MATARAM — Mira Cahyati sudah bersiap pulang.Hadiah-hadiah doorprize telah dibagikan. Teman-temannya mulai beranjak meninggalkan Lapangan Sangkareang. Bagi Mira, jalan sehat dalam rangka Semarak HUT ke-33 Kota Mataram itu sudah selesai. Ia tak lagi menunggu apa-apa.
Pagi itu, ia datang tanpa ekspektasi besar. Kalau beruntung, mungkin televisi. Hanya itu. Sebab di rumah, Mira memang belum memiliki televisi. Bahkan sebelum berangkat, ia sempat menitipkan sebuah doa sederhana kepada suaminya.
“Tadi saya bilang sama suami, tolong doakan kupon ini, siapa tahu kita bisa dapat TV, karena saya tidak punya TV,” cerita Mira.
Tetapi hidup kadang punya cara sendiri untuk mengubah doa sederhana menjadi cerita yang jauh lebih besar. Ketika Mira hampir benar-benar pulang, suara Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana kembali terdengar dari tengah kerumunan. Ada hadiah tambahan. Sebuah hadiah yang barangkali tak pernah masuk dalam daftar harapan Mira pagi itu. Umroh.
Mira masih menggenggam kuponnya. Dan beberapa saat kemudian, namanya disebut. Mira Cahyati.
Seolah pagi itu sengaja menahannya beberapa menit lebih lama di Lapangan Sangkareang. Seolah langkahnya yang hampir menuju pintu pulang harus berhenti sebentar, karena ada kabar yang sedang menunggunya.
Ia mendapatkan hadiah umroh dalam kegiatan Jalan Sehat Perkuat Kebersamaan Jajaran Pemerintah Kota Mataram, Jumat (4/9/2026). Hadiah itu sontak mengubah suasana hatinya. Bukan lagi tentang televisi. Bukan lagi tentang doorprize. Tetapi tentang perjalanan menuju Tanah Suci yang mungkin selama ini hanya hidup sebagai impian.
Yang membuat kisah Mira terasa semakin dalam adalah apa yang terjadi sebelum namanya dipanggil.
Ia kemudian bertanya kepada suaminya: doa apa yang tadi dipanjatkan untuk kupon tersebut? Jawabannya membuat Mira semakin terharu. Sang suami ternyata tidak secara khusus meminta televisi. Tidak pula meminta hadiah tertentu. Ia hanya berdoa agar istrinya diberi rezeki yang halal dan dijauhkan dari rezeki yang haram.Doa itu sederhana. Namun pagi itu, jawabannya datang dengan cara yang tak pernah mereka rencanakan.
“Terima kasih Pak Wali, semoga Pak Wali tetap sehat sekeluarga dan diberikan kemudahan, serta dilancarkan rezekinya,” ujar Mira, penuh haru.
Di usia ke-33, Kota Mataram memang sedang merayakan perjalanan panjangnya. Tetapi di Lapangan Sangkareang pagi itu, perayaan tersebut menemukan wajah lain: wajah manusia.
Wajah seorang perempuan yang datang sebagai bagian dari keluarga besar Pemerintah Kota Mataram, mengikuti jalan sehat bersama rekan-rekannya, lalu pulang membawa cerita yang mungkin akan dikenangnya seumur hidup.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana, didampingi Ketua TP PKK Kota Mataram,Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, Sekretaris Daerah H. Lalu Alwan Basri, Ketua DWP Kota Mataram Hj. Lale Rasminingsih Alwan Basri, para asisten, seluruh kepala OPD, serta jajaran ASN di lingkup Pemerintah Kota Mataram.
Mereka berjalan bersama. Para pejabat, ASN, dan seluruh jajaran Pemerintah Kota Mataram menyusuri rute jalan sehat dalam suasana yang jauh dari kesan formal. Tak ada podium yang memisahkan. Tak ada meja birokrasi yang membatasi. Yang ada hanyalah langkah-langkah yang bergerak dalam satu arah.
Sebab membangun sebuah kota bukan pekerjaan satu orang. Ia lahir dari kebersamaan. Dari orang-orang yang bekerja di balik meja pelayanan, dari mereka yang turun ke lapangan, dari para petugas yang menjaga kebersihan, hingga mereka yang setiap hari memastikan roda pemerintahan tetap bergerak. Jalan sehat itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar olahraga.Ia menjadi simbol bahwa kebersamaan adalah energi yang membuat sebuah kota terus berjalan.
Dan bagi Mira, Jumat pagi itu akan selalu punya tempat khusus dalam ingatannya. Ia datang dengan sebuah kupon dan doa kecil. Ia hampir pulang tanpa membawa apa-apa. Namun justru ketika ia merasa semuanya telah selesai, namanya dipanggil. Bukan untuk televisi. Melainkan untuk sebuah perjalanan suci.
Kadang, rezeki memang tidak datang sesuai apa yang kita minta.Ia datang dalam bentuk yang membuat kita terdiam, bersyukur, lalu menyadari bahwa mungkin sejak awal, Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Mira datang untuk jalan sehat. Ia hampir pulang. Tetapi pagi itu, sebuah kupon mengubah arah langkahnya.
Di usia ke-33 Kota Mataram, satu hal kembali diingatkan: merawat kota adalah tentang menjaga kebersamaan, sementara menumbuhkan harapan adalah tentang percaya bahwa setiap langkah baik selalu menemukan jalannya.**(TK-DSIKOMINFO)
