukan dengan surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
