Akhir-akhir ini ruang politik nasional kembali panas oleh silang pendapat antara kubu Anies dan kubu Prabowo. Dua tokoh yang dulu sama-sama menjadi pusat perhatian saat Pilpres, kini masih menyisakan gema perdebatan di ruang publik. Pendukung mereka saling melontarkan narasi, membangun klaim, dan mempertahankan posisi masing-masing, seolah kontestasi belum benar-benar usai. Di tengah kebisingan itu, muncul pertanyaan: apakah ini perdebatan untuk rakyat, atau hanya panggung politik yang terus dirawat agar tetap hidup?
Perbedaan pandangan sebenarnya hal biasa. Namun kenyataannya, perdebatan antara Anies dan Prabowo sering kali berubah menjadi drama berkepanjangan yang lebih fokus pada “siapa benar” daripada “apa yang penting”. Kritik Anies tentang arah kebijakan, misalnya, sering dibalas bukan dengan dialog substantif, tetapi dengan narasi tandingan dari elite maupun pendukungnya. Sebaliknya, ketika Prabowo melakukan keputusan atau langkah politik tertentu, kubu yang berseberangan juga tak mau kalah menyala. Di titik ini, politik bukan lagi tempat bertukar gagasan, tetapi ajang mempertahankan citra.
Masalahnya, drama panjang ini membuat suara rakyat kembali tertinggal jauh di belakang. Rakyat berbicara soal harga kebutuhan pokok yang naik, jalan rusak, akses pendidikan yang masih timpang, dan pelayanan publik yang tidak merata. Namun isu-isu itu tenggelam di antara perdebatan elite yang sibuk membahas strategi, pencitraan, dan manuver politik. Bagi masyarakat, apa yang mereka lihat adalah dua kutub besar yang menghabiskan energi untuk saling melengkapi narasi, bukan menyelesaikan masalah.
Padahal rakyat tidak menunggu siapa yang lebih pandai berdebat, tetapi siapa yang lebih mampu bekerja dan mendengarkan. Ketika elite politik sibuk bersuara, rakyat justru tidak didengar. Ketika drama politik dipelihara, realita kehidupan sehari-hari tidak berubah. Politik yang seharusnya menjadi jembatan antara rakyat dan kekuasaan, justru berubah menjadi panggung tempat elite saling unjuk diri.
Namun masih ada peluang. Baik Anies maupun Prabowo sama-sama punya pendukung besar, punya pengaruh besar, dan punya ruang yang cukup untuk memberi contoh bagaimana perbedaan seharusnya dikelola. Jika kedua tokoh besar ini memilih memprioritaskan dialog substantif daripada drama, maka dinamika politik akan jauh lebih sehat. Tetapi jika mereka tetap membiarkan perdebatan menjadi alat mempertahankan popularitas, maka rakyat akan terus menjadi penonton dalam politik yang seharusnya mereka jalankan bersama.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang lebih benar di antara Anies dan Prabowo. Pertanyaannya adalah: kapan para pemimpin berhenti berbicara untuk kepentingan kelompoknya, dan mulai mendengar suara rakyat yang semakin serak?
Penulis: Lilis Noviana Mahasiswi UIN Mataram
