Renungan Jumat Pagi
Shalat adalah tiang agama yang menjadi pembeda antara keimanan dan kelalaian. Ketika seorang muslim mulai terbiasa meninggalkan shalat, sesungguhnya ia sedang membiarkan cahaya petunjuk di dalam hatinya semakin redup. Al-Qur’an dan hadis Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat tegas agar setiap mukmin menjaga shalat dalam keadaan apa pun, karena di dalamnya terdapat keselamatan dunia, kebahagiaan akhirat, serta kedekatan yang hakiki dengan Allah SWT.
Di antara nikmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada seorang hamba adalah kemampuan untuk menegakkan shalat lima waktu. Tidak semua manusia mendapatkan taufik untuk menjaga shalatnya. Ada yang sehat tetapi lalai, ada yang kaya tetapi enggan bersujud, bahkan ada pula yang mengaku beriman namun menjadikan shalat sebagai ibadah yang dikerjakan hanya ketika sempat. Kebiasaan seperti inilah yang perlahan-lahan mengeraskan hati, mengikis kepekaan terhadap dosa, dan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah SWT.
Allah SWT telah mengabadikan peringatan yang sangat keras dalam firman-Nya.
﴿فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا﴾
” Maka datanglah sesudah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizalimi sedikit pun.” (QS. Maryam: 59–60)
Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang orang yang sama sekali meninggalkan shalat. Para ulama juga menjelaskan bahwa menyia-nyiakan shalat mencakup menunda-nunda tanpa alasan yang dibenarkan, mengerjakan tanpa kekhusyukan, meremehkan waktunya, hingga menjadikannya bukan sebagai prioritas dalam kehidupan sehari-hari. Semua bentuk kelalaian tersebut merupakan peringatan agar seorang mukmin segera memperbaiki diri sebelum penyesalan datang.
Shalat bukan sekadar gerakan berdiri, rukuk, dan sujud. Shalat adalah pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya. Saat seseorang berdiri menghadap kiblat, ia sedang mengakui kelemahan dirinya dan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, orang yang menjaga shalat sesungguhnya sedang menjaga hubungan yang paling agung dalam hidupnya.
Allah SWT juga berfirman:
﴿حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ﴾
“Peliharalah semua shalatmu dan peliharalah shalat wustha. Berdirilah karena Allah dengan penuh ketaatan.” (QS. Al-Baqarah: 238)
Perintah ini menunjukkan bahwa menjaga shalat bukan sekadar mengerjakannya, tetapi memelihara waktu, syarat, rukun, kekhusyukan, dan kesungguhan dalam menunaikannya. Orang yang benar-benar menjaga shalat akan merasakan ketenangan batin yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan dunia.
Rasulullah ﷺ pun memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai kedudukan shalat.
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat. Para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja merupakan dosa yang sangat besar. Karena itu, seorang muslim tidak boleh meremehkannya sedikit pun.
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Hadis tersebut menjadi peringatan keras agar setiap muslim senantiasa menjaga shalatnya. Para ulama memang memiliki rincian pendapat mengenai hukum orang yang meninggalkan shalat, tetapi mereka sepakat bahwa meninggalkannya dengan sengaja termasuk dosa yang sangat besar dan merupakan perkara yang amat berbahaya bagi keselamatan iman.
Salah satu penyebab seseorang meninggalkan shalat adalah karena hawa nafsu lebih sering dipatuhi daripada panggilan azan. Kesibukan pekerjaan, urusan perdagangan, hiburan, permainan, perjalanan, hingga media sosial sering kali mengalahkan panggilan Allah SWT. Padahal semua kesibukan itu akan ditinggalkan ketika kematian datang, sedangkan shalat akan menjadi amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Jika shalatnya rusak maka sungguh ia telah rugi dan celaka.” (HR. At-Tirmidzi)
Betapa besar kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Meskipun seseorang pernah lalai, pintu taubat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat. Karena itu, siapa pun yang selama ini masih sering meninggalkan shalat hendaknya segera kembali kepada Allah SWT dengan penyesalan yang tulus, memperbanyak istighfar, memperbaiki ibadah, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Jangan pernah membiasakan diri meninggalkan shalat. Kebiasaan kecil yang terus diulang akan menjadi karakter, dan karakter akan menentukan akhir kehidupan seseorang. Sebaliknya, biasakan menjaga shalat tepat waktu, meskipun pada awalnya terasa berat. Seiring waktu, Allah SWT akan memberikan kemudahan, ketenangan hati, serta keberkahan hidup yang tidak disangka-sangka.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menjaga shalat, menghidupkan hati dengan zikir, menjauhi hawa nafsu yang menyesatkan, serta mengakhiri kehidupan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin. (Dr. H.Muhtadi Hairi, M.Pd)
