DI tengah tren “kesalehan lahiriah”, khutbah ini mengingatkan bahwa standar kemuliaan di sisi Allah adalah ketulusan hati yang membuahkan transformasi perilaku dari maksiat menuju ketaatan yang berkelanjutan.
Khutbah Pertama :
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لَنَا فِي الْإِسْلَامِ عِيدًا، وَأَجْزَلَ لَنَا فِيهِ فَضْلًا وَمَزِيدًا، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِشَهْرِ رَمَضَانَ، وَرَزَقَنَا بَعْدَهُ شَهْرًا جَدِيدًا، وَتَعَبَّدَنَا فِيهِ بِالْقِيَامِ وَالصِّيَامِ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَشْكُرَهُ، وَكَيْفَ لَا يُشْكَرُ وَلَهُ الْفَضْلُ عَلَى كُلِّ مَنْ صَامَ مِنَّا وَأَفْطَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمُقَدَّسُ عَنِ الشَّبِيهِ وَالنَّظِيرِ، الْحَيُّ الْقَيُّومُ عَلَى خَلْقِهِ بِكَمَالِ الْقُدْرَةِ وَالتَّدْبِيرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ الْبَشَرِ الَّذِي أَعْطَاهُ رَبُّهُ مِنْ صِفَاتِ الْفَضْلِ مَا لَا يُحْصَى وَلَا يُحْصَرُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلَاةً وَسَلَامًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَمْجَادِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Hadirin Jamaah Idul Fitri yang Dirahmati Allah,
Pagi ini, bumi bergema bukan karena gempa, melainkan karena getaran takbir yang membahana dari lisan hamba-hamba-Nya yang beriman. Kita berdiri di sebuah ambang pintu yang kita sebut sebagai “Hari Kemenangan”. Namun, di tengah hamparan pakaian baru, hidangan yang lezat, dan senyum yang merekah, mari kita sejenak menarik diri dari keriuhan fisik ini. Mari kita bertanya pada lubuk hati yang paling dalam: Siapakah pemenang yang sejati itu?
Mari kita renungkan sebuah tamparan spiritual yang sangat keras dari seorang ulama besar, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitabnya “Lathāif al-Ma’ārif”. Beliau menuliskan kalimat yang seharusnya membuat bulu kuduk kita merinding:
لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيدُ. لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوبِ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوبُ
“Hari raya bukanlah bagi orang yang berpakaian baru, tapi hari raya adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah. Hari raya bukanlah bagi orang yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, tapi hari raya adalah bagi orang yang dosa-dosanya diampuni.”
Jamaah yang Berbahagia,
Kita hidup di zaman di mana citra seringkali dianggap lebih penting daripada realita. Kita hidup di era “Kesalehan Visual”. Kita merasa telah menjadi pemenang hanya karena kita berhasil mengunggah foto berbuka puasa yang indah, atau karena kita berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an secara statistik namun hati tak tersentuh. Kita merasa sudah juara hanya karena berhasil melewati 30 hari tanpa makan dan minum secara fisik.
Namun, ketahuilah, standar keberhasilan di sisi Allah SWT bukanlah pada “lelahnya fisik”, melainkan pada “diterimanya amal”. Allah SWT telah memancangkan sebuah standar baku dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 27:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”
Ayat ini, hadirin sekalian, adalah ayat yang membuat punggung para Salafus Shalih (generasi terdahulu yang saleh) bergetar ketakutan. Mereka bukan orang-orang yang malas beribadah, namun mereka adalah orang-orang yang paling khawatir jika ibadah mereka yang menggunung itu ternyata hanya menjadi debu yang beterbangan karena tidak diterima oleh Allah.
Fadhalah bin Ubaid ra. pernah mengeluarkan sebuah pernyataan yang sangat menyentuh: “Seandainya aku tahu Allah menerima dariku seberat biji sawi saja, itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.” Mengapa? Karena jika Allah menerima amal kita meski hanya sekecil biji sawi, itu adalah stempel resmi dari Allah bahwa kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Coba kita bayangkan sosok Abdullah bin Umar ra. Suatu ketika, seorang pengemis datang kepadanya. Beliau kemudian memerintahkan anaknya untuk memberikan satu dinar kepada pengemis itu. Saat sang pengemis pergi, anaknya berkata dengan tulus, “Semoga Allah menerima amalmu wahai Ayah.”
