LOMBOK BARAT — Astra Motor NTB memperkuat komitmennya dalam membangun kesadaran keselamatan berlalu lintas sejak usia dini. Hal itu diwujudkan melalui program Safety Riding for Kids di TK dan Paud Rinjani Desa Bengkjaung yang menjadi bagian dari rangkaian Corporate Social Responsibility (CSR) Astra Motor, bersamaan dengan peresmian Desa Bengkaung, Kabupaten Lombok Barat, sebagai desa binaan Desa Sejahtera Astra.
Marketing Manager Astra Motor NTB, Yehezkiel Felix, mengatakan edukasi keselamatan berkendara tidak hanya menyasar konsumen umum dan komunitas, tetapi juga anak-anak sebagai generasi penerus.
Menurut Felix, konsep Safety Riding for Kids dirancang agar anak-anak dapat mengenal rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan melalui metode pembelajaran yang menyenangkan.
“Konsep ini memang harus kita ajarkan sejak dini. Kalau baru belajar ketika sudah dewasa, cenderung lebih sulit. Dari kecil sudah diajarkan memahami rambu dan cara berkendara,” jelas Felix, Jumat (25/9/2026).
Untuk mendukung proses edukasi tersebut, Astra Motor menyediakan sarana berupa tenda atau kanopi yang dilengkapi informasi mengenai rambu-rambu lalu lintas, area pembelajaran marka jalan, hingga berbagai alat peraga edukasi.
Felix menjelaskan, pendekatan edukasi untuk anak-anak sengaja dibuat berbeda dengan edukasi safety riding bagi masyarakat umum. Materi yang diberikan kepada anak usia PAUD dan TK dibuat lebih ringan, sederhana, serta menggunakan alat peraga agar mudah dipahami.
“Untuk sekolah, materi yang disampaikan lebih ringan, cara penyampaiannya juga lebih simpel dan dilengkapi alat peraga. Itu yang membedakan dengan edukasi untuk usia dewasa,” katanya.
Selain keselamatan berlalu lintas, program CSR Astra Motor di Desa Bengkaung juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat dan sektor pendidikan.
Salah satu dukungan awal yang diberikan adalah bantuan pipa sambungan untuk saluran air bersih, sehingga distribusi air ke masyarakat diharapkan dapat mengalir lebih deras dan optimal.
“CSR awal kita berbicara mengenai sumbangan pipa sambungan sehingga air dapat mengalir ke desa ini lebih deras dan lebih optimal untuk warga,” ungkap Felix.
Selanjutnya, perhatian juga diarahkan pada sektor pendidikan, termasuk peningkatan dan pelengkapan sarana pendidikan untuk anak-anak usia dini.
“CSR Astra sekarang juga berfokus pada pendidikan. Kita memperbaiki dan melengkapi sarana-sarana untuk sekolah dan PAUD,” tambahnya.
Felix mengungkapkan, secara umum Astra Motor NTB menargetkan sekitar 140 ribu orang mendapatkan edukasi keselamatan berkendara dalam setahun. Program Safety Riding for Kids menjadi bagian tambahan dari upaya memperluas jangkauan edukasi tersebut.
Saat ini, fokus edukasi masih banyak dilakukan di wilayah perkotaan, sementara untuk wilayah Sumbawa dan sekitarnya pelaksanaannya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat.
Felix juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penjualan sepeda motor dengan peningkatan kesadaran keselamatan berkendara.
“Setiap orang yang berkendara punya potensi terjadi kecelakaan. Kita harapkan dengan edukasi yang semakin meningkat, konsumen kita juga semakin aware,” ujarnya.
Menurutnya, meningkatnya penjualan sepeda motor harus dibarengi dengan pemahaman berkendara yang semakin baik.
“Harapannya seimbang antara pemahaman berkendara dan penjualan sepeda motor yang semakin meningkat. Harapannya zero accident,” tegas Felix.
Sementara itu, Instruktur Safety Riding Astra Motor NTB, Faizatul Nabila, menjelaskan bahwa memberikan edukasi keselamatan kepada anak usia TK dan PAUD memiliki tantangan tersendiri.
Anak-anak usia dini cenderung memiliki rentang konsentrasi yang lebih pendek dibandingkan orang dewasa. Karena itu, materi keselamatan berkendara harus dikemas secara kreatif agar mereka tetap tertarik mengikuti pembelajaran.
“Sebisa mungkin dalam waktu yang singkat kita kemas edukasi itu dengan seseru mungkin, dengan lagu-lagu, gambar-gambar, pokoknya segala sesuatu yang kita upayakan supaya bisa menarik atensi anak-anak,” jelas Nabila.
Menurutnya, penggunaan berbagai warna, gambar, serta alat peraga menjadi salah satu cara efektif untuk menarik perhatian anak-anak.
Jika terdapat anak yang kesulitan mengikuti pembelajaran, instruktur juga berkoordinasi dengan guru karena guru lebih memahami karakter masing-masing peserta didik.
“Kalau ada satu atau dua anak yang belum bisa mendengarkan, kita bisa minta bantuan gurunya untuk mengarahkan. Karena gurunya lebih tahu bagaimana karakter anak masing-masing,” katanya.
Nabila menambahkan, instruktur juga dituntut untuk terus berkreasi dan berinovasi dalam menyampaikan materi keselamatan berkendara kepada anak-anak.
“Kalau kita cuma ngomong-ngomong saja, mungkin anak-anak ada yang mengobrol atau bermain sendiri. Dengan memberikan berbagai warna, elemen dan gambar, itu bisa menarik perhatian mereka,” ujarnya.
Program Safety Riding for Kids di Desa Bengkaung pun diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan edukasi sesaat, tetapi menjadi langkah awal untuk menanamkan budaya keselamatan berlalu lintas sejak usia dini.
Dengan mengenalkan rambu, marka jalan, serta perilaku aman di jalan sejak kecil, Astra Motor NTB mendorong lahirnya generasi yang semakin sadar keselamatan dan mampu menjadi bagian dari upaya mewujudkan zero accident di masa mendatang.(Tim KM Abdi Mataram)
