Renungan Senin Pagi
Ada kalanya sesuatu yang sangat kita harapkan telah berada di depan mata, tetapi kemudian pergi tanpa sempat menjadi milik kita. Jangan buru-buru menganggapnya sebagai kegagalan. Bisa jadi Allah sedang menjaga kita dari sesuatu yang belum baik bagi kehidupan kita. Percayalah, rezeki yang Allah tetapkan tidak akan tertukar, tertunda tanpa hikmah, atau berpindah kepada orang lain secara keliru.
Manusia sering mengukur rezeki hanya dari apa yang terlihat dan berhasil dimiliki. Ketika pekerjaan yang diharapkan tidak diperoleh, usaha yang dirintis belum menghasilkan, peluang yang dinanti justru diberikan kepada orang lain, atau sesuatu yang hampir menjadi milik kita tiba-tiba hilang, hati mudah bertanya, “Mengapa bukan saya?” Padahal, pengetahuan manusia sangat terbatas. Kita hanya melihat hari ini, sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
QS. At-Talaq ayat 2–3
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا ٢ وَيَرْزُقْهُۥ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا ٣
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki tidak selalu datang melalui jalan yang dapat kita perkirakan. Karena itu, ketika satu pintu tertutup, seorang mukmin tidak semestinya langsung berputus asa. Tugas manusia adalah bertakwa, berusaha, berdoa, dan bertawakal. Adapun hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.
Ada sesuatu yang perlu kita pahami dengan lapang: tidak semua yang kita inginkan adalah rezeki yang terbaik bagi kita. Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah ayat 216
وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Betapa dalam pesan ayat tersebut. Kita mungkin menangisi sesuatu yang hilang, padahal kehilangan itu menjadi jalan keselamatan. Kita mungkin kecewa karena sebuah kesempatan tidak jadi diperoleh, padahal kesempatan tersebut dapat membawa kita kepada kesulitan yang belum sanggup kita hadapi. Sebaliknya, sesuatu yang dahulu tidak kita perhitungkan bisa saja justru menjadi pintu kebaikan yang jauh lebih besar.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada kita bagaimana seorang mukmin menyikapi keadaan yang menyenangkan maupun yang mengecewakan:
مَا أَصَابَ مِنْ مُؤْمِنٍ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal tersebut.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, ketika rezeki yang kita tunggu belum datang, jangan biarkan hati dipenuhi prasangka buruk kepada Allah. Boleh jadi Allah sedang mendidik kesabaran kita. Boleh jadi Dia sedang memperbaiki keadaan kita. Boleh jadi Dia sedang mempersiapkan sesuatu yang belum kita lihat. Bahkan boleh jadi penundaan itu sendiri merupakan bentuk kasih sayang Allah.
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal berarti tetap berjalan sambil menyerahkan hasil kepada Allah. Seorang muslim tetap bekerja meskipun pernah gagal, tetap berdagang meskipun pernah rugi, tetap mencari pekerjaan meskipun beberapa kali ditolak, tetap berbuat baik meskipun kebaikannya belum dihargai, dan tetap berdoa meskipun jawaban atas doanya belum terlihat.
Jangan pula mengukur rezeki hanya dengan banyaknya harta. Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang menyayangi kita adalah rezeki. Hati yang tenang adalah rezeki. Kesempatan bertobat adalah rezeki. Teman yang mengingatkan kepada kebaikan adalah rezeki. Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki. Bahkan kemampuan untuk tetap bersabar ketika kehilangan pun merupakan karunia yang sangat besar.
Karena itu, apabila hari ini ada sesuatu yang belum menjadi milik kita, jangan langsung menyimpulkan bahwa Allah tidak menyayangi kita. Teruslah memperbaiki diri. Perbanyak doa. Perkuat ikhtiar. Jauhi jalan yang haram. Jangan mengambil hak orang lain hanya karena takut kehilangan kesempatan. Jangan iri terhadap rezeki orang lain, sebab kita tidak pernah mengetahui seluruh ujian yang menyertai apa yang mereka miliki.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ
“Ketahuilah, sesungguhnya apa yang luput darimu tidak akan pernah sampai kepadamu, dan apa yang sampai kepadamu tidak akan pernah luput darimu.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini menanamkan keteguhan dalam hati seorang mukmin. Apa yang telah Allah tetapkan bagi kita tidak akan tertukar. Karena itu, jangan habiskan hidup untuk meratapi sesuatu yang telah berlalu. Ambillah pelajarannya, perbaiki ikhtiar, kemudian lanjutkan perjalanan.
Mungkin rezeki itu belum datang hari ini. Mungkin pintu yang kita ketuk belum terbuka. Mungkin doa yang kita panjatkan belum memperoleh jawaban sebagaimana yang kita bayangkan. Namun, jangan pernah mengira bahwa Allah tidak mendengar. Allah mengetahui waktu yang tepat, keadaan yang tepat, dan bentuk pemberian yang paling sesuai bagi hamba-Nya.
Tugas kita bukan memaksa takdir mengikuti keinginan. Tugas kita adalah menjalani kehidupan dengan iman, ikhtiar, doa, kesabaran, dan tawakal. Jika mendapatkan sesuatu, bersyukurlah. Jika kehilangan sesuatu, bersabarlah. Jika rezeki datang melalui jalan yang tidak disangka, pujilah Allah. Jika rezeki belum tiba, tetaplah percaya kepada-Nya.
Sebab rezeki tidak pernah salah alamat. Apa yang memang Allah tetapkan untuk kita akan sampai pada waktunya. Yang terpenting, jangan sampai penantian terhadap rezeki membuat kita kehilangan iman, dan jangan sampai keinginan memiliki sesuatu membuat kita lupa kepada Zat Yang Maha Memberi.
Tetaplah tenang. Teruslah berbuat baik. Jangan berhenti berusaha. Jangan putus asa dalam berdoa. Sebab boleh jadi sesuatu yang hari ini kita anggap sebagai kehilangan justru sedang menjadi jalan bagi Allah untuk menyelamatkan, mendewasakan, dan mempersiapkan kita menerima karunia yang jauh lebih tepat.
Allah tahu kapan kita siap. Allah tahu apa yang kita butuhkan. Dan Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan rezeki bagi hamba-Nya. (Dr. H. Muhtadi Hairi,M.Pd)