Mendengar doa anaknya, Ibnu Umar tidak lantas tersenyum bangga. Beliau justru menjawab dengan nada yang penuh perenungan:
لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ اللهَ يَقْبَلُ مِنِّي سَجْدَةً وَاحِدَةً، وَصَدَقَةَ دِرْهَمٍ لَمْ يَكُنْ غَائِبٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ المَوْتِ
“Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu sujud saja dan sedekah satu dirham, maka tidak ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada kematian.” Beliau kemudian membacakan ayat tadi: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”
Pelajaran besar bagi kita hari ini: Kita seringkali terlalu percaya diri (overconfident) bahwa puasa kita pasti diterima, shalat tarawih kita pasti berpahala, dan zakat kita pasti menggugurkan dosa. Padahal, tumpuan amal kita bukanlah pada seberapa keras kita memforsir tubuh, melainkan pada keikhlasan hati.
Ad-Dhahhak pernah ditanya, apakah wanita yang sedang haid, musafir, atau orang yang tertidur memiliki nasib atau bagian di malam Lailatul Qadar? Beliau menjawab, “Ya, setiap orang yang diterima amalnya akan diberi bagian.” Ibnu Rajab kemudian menegaskan poin penting ini:
المعَوَّلُ عَلَى القَبُولِ لاَ عَلَى الِاجْتِهَادِ، وَالِاعْتِبَارُ بِبِرِّ القُلُوبِ لاَ بِعَمَلِ الأَبْدَانِ. رُبٌّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ؛ كَمْ مِنْ قَائِمٍ مَحْرُومٍ، وَمِنْ نَائِمٍ مَرْحُومٍ؛ هَذَا نَامَ وَقَلْبُهُ ذَاكِرٌ، وَهَذَا قَامَ وَقَلْبُهُ فَاجِرٌ
“Tumpuannya adalah pada diterimanya amal, bukan pada (sekadar) kesungguhan. Ukurannya adalah pada kebaikan hati, bukan amal badan. Betapa banyak orang yang shalat malam tapi hanya dapat begadang; betapa banyak yang shalat tapi terhalang pahalanya, dan ada yang tidur tapi justru dirahmati. Yang ini tidur tapi hatinya terus berdzikir, sedangkan yang itu berdiri shalat tapi hatinya menyimpan kejahatan.”
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Mari kita berkaca pada kualitas spiritual para pendahulu kita. Mereka bukan sekadar “beramal”, tapi mereka “menjaga amal”. Ibnu Dinar berkata:
الخوفُ على العمل أن لا يُتَقَبَّلَ أشَدُّ مِن العَمَل
“Rasa takut bahwa amal tidak diterima itu jauh lebih berat daripada beban melakukan amal itu sendiri.”
Atha’ as-Sulaimi memberikan definisi tentang kewaspadaan (al-hadzar): “Waspada itu adalah menjaga amal agar jangan sampai bukan karena Allah.” Bahkan, Abdul Aziz bin Abi Rawwad menceritakan betapa para salaf bersungguh-sungguh beramal, namun setelahnya mereka dirundung kecemasan luar biasa: “Apakah diterima oleh Allah atau tidak?”
Sedemikian pentingnya masalah “penerimaan” (qabul) ini, sebagian salaf dikisahkan berdoa selama 6 bulan sebelum Ramadhan agar dipertemukan dengan bulan suci tersebut. Namun yang lebih menakjubkan, mereka menghabiskan 6 bulan setelah Ramadhan hanya untuk berdoa agar amal-amal mereka di bulan tersebut diterima oleh Allah. Mereka tidak langsung “berpesta” secara rohani, mereka justru merunduk dalam harap dan cemas.
Ingatlah khutbah legendaris Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. di hari Idul Fitri. Beliau berdiri di hadapan umat dan mengingatkan:
أيُّها الناس! إنَّكم صُمتم لله ثلاثين يومًا، وقُمْتُم ثلاثين لَيلَةً، وخَرَجْتُم اليومَ تطلبون من الله أن يتقبَّل منكم.
