MATARAM – Keselamatan berkendara tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengendalikan sepeda motor, tetapi juga bagaimana pengendara mampu mengendalikan emosi dan mengambil keputusan secara bijak ketika menghadapi berbagai situasi di jalan raya.
Dalam aktivitas berkendara sehari-hari, pengendara dapat menghadapi berbagai perilaku pengguna jalan lain yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Pengendara lain dapat melakukan kesalahan seperti berpindah jalur secara tiba-tiba, lupa memberikan tanda sein, berhenti mendadak, menyalip, maupun mengambil jalur yang tidak diperkirakan.
Situasi tersebut dapat memicu rasa kesal, marah, atau tersinggung. Apabila tidak dikendalikan, emosi dapat memengaruhi konsentrasi dan mendorong pengendara mengambil keputusan yang berisiko, seperti mengejar kendaraan yang menyalip, memaksakan diri masuk ke celah lalu lintas, membalas klakson, maupun melakukan manuver agresif.
“Menang dalam perselisihan di jalan tidak memberikan manfaat apabila justru meningkatkan risiko kecelakaan. Prioritas utama pengendara adalah keselamatan dan memastikan dapat sampai di tujuan dengan selamat,” ujar Safety Riding Instructor Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya.
Menurutnya, pengendara tidak dapat mengendalikan perilaku seluruh pengguna jalan, tetapi dapat mengendalikan respons terhadap situasi yang dihadapi.
Untuk membantu pengendara tetap tenang ketika menghadapi situasi yang memancing emosi, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan.
1. Kenali tanda-tanda emosi mulai meningkat
Pengendara perlu mengenali perubahan pada dirinya sendiri, seperti mulai merasa kesal, ingin mengejar, ingin membalas, menggenggam setang terlalu kuat, atau meningkatkan kecepatan karena terpancing pengendara lain.
Mengenali tanda tersebut merupakan langkah awal untuk mencegah emosi berkembang menjadi tindakan berisiko.
2. Jangan langsung bereaksi
Ketika merasa dipotong, disalip, atau dibunyikan klakson, hindari mengambil keputusan secara spontan.
Jangan langsung mengejar, membalas klakson, atau melakukan manuver sebagai bentuk perlawanan. Berikan waktu bagi diri sendiri untuk kembali tenang dan fokus pada kondisi lalu lintas.
3. Kurangi kecepatan dan berikan jarak
Apabila situasi mulai membuat emosi meningkat, kurangi kecepatan secara aman dan pertahankan jarak dengan kendaraan di depan.
Jarak yang cukup memberikan waktu dan ruang bagi pengendara untuk berpikir serta mengantisipasi perubahan situasi lalu lintas.
4. Alihkan fokus dari konflik kepada keselamatan
Daripada memikirkan tindakan pengguna jalan lain, pengendara sebaiknya mengembalikan perhatian kepada kondisi di sekitarnya.
Perhatikan kendaraan di depan, samping, belakang, kondisi jalan, rambu lalu lintas, dan potensi bahaya lainnya.
5. Jika emosi tidak terkendali, berhenti di tempat yang aman
Apabila pengendara merasa sangat marah atau sulit berkonsentrasi, jangan memaksakan diri untuk terus berkendara.
Cari lokasi yang aman untuk berhenti, kemudian tenangkan diri sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
“Ketika emosi meningkat, jangan mengambil keputusan yang tidak perlu. Kita bisa memilih untuk tidak membalas, tidak mengejar, dan tidak memaksakan diri. Berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali tenang sebelum melanjutkan perjalanan,” jelas Satria
Aspek pengendalian diri juga menjadi penting ketika seseorang mulai diperbolehkan mengendarai kendaraan bermotor secara legal.
Di Indonesia, usia minimum untuk memperoleh SIM C adalah 17 tahun. Ketentuan usia tersebut merupakan salah satu persyaratan dalam proses memperoleh SIM, yang juga disertai persyaratan administrasi dan pengujian sesuai ketentuan yang berlaku.
Namun, usia 17 tahun tidak berarti seseorang otomatis memiliki kematangan emosional yang sempurna.
Kematangan dalam berkendara perlu dibangun melalui edukasi, pengalaman, disiplin, serta kebiasaan mengambil keputusan secara aman. Kemampuan untuk tidak mudah terpancing, memahami risiko, menghormati pengguna jalan lain, dan mampu mengendalikan tindakan ketika berada dalam tekanan merupakan bagian penting dari perilaku berkendara yang bertanggung jawab.
Karena itu, edukasi keselamatan berkendara bagi pengendara muda perlu tidak hanya mengajarkan cara mengoperasikan sepeda motor, tetapi juga bagaimana mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan di jalan. (Tim KM MD Astra Motor NTB)
