Renungan Sabtu Pagi:
Ada nikmat besar yang sering tidak disadari manusia, yaitu hati yang masih merasa malu ketika hendak melakukan dosa. Rasa malu kepada Allah merupakan penjaga iman, pengingat ketika hawa nafsu menggoda, dan cahaya yang menuntun langkah menuju kebaikan. Apabila rasa malu itu melemah, seseorang perlu segera memperbaiki diri sebelum hatinya terbiasa dengan kemaksiatan dan semakin jauh dari petunjuk Allah.
Dalam kehidupan seorang muslim, rasa malu bukanlah sekadar perasaan tidak enak ketika diketahui orang lain. Rasa malu yang sesungguhnya adalah kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Seseorang yang memiliki rasa malu kepada Allah akan berusaha menjaga perkataan, perbuatan, pandangan, dan niatnya, sekalipun tidak ada manusia yang menyaksikannya. Ia memahami bahwa kemuliaan seorang hamba bukan terletak pada penilaian manusia, melainkan pada ketakwaannya kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ
Artinya: “Rasa malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa rasa malu memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang mukmin. Malu yang dimaksud bukanlah malu mengakui kebenaran, malu bertanya tentang agama, atau malu melakukan kebaikan. Sebaliknya, rasa malu yang terpuji adalah perasaan yang mencegah seseorang dari perbuatan tercela dan mendorongnya untuk menjaga kehormatan diri di hadapan Allah.
Lantas, bagaimana jika rasa malu kepada Allah semakin hilang dari hati seseorang? Ia mungkin mengetahui bahwa berbohong merupakan dosa, tetapi tetap melakukannya tanpa penyesalan. Ia mengetahui bahwa menggunjing, menipu, mengkhianati amanah, mengambil hak orang lain, dan menyakiti sesama merupakan perbuatan tercela, tetapi tetap mengulanginya seolah-olah tidak ada pertanggungjawaban di hadapan Allah. Bahkan, ada orang yang bukan hanya berani melakukan kemaksiatan, melainkan juga membanggakannya dan mengajak orang lain untuk menirunya.
Keadaan seperti ini patut menjadi peringatan bagi setiap muslim. Namun, kita tidak boleh gegabah menyatakan bahwa seseorang telah dibinasakan Allah hanya karena melihat sebagian perilakunya. Hanya Allah yang mengetahui keadaan hati manusia dan kesudahan hidupnya. Yang perlu kita lakukan adalah menjadikan peringatan tersebut sebagai sarana introspeksi, bukan alasan untuk merasa lebih suci daripada orang lain.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 16:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
Artinya: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa hati dapat mengeras apabila seseorang terus-menerus menjauh dari zikir, petunjuk, dan kebenaran. Pada mulanya, ketika melakukan dosa, hatinya mungkin gelisah. Ia merasa bersalah, takut kepada Allah, dan berjanji tidak mengulanginya. Namun, apabila dosa terus dilakukan tanpa kesungguhan untuk bertobat, kepekaan hati dapat semakin berkurang. Perbuatan yang dahulu terasa berat akhirnya dianggap biasa, sedangkan nasihat yang dahulu menyentuh hati mulai diabaikan.
Inilah bahaya yang harus diwaspadai. Bukan hanya banyaknya dosa yang perlu kita khawatirkan, melainkan juga hilangnya kesadaran bahwa dosa itu berbahaya. Orang yang masih menyesali kesalahannya masih memiliki dorongan untuk memperbaiki diri. Akan tetapi, apabila seseorang mulai membenarkan keburukan, menolak nasihat dengan kesombongan, dan merasa tidak perlu bertobat, ia sedang menghadapi persoalan rohani yang serius.
Allah menjelaskan dalam Surah Al-Muthaffifin ayat 14:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14).
Ayat tersebut menerangkan bahwa perbuatan buruk dapat menutupi hati sehingga manusia semakin sulit menerima kebenaran. Dosa bukan sekadar pelanggaran yang berlalu begitu saja, tetapi dapat meninggalkan pengaruh terhadap jiwa, cara berpikir, dan kebiasaan seseorang. Karena itu, jangan pernah meremehkan dosa kecil yang dilakukan berulang-ulang. Kebiasaan buruk yang terus dipelihara dapat menyeret seseorang kepada keburukan yang lebih besar.
Meskipun demikian, Islam tidak mengajarkan kita untuk berputus asa. Selama masih hidup, pintu tobat tetap terbuka. Sebesar apa pun kesalahan seseorang, ia tidak boleh menganggap dirinya tidak mungkin mendapatkan ampunan Allah apabila ia sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini merupakan kabar gembira bagi orang yang ingin memperbaiki diri. Jangan biarkan bisikan setan membuat kita merasa terlalu hina untuk bertobat. Jangan pula menunda kepulangan kepada Allah hanya karena merasa masih muda, masih memiliki banyak kesempatan, atau menganggap dosa yang dilakukan belum seberapa. Tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang. Kesempatan untuk memperbaiki diri adalah karunia yang seharusnya digunakan sebaik-baiknya.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Artinya: “Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang masih dikenal manusia ialah, ‘Jika engkau tidak memiliki rasa malu, berbuatlah sesukamu.’” (HR. Bukhari).
Hadis ini merupakan peringatan keras tentang bahaya hilangnya rasa malu. Maknanya bukan izin untuk melakukan apa saja, melainkan ancaman dan teguran bagi orang yang tidak lagi menjadikan rasa malu sebagai penghalang dari keburukan. Ketika rasa malu telah hilang, seseorang dapat mengikuti hawa nafsunya tanpa mempertimbangkan halal dan haram, manfaat dan mudarat, ataupun pertanggungjawaban di akhirat.
Oleh sebab itu, marilah kita memeriksa keadaan hati masing-masing. Apakah kita masih merasa bersalah ketika menyakiti orang lain? Apakah kita masih berusaha memperbaiki salat ketika menyadari kelalaian? Apakah kita masih tersentuh ketika membaca ayat-ayat Allah? Apakah kita masih bersedia meminta maaf ketika melakukan kesalahan? Jika masih ada penyesalan dan keinginan untuk berubah, syukurilah dorongan itu dengan membuktikannya melalui amal nyata.
Menjaga rasa malu kepada Allah dapat dimulai dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, memilih lingkungan yang baik, menjauhi kebiasaan yang mengundang kemaksiatan, dan segera bertobat setelah berbuat salah. Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, kita juga harus berusaha mengembalikan hak tersebut, meminta maaf, dan memperbaiki kerugian yang telah ditimbulkan sejauh yang mampu dilakukan.
Jangan menunggu hati menjadi keras untuk mulai mendekat kepada Allah. Jangan menunggu musibah datang untuk menyadari pentingnya ketaatan. Jangan menunggu kehilangan sesuatu yang berharga untuk memahami bahwa hidup ini adalah amanah. Orang yang bijaksana bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah, melainkan orang yang bersedia mengakui kesalahannya, mengambil pelajaran, dan terus berusaha kembali ke jalan yang diridai Allah.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap hidup dengan iman, menghiasi diri kita dengan rasa malu yang terpuji, menjauhkan kita dari kesombongan dan kemaksiatan, serta memberi kekuatan untuk bertobat dengan sungguh-sungguh. Semoga kita tidak termasuk orang yang semakin jauh dari kebenaran karena terbiasa melakukan dosa, tetapi termasuk hamba yang segera kembali ketika menyadari kekeliruan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (Dr. Drs. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