“Wahai manusia! Kalian telah berpuasa 30 hari, shalat malam 30 malam, dan hari ini kalian keluar rumah hanya untuk satu tujuan: Memohon agar Allah menerima amalan kalian.”
Bahkan, sebagian salaf justru tampak bersedih di hari raya. Ketika orang-orang bertanya dengan heran, beliau menjawab: “Kalian benar, ini adalah hari bahagia. Tapi aku adalah seorang hamba yang baru saja diperintah oleh Majikanku (Allah) untuk melakukan suatu tugas besar, dan aku tidak tahu apakah tugasku itu diterima atau justru dilemparkan kembali ke wajahku?”
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Hadirin, teguran keras juga datang dari Wuhaib bin al-Ward. Beliau pernah melihat sekelompok orang yang tertawa terbahak-bahak dan bermain-main secara berlebihan di hari Idul Fitri. Beliau menegur:
إِنْ كَانَ هَؤُلَاءِ تُقُبِّلَ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الشَّاكِرِينَ، وَإِنْ كَانُوا لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الْخَائِفِينَ
“Jika mereka ini diterima puasanya, maka bukan begini cara orang bersyukur. Namun jika mereka tidak diterima puasanya, bukan begini pula cara orang yang merasa takut.”
Hasan al-Bashri juga memberikan perumpamaan yang indah. Beliau menyebut Ramadhan sebagai midmar atau arena pacu. Di arena ini, satu kaum berpacu dengan ketaatan lalu mereka menang (fazu), sementara kaum lain tertinggal karena kelalaian lalu mereka merugi (khabu). Maka sungguh ajaib jika ada orang yang masih bermain-main di hari penentuan pengumuman kemenangan ini.
Ingatlah seruan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. di penghujung Ramadhan yang menggetarkan jiwa:
يا ليتَ شِعْرِي! مَن هذا المقبول فنهنِّيه؟ ومَن هذا المحرومُ فنُعَزِّيه؟
“Duhai, andai aku tahu siapa yang diterima agar aku bisa memberi selamat, dan siapa yang ditolak agar aku bisa memberi belasungkawa!”
Ibnu Mas’ud ra. pun setali tiga uang, beliau berkata: “Siapa di antara kita yang diterima agar kita beri selamat, dan siapa yang terhalang agar kita hibur?”. Kecemasan para sahabat ini diabadikan dalam sebait syair yang sangat menyentuh:
ليتَ شِعْرِي مَنْ فيه يُقْبَلُ مِنَّا … فيُهَنَّا يا خيبة المَرْدُودِ
مَنْ تولَّى عنهُ بغيْرِ قَبُولٍ … أَرْغَمَ اللهُ أَنْفَهُ بِخِزْيٍ شَدِيدِ
“Alangkah ingin aku tahu, siapakah di antara kita yang amalnya diterima, lalu ia berbahagia ; wahai celaka bagi yang tertolak.
Barangsiapa berpaling dari-Nya tanpa diterima amalnya, maka Allah akan menempelkan hidungnya dengan kehinaan yang sangat berat.”
Jamaah yang Berbahagia,
Setelah kita merenungkan betapa pentingnya penerimaan amal, timbul pertanyaan besar: Lantas, bagaimana tanda amalan kita diterima?
Tanda paling nyata, tanda yang paling valid menurut para ulama adalah: ISTIQAMAH. Imam Ibnu Rajab menjelaskan dalam kitabnya (hal. 394):
أن معاوَدَةَ الصِّيام بعدَ صِام رمضانَ علامةٌ على قَبُولِ صَوْمِ رمضانَ؛ فإنَّ الله تعالى إذا تقبَّل عَمَلَ عَبْدٍ وفَّقَه لعمل صالحٍ بعدَه.
“Kembali berpuasa (Syawal) setelah Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan. Karena jika Allah menerima amal seorang hamba, Allah akan memberi taufik (kemudahan) baginya untuk melakukan amal saleh setelahnya.”
