Renungan Selasa Pagi
Ada masa ketika seseorang harus berjalan sendiri, bukan karena ditinggalkan, melainkan karena Allah sedang mengajarinya membedakan antara arah yang benar dan keramaian yang menyesatkan. Kesunyian dapat menjadi ruang untuk bermuhasabah, menata niat, mendengar suara hati yang jernih, serta kembali bertanya kepada wahyu. Sebab ukuran kebenaran bukan banyaknya pengikut, tetapi kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Dengan penuh kesadaran dan ketundukan.
Berjalan sendiri tidak selalu berarti kehilangan arah. Terkadang, justru ketika seseorang tidak lagi dikelilingi banyak suara, ia mulai mampu mendengar suara hati dengan lebih jernih. Di tengah keramaian, manusia sering kehilangan kesempatan untuk bertanya kepada dirinya sendiri: ke mana sebenarnya aku sedang berjalan, untuk siapa aku hidup, dan apakah langkah yang sedang ditempuh ini benar-benar diridai Allah?
Kesunyian bukan selalu tanda keterasingan. Ada kesunyian yang menjadi rahmat. Di dalamnya seseorang dapat melakukan muhasabah, mengoreksi niat, mengakui kelemahan, menangisi dosa, memperbaiki kesalahan, dan menyusun kembali arah kehidupannya. Sebaliknya, keramaian tidak selalu menunjukkan kebenaran. Banyak orang dapat berkumpul dalam satu jalan yang keliru, sementara seseorang yang berjalan sendirian dapat tetap berada di atas kebenaran.
Allah mengingatkan manusia agar tidak menjadikan jumlah pengikut sebagai ukuran kebenaran. Allah berfirman dalam Surah Al An’am ayat 116:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang yang ada di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat penting. Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah. Sesuatu tidak otomatis menjadi benar hanya karena banyak orang mengikutinya. Sebaliknya, sesuatu tidak otomatis menjadi salah hanya karena sedikit orang yang menjalankannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering terjebak pada ukuran popularitas. Apa yang ramai dianggap benar. Apa yang banyak dilakukan dianggap baik. Apa yang sedang menjadi kebiasaan dianggap layak diikuti. Padahal Islam mengajarkan ukuran yang berbeda. Ukuran utama adalah wahyu, kebenaran, ketakwaan, dan kesesuaian dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Karena itu, seseorang tidak perlu takut berjalan sendirian ketika ia sedang mempertahankan sesuatu yang benar. Ia tidak perlu merasa rendah hanya karena pilihannya tidak populer. Ia tidak perlu mengubah prinsip hanya agar diterima oleh lingkungan. Yang harus ditakuti bukan kesendirian, tetapi kehilangan arah karena terlalu sibuk mengikuti langkah orang lain.
Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya. Mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.’”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa perjalanan hidup setiap manusia memiliki beban dan ujian masing-masing. Karena itu, tidak bijaksana jika seseorang terus membandingkan perjalanan dirinya dengan perjalanan orang lain. Ada orang yang cepat mencapai tujuan, ada yang harus menempuh jalan panjang. Ada yang dikelilingi banyak sahabat, ada yang harus melewati fase kehidupan dalam kesendirian. Ada yang segera menemukan pasangan, pekerjaan, keberhasilan, dan kemapanan, sementara yang lain harus bersabar lebih lama.
Perbedaan perjalanan bukan berarti perbedaan kasih sayang Allah. Tidak semua keterlambatan merupakan kegagalan. Tidak semua kesendirian merupakan hukuman. Tidak semua kehilangan merupakan keburukan. Terkadang Allah menjauhkan seseorang dari keramaian tertentu agar ia memiliki kesempatan untuk menemukan kembali dirinya, memperbaiki hubungannya dengan Allah, dan memahami bahwa sandaran tertinggi bukanlah manusia, melainkan Allah.
