Renungan Jumat Pagi:
Berhati-hatilah dalam memperlakukan sesama manusia, sebab tidak semua orang yang terluka
akan membalas dengan kemarahan. Ada yang memilih diam, menahan air mata, memaafkan dalam kesunyian, dan menyerahkan seluruh kepedihannya kepada Allah. Ingatlah, doa orang yang terzalimi memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya. Jangan sampai kezaliman kita menjadi penyesalan ketika keadilan Allah ditegakkan.
Dalam kehidupan, kita sering kali tidak menyadari bahwa ucapan dan tindakan yang dianggap sepele dapat meninggalkan luka mendalam di hati orang lain. Merendahkan, menghina, memfitnah, mengkhianati kepercayaan, merampas hak, atau mempermainkan perasaan sesama merupakan perbuatan yang harus dihindari. Tidak semua orang mampu membela dirinya, dan tidak semua orang yang diam berarti menerima perlakuan buruk. Sebagian memilih bersabar karena tidak ingin memperpanjang permusuhan, sementara hatinya mengadu kepada Allah Yang Maha Mengetahui.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 148:
لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا
Artinya: “Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 148).
Ayat ini mengingatkan bahwa kezaliman bukan perkara ringan. Allah mengetahui setiap perkataan, tindakan, dan penderitaan yang mungkin tidak disaksikan manusia. Orang yang terzalimi memiliki hak untuk mengungkapkan kezaliman yang dialaminya demi mencari pertolongan dan keadilan, dengan tetap menjaga kebenaran serta tidak melampaui batas.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan tegas tentang doa orang yang terzalimi. Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, beliau bersabda:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
Artinya: “Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.” (HR. Bukhari).
Hadis tersebut mengajarkan agar kita tidak merasa aman ketika menyakiti orang lain hanya karena mereka tidak mampu membalas. Manusia mungkin dapat menyembunyikan perbuatannya dari pandangan masyarakat, tetapi tidak satu pun luput dari pengetahuan Allah. Doa orang yang terzalimi bukan sesuatu yang patut diremehkan. Meski demikian, kita tidak boleh memastikan kapan atau bagaimana suatu doa dikabulkan, sebab semuanya berada dalam kehendak dan kebijaksanaan Allah SWT.
Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap lisan. Sebuah kalimat dapat menjadi penghibur, tetapi juga dapat menghancurkan harga diri seseorang. Jangan menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan ejekan, jangan menyebarkan aib demi memperoleh perhatian, dan jangan menggunakan kedudukan atau kekuasaan untuk menindas mereka yang lebih lemah. Kekuatan sejati bukanlah kemampuan membuat orang lain takut, melainkan kesanggupan mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk menyakiti.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa kesalehan tidak cukup ditunjukkan melalui ibadah pribadi, tetapi juga melalui keamanan dan ketenteraman yang dirasakan orang lain ketika berinteraksi dengan kita. Salat, puasa, dan sedekah seharusnya membentuk akhlak yang baik, menumbuhkan kasih sayang, serta mencegah kita melakukan kezaliman.
Jika pernah menyakiti seseorang, jangan menunggu sampai hubungan benar-benar terputus atau kesempatan meminta maaf menghilang. Akuilah kesalahan dengan tulus, hentikan perbuatan buruk, kembalikan hak yang dirampas, luruskan fitnah, dan perbaiki kerugian yang ditimbulkan. Memohon ampun kepada Allah harus disertai kesungguhan memperbaiki hubungan dengan manusia yang dirugikan. Sebab, kezaliman terhadap sesama berkaitan pula dengan hak orang lain yang tidak boleh diabaikan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ ٧ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ٨
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada perbuatan yang benar-benar sia-sia atau luput dari perhitungan Allah. Karena itu, jangan meremehkan luka yang kita timbulkan dan jangan menganggap kesabaran seseorang sebagai kesempatan untuk terus berbuat semena-mena.
Orang yang memilih diam bukan berarti lemah, dan orang yang bersabar bukan berarti tidak memiliki kemampuan untuk membalas. Bisa jadi, ia sedang menjaga kehormatan dirinya, menghindari permusuhan, dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Namun, kesabaran juga tidak berarti seseorang harus membiarkan kezaliman terus berlangsung. Ia berhak mencari perlindungan, menuntut keadilan, dan menghentikan tindakan yang merugikan dirinya melalui cara yang benar.
Marilah kita membiasakan diri menjaga lisan, menghormati perasaan, menunaikan amanah, dan memperlakukan setiap orang dengan adil. Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari nilai kebaikannya. Jangan menunggu datangnya penyesalan untuk menghentikan kezaliman.
Semoga Allah SWT melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari perbuatan zalim, memberikan kekuatan kepada mereka yang tertindas, serta membimbing kita agar berani meminta maaf dan memperbaiki kesalahan. Sebab, kehidupan yang penuh keberkahan bukanlah kehidupan tanpa perselisihan, melainkan kehidupan yang di dalamnya manusia berusaha menegakkan keadilan, menjaga kehormatan sesama, dan senantiasa takut kepada Allah Yang Maha Adil. (Dr. Drs. H. Muhtadu Hairi, M.Pd)