Ada sebuah kaidah agung dalam Islam:
ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها
“Pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”. Sebaliknya, tanda ditolaknya sebuah ketaatan adalah jika ketaatan itu langsung disambung dengan maksiat. Alangkah indahnya kebaikan yang melahirkan kebaikan, dan alangkah buruknya maksiat yang dilakukan tepat setelah ketaatan. Bahkan dikatakan, satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat, nilainya lebih buruk daripada 70 dosa yang dilakukan sebelumnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Oleh karena itu, di hari yang fitri ini, mari kita deklarasikan diri kita untuk keluar dari zona maksiat menuju zona ketaatan. Mari kita berlindung dari kehinaan maksiat. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan oleh Imam Ahmad:
اللهمَّ أعِزَّني بطاعتِكَ ولا تذلَّني بمعصيتِكَ
“Ya Allah muliakan aku dengan taat kepada-Mu dan jangan hinakan aku dengan maksiat kepada-Mu.”
Ibrahim bin Adham juga mengajarkan kita sebuah doa yang sangat kuat:
اللهم انقلْنِي مِن ذُلِّ المعصيةِ إلى عزِّ الطاعةِ
“Ya Allah, pindahkanlah aku dari rendahnya maksiat menuju mulianya ketaatan.” Karena sesungguhnya, takwa itulah sumber kemuliaan yang sejati.
Takwa tidak mengenal kasta sosial. Sebagaimana disebutkan dalam syair:
أَلا إِنَّمَا التَّقْوَى هِيَ العِزُّ وَالكَرَمْ … وَحُبُّكَ لِلدُّنْيَا هُوَ الذُّلُّ وَالسَّقَمْ
وَلَيْسَ عَلَى عَبْدٍ تَقِيٍّ نَقِيصَةٌ … إِذَا حَقَّقَ التَّقْوَى وَإِنْ حَاكَ أَوْ حَجَمْ
“Ketahuilah, sesungguhnya takwa itulah kemuliaan dan kedermawanan,
Sedangkan cintamu kepada dunia adalah kehinaan dan penyakit.
Tidak ada aib bagi seorang hamba yang benar-benar bertakwa,
Meskipun di mata manusia ia hanyalah seorang penjahit atau tukang bekam.”
Hadirin sekalian, mari kita akhiri ibadah Ramadhan kita dengan kerendahan hati. Mari kita saling mendoakan dengan ucapan yang dahulu diucapkan oleh para sahabat Nabi SAW saat mereka bertemu di hari raya:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك
“Semoga Allah menerima amal kami dan amalmu.”
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bukan hanya sekadar merayakan Idul Fitri secara lahiriah, tapi benar-benar meraih kemenangan batiniah yang diterima oleh Allah Rabbul ‘Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua :
اَللهُ أَكْبَرُ (7x)
اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.
Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah,
Di khutbah yang kedua ini, marilah kita memantapkan tekad. Ramadhan telah pergi, namun Tuhan pemilik Ramadhan tidak pernah pergi. Jangan sampai kita menjadi hamba musiman yang hanya rajin sujud di bulan suci, namun kembali menjadi sombong di bulan-bulan lainnya.
Kemenangan sejati hari ini adalah ketika kita mampu membawa “bau” Ramadhan ke dalam pasar kita, ke dalam kantor kita, ke dalam rumah tangga kita, dan ke dalam setiap helaan napas kita hingga Ramadhan tahun depan menjemput kita kembali atau hingga malaikat maut datang menjemput.
Doa :
Marilah kita berdoa kepada Allah dengan penuh kekhusyukan.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاجْمَعْنَا بِهِمْ فِي دَارِ الْكَرَامَاتِ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْعِيْدَ عِيْدَ بَرَكَةٍ وَسَعَادَةٍ، وَعِيْدَ مَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ، وَعِيْدَ أُلْفَةٍ وَمَحَبَّةٍ، وَعِيْدَ نَصْرٍ وَعِزَّةٍ لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا، وَصَدَقَاتِنَا وَزَكَاتِنَا، وَجَمِيْعَ أَعْمَالِنَا، وَاجْعَلْهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ.
اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هَذَا الْعِيْدِ مِنَ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَمِنَ الْمُعْتَقِيْنَ مِنَ النَّارِ، وَمِنَ الْمُفُوْزِيْنَ بِرِضْوَانِكَ وَجَنَّاتِكَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَارْزُقْهُمُ الْقُوَّةَ وَالْعِزَّةَ وَالنَّصْرَ عَلَى أَعْدَائِكَ وَأَعْدَائِهِمْ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
(Hidayatullah.com)