Allah berfirman dalam Surah Ar Ra’d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Inilah hakikat kesunyian yang sehat. Kesunyian bukan sekadar tidak adanya manusia di sekitar kita. Kesunyian yang bernilai adalah keadaan ketika hati memperoleh ruang untuk kembali kepada Allah. Seseorang dapat berada di tengah ribuan manusia tetapi merasa sangat jauh dari Tuhannya. Sebaliknya, seseorang dapat duduk sendirian di sebuah ruangan, tetapi hatinya penuh dengan zikir, doa, syukur, dan keyakinan.
Maka jangan buru-buru menganggap kesendirian sebagai sesuatu yang buruk. Bisa jadi kesendirian itu adalah kesempatan untuk berhenti sejenak. Berhenti mengejar pengakuan. Berhenti mencari validasi manusia. Berhenti memaksakan diri untuk selalu diterima. Berhenti mengikuti arus hanya karena takut berbeda.
Namun, berjalan sendiri juga bukan berarti menolak nasihat dan menjauh dari orang-orang saleh. Islam tidak mengajarkan manusia menjadi pribadi yang keras kepala dan merasa dirinya selalu benar. Justru orang yang berjalan menuju Allah harus memiliki kerendahan hati untuk menerima nasihat, berdiskusi, bertanya kepada orang berilmu, dan mempertimbangkan kebenaran dengan jernih.
Allah berfirman dalam Surah Az Zumar ayat 18:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin bukan manusia yang menutup telinga. Ia mendengar, mempertimbangkan, kemudian mengikuti yang paling baik berdasarkan petunjuk Allah. Dengan demikian, berjalan sendiri bukan berarti berjalan tanpa ilmu. Bukan pula berarti menolak semua orang. Berjalan sendiri berarti memiliki keberanian untuk menentukan langkah berdasarkan kebenaran, meskipun tidak selalu mendapatkan tepuk tangan dari manusia.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang pentingnya memilih lingkungan dan teman. Beliau bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti pembawa minyak kesturi dan pandai besi. Pembawa minyak kesturi mungkin memberimu, atau kamu membeli darinya, atau setidaknya kamu mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” Hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Hadis ini memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar banyak atau sedikitnya teman, tetapi pengaruh yang mereka berikan kepada kehidupan kita. Ada keramaian yang menguatkan iman, tetapi ada pula keramaian yang perlahan mematikan kepekaan hati. Ada pertemanan yang membuat kita semakin dekat kepada Allah, tetapi ada pula pergaulan yang membuat dosa terasa biasa dan nasihat terasa mengganggu.
Karena itu, jangan takut kehilangan sebagian pergaulan jika pergaulan tersebut membawa kita menjauh dari Allah. Kehilangan teman yang buruk terkadang merupakan awal dari ditemukannya lingkungan yang lebih baik. Meninggalkan kebiasaan yang salah terkadang memang terasa sepi pada awalnya. Tetapi kesepian sementara karena menjaga iman jauh lebih baik daripada keramaian yang membawa seseorang semakin jauh dari jalan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” Hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Hadis ini mengajarkan bahwa perjalanan hidup harus dimulai dari pembenahan niat. Jangan sampai seseorang berjalan jauh tetapi tidak pernah bertanya ke mana tujuannya. Jangan sampai langkahnya terlihat hebat di mata manusia, tetapi kosong di hadapan Allah. Jangan sampai kesibukan menjadi alasan untuk melupakan tujuan akhir kehidupan.
Berjalanlah, tetapi pastikan arahnya benar. Berjuanglah, tetapi pastikan niatnya lurus. Pilihlah teman, tetapi jangan menjadikan jumlah teman sebagai ukuran keberhasilan. Carilah lingkungan yang baik, tetapi jangan kehilangan prinsip hanya karena ingin diterima.
Pada akhirnya, manusia memang membutuhkan manusia lain. Kita membutuhkan keluarga, sahabat, guru, ulama, dan orang-orang baik yang dapat mengingatkan ketika kita lupa. Akan tetapi, hati tidak boleh menggantungkan keselamatannya kepada manusia. Manusia bisa datang dan pergi. Manusia bisa berubah. Manusia bisa mengecewakan. Tetapi Allah selalu menjadi tempat kembali.
