Renungan Kamis Pagi
Menjadi orang baik bukan berarti hidup tanpa luka. Justru dalam perjalanan kebaikan, seseorang mungkin menghadapi fitnah, penolakan, salah paham, bahkan perlakuan menyakitkan. Para nabi dan orang saleh memberi teladan bahwa kebaikan tidak dibangun dari keinginan untuk selalu dipuji, tetapi dari keteguhan hati menaati Allah, memaafkan dengan bijaksana, dan tetap adil ketika disakiti oleh manusia.
Allah berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)
Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran akhlak bukanlah bagaimana orang lain memperlakukan kita, melainkan bagaimana kita memilih bersikap ketika diperlakukan tidak baik. Orang yang baik tidak membalas keburukan dengan keburukan hanya karena hatinya terluka. Ia berusaha mengendalikan kemarahan, menahan lisan, dan memilih jalan yang diridai Allah.
Namun, menjadi baik tidak berarti harus menjadi lemah. Islam tidak mengajarkan seseorang menyerahkan dirinya kepada kezaliman. Memaafkan adalah kemuliaan, tetapi mencegah kezaliman juga merupakan bagian dari keadilan. Karena itu, orang beriman perlu membedakan antara membalas dendam dan membela hak. Membalas dendam lahir dari kebencian, sedangkan membela hak dapat dilakukan dengan niat menegakkan keadilan.
Allah berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)
Perhatikan keseimbangan ayat tersebut. Islam mengakui adanya hak untuk memperoleh keadilan, tetapi membuka pintu yang lebih tinggi, yaitu memaafkan dan memperbaiki keadaan. Karena itu, orang baik tidak harus membalas setiap luka yang diterimanya. Ada kalanya diam lebih mulia, memaafkan lebih menenangkan, dan menjauh dari orang yang terus menyakiti justru lebih bijaksana.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan ukuran kekuatan yang berbeda dari ukuran dunia. Kekuatan sejati bukan sekadar kemampuan mengalahkan orang lain, tetapi kemampuan mengalahkan dorongan buruk dalam diri sendiri. Seseorang mungkin mampu membalas perkataan kasar dengan perkataan yang lebih tajam, tetapi belum tentu mampu menahan lisannya demi Allah.
Para nabi juga mengalami penolakan dan penderitaan. Nabi Muhammad ﷺ dihina, ditolak, disakiti, bahkan diperangi oleh orang-orang yang tidak menerima dakwahnya. Namun beliau tidak menjadikan penderitaan itu alasan untuk meninggalkan kasih sayang dan keadilan. Dari kehidupan beliau kita belajar bahwa luka tidak harus mengubah seseorang menjadi pribadi yang penuh kebencian.
Karena itu, jangan heran jika orang yang berusaha hidup dalam kebaikan terkadang justru mengalami ujian dari manusia. Kebaikan dapat menimbulkan kecemburuan. Kejujuran dapat membuat seseorang tidak disukai. Ketegasan dalam kebenaran dapat membuat sebagian orang menjauh. Bahkan niat yang tulus pun kadang disalahpahami.
Tetapi jangan pula menjadikan kalimat “orang baik pasti tersakiti” sebagai alasan untuk mempertahankan hubungan yang merusak, membiarkan penindasan, atau menolak nasihat. Orang baik tetap harus memiliki batas. Ia boleh mengatakan tidak. Ia boleh menjauh. Ia boleh melindungi dirinya. Ia boleh mencari keadilan. Yang harus dijaga adalah jangan sampai perlindungan diri berubah menjadi kebencian yang menguasai hati.
Kebaikan yang paling tinggi adalah ketika seseorang tetap menjaga hubungannya dengan Allah di tengah perlakuan manusia yang mengecewakan. Ia tidak membiarkan pujian membuatnya sombong dan tidak membiarkan penghinaan membuatnya kehilangan harga diri. Ia menyerahkan penilaian terakhir kepada Allah.
Sebab manusia hanya melihat sebagian perjalanan kita, sedangkan Allah mengetahui seluruh isi hati, niat, air mata, kesabaran, dan perjuangan yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Maka, jika hari ini kita disakiti setelah berusaha berbuat baik, jangan buru-buru menyesal telah menjadi orang baik. Evaluasilah diri, perbaiki kesalahan jika memang ada, tegakkan batas jika diperlukan, lalu lanjutkan kebaikan dengan hati yang lebih matang.
Kita tidak diperintahkan menjadi baik agar semua orang mencintai kita. Kita diperintahkan menjadi baik karena Allah mencintai kebaikan.
Dan ketika kebaikan kita tidak dihargai manusia, jangan merasa sia-sia. Bisa jadi sesuatu yang tidak dihargai manusia justru sangat bernilai di hadapan Allah. Sebab balasan terbaik bagi amal yang ikhlas bukan selalu datang dalam bentuk penghargaan manusia, melainkan dalam ridha Allah dan pahala yang tidak pernah hilang. (Dr. H. Muhtadi Hairi, M.Pd)