Allah berfirman dalam Surah At Taubah ayat 40:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Kalimat ini menjadi penghiburan bagi hati yang sedang merasa sendirian. Kesendirian tidak harus membuat kita takut jika kita mengetahui bahwa Allah selalu dekat. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa ketika manusia berkurang di sekitar kita, hubungan kita dengan Allah justru bertambah kuat.
Mungkin hari ini kita sedang berjalan sendiri. Mungkin tidak semua orang memahami pilihan kita. Mungkin ada yang menertawakan prinsip yang kita pertahankan. Mungkin ada yang meninggalkan kita karena kita tidak lagi mengikuti kebiasaan mereka. Jangan tergesa-gesa merasa gagal. Periksa kembali arah perjalanan kita.
Jika langkah itu mendekatkan kita kepada Allah, teruskan dengan sabar. Jika jalan itu membuat kita semakin jujur, semakin rendah hati, semakin menjaga shalat, semakin mencintai kebaikan, semakin menjauhi dosa, dan semakin lembut kepada sesama, jangan takut hanya karena jumlah orang yang berjalan bersama kita sedikit.
Tetapi jika ternyata kesendirian membuat kita sombong, merasa paling benar, menolak nasihat, meremehkan orang lain, dan menganggap hanya diri sendiri yang mendapat petunjuk, maka kita perlu berhenti dan melakukan introspeksi. Sebab kebenaran tidak melahirkan kesombongan. Kebenaran semestinya melahirkan ketundukan.
Jadi, berjalan sendiri bukan berarti kehilangan arah. Yang berbahaya bukan berjalan sendirian, melainkan berjalan tanpa petunjuk. Yang menakutkan bukan sedikitnya orang di sekitar kita, melainkan jauhnya hati dari Allah. Yang perlu dikhawatirkan bukan ketika manusia tidak lagi bertepuk tangan, melainkan ketika kita mulai mengejar tepuk tangan dan melupakan keridaan Allah.
Jika suatu hari jalan kebenaran terasa sunyi, jangan langsung berbalik hanya karena kesunyian itu. Periksa kompas hati, buka kembali Al Qur’an, teladani Rasulullah ﷺ, mintalah nasihat kepada orang yang berilmu dan bertakwa, kemudian berjalanlah dengan sabar.
Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling ramai. Hidup adalah perjalanan untuk sampai kepada Allah dalam keadaan Dia meridai kita.
Tidak semua yang ramai adalah petunjuk. Tidak semua yang sunyi adalah kesesatan. Tidak semua yang berjalan bersama kita akan membawa kita kepada keselamatan. Dan tidak semua yang berjalan sendirian benar-benar sendirian.
Selama Allah menjadi tujuan, wahyu menjadi pedoman, Rasulullah ﷺ menjadi teladan, dan takwa menjadi bekal, kesunyian dapat berubah menjadi ruang pertumbuhan. Di sanalah hati belajar kuat tanpa menjadi keras, belajar sendiri tanpa menjadi sombong, belajar berbeda tanpa membenci, dan belajar berjalan tanpa kehilangan arah.
Berjalanlah dengan tenang. Tidak perlu selalu menjelaskan perjalananmu kepada semua orang. Tidak semua orang harus memahami alasanmu. Cukuplah Allah mengetahui niatmu, mengetahui perjuanganmu, mengetahui air mata yang tidak terlihat, dan mengetahui setiap langkah yang engkau tempuh untuk menjaga kebenaran.
Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada-Nya seorang diri. Karena itu, sejak sekarang belajarlah berdiri dengan iman, berjalan dengan ilmu, melangkah dengan takwa, dan pulang dengan hati yang bersih.
Kesendirian yang ditemani Allah bukanlah kehampaan. Ia adalah ruang untuk menemukan arah, memperbaiki diri, dan menyadari bahwa di balik setiap langkah yang tampak sepi, ada Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencari jalan menuju-Nya. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
