Saatnya ulama ada di tengah tengah netizen. Memanggul cinta Sang Nabi, berkeliling semesta. Mengendarai angin. Mengaliri gelombang.
Tuan Guru Bajang atau Tuan Guru Zainul Majdi dalam sebuah podcast pernah mengatakan, belajar agama itu bukan seperti membuat bakso yang dimasak malam lalu bisa dinikmati kresokan harinya. Maksudnya, kerunutan dan keruntutan metodologi sangat penting dan tidak asal mencomot comot “ilmu” yang disediakan oleh kelimpahan informasi era digital.

Di sisi lain, ada kecemasan kian tergerusnya peran ulama dalam memberikan pencerahan dengan keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Istilah ustad google atau syech youtube di masyarakat sering muncul ketika orang menjadikan referensi pengetahuan keagamaan berbasis kebutuhan praktis di mesin pencari atau kanal konten digital tanpa menyimak tuntas kajiannya namun mengutip begitu saja sesuatu yang dinilai relevan saat itu.
Di tengah dilema itu, ada pula selebriti agama yang punya banyak jamaah (baca; pengikut) dan memproduksi kajian kajian keagamaan khususnya Islam yang tak pernah dikenal sebelumnya.
Meski kyai kondang seperti Gus Baha, Ustad Adi Hidayat bahkan yang sepuh seperti Quraish Shihab masih tetap eksis dan dikenal luas dakwahnya oleh masyarakat baik melalui pertemuan fisik maupun konten konten digital berisikan tuntunan agama.
Secara strategi dakwah, hadirnya konten konten itu lebih banyak disebarluaskan oleh akun akun medsos jamaahnya maupun mereka yang “berguru” secara daring dari beberapa tokoh tadi yang memang memiliki kompetensi secara keilmuan ataupun sanad (turunan ilmu) yang diakui hingga kepada sang Nabi sebagai pembawa ilmu tentang Islam.
Istilah “mikroselebriti” (micro-celebrity) dicetuskan oleh Terri Senft, seorang penulis Inggris di tahun 2008. Bukunya yang berjudul Camgirls: Celebrity and Community in the Age of Social Networks menulis tentang fenomena konten kreator dan pengikutnya.
Membaca istilah ini, yang terbayang adalah selebriti kecil di medsos yang diidolakan banyak orang karena merasa relate (terhubung) dengan konten yang dibuatnya. Lebih banyak soal fenomena gaya hidup kekinian.
Tapi tiba tiba, istilah “Micro Celebrity Muslim” di Indonesia, menjadi fenomena dan dianggap banyak kalangan akademisi Islam sebagai otoritas baru keagamaan di ruang digital (media sosial). Mereka bukanlah ulama yang berdakwah namun individu yang mempresentasikan diri di media sosial untuk mendapatkan banyak pengikut yang seringkali menyampaikan pesan keislaman atau gaya hidup Muslim/ Muslimah yang kerap menggunakan media sosial untuk membangun identitas, membagikan cerita diri, dan terkadang mewakili gaya hidup Muslim/ Muslimah tertentu misalnya dalam penggunaan busana atau cadar sampai sikap hidup.
Contohnya, Dian Pelangi, Hanan Attaki dan Felix Siaw yang sering pula membahas fenomena religiusitas kekinian dengan perspektif rujukan hukum Islam nya.
Dakwah digital sendiri sudah lama dimulai oleh kelompok pengajian yang eksis di dunia nyata dengan alasan meluaskan dakwah melalui media daring seperti Instagram, Youtube dan lain lain.
Lantas apa pentingnya mengistilahkan fenomena religius ini ketika dakwah kehilangan makna bahkan substansi?
Di NTB, kyai atau tuan guru besar seperti TGB tentu tak bisa dikategorikan microselebrity hanya karena baru belakangan ini menjadi konten kreator medsos dengan nasihat dan ilmu agamanya. Di kanal Youtube beliau, ada banyak tayangan lengkap ceramah keagamaan dan pengajian yang melengkapi kiprah beliau sebagai pendakwah dan ulama besar selain digital value performance yang menyejukkan dan santun. Modal penting sebagai selebrity dengan kekhasan.
Belakangan, ada Habib Jafar yang kondang dengan podcast Login bertema toleransi antar umat beragama bergaya komunikasi Gen Z.
Dalam sebuah podcast, ia pun mengakui dilema public figure sebagai pendakwah industri. Sebuah jebakan integritas yang harus terus diseimbangkan melampaui citra yang ditampilkan sebagai tokoh. Panutan anak muda yang harus terus menjawab problem modern yang dikepung kapitalisasi, kebebasan sekaligus moralitas yang senafas dengan ajaran agama yang absolut sambil mengurai dan melawan distorsi informasi perihal kebenaran sejati.
Anggap saja, microselebritymuslim ini sebagai sebuah strategi dakwah dan tak sekadar menampilkan religiusitas. Lantas, pertanyaannya adalah, sanggupkah kita mewujudkan ikhtiar menghadirkan ulama mumpuni kita sebagai microseleb?
Sebuah konten yang kita lihat di medsos tak sesederhana durasinya. Dia membutuhkan konsep dan kecakapan teknologi dan kemampuan lain yang mendukung agar selebriti kita maksimal menampilkan dirinya yang berbeda dengan pendakwah lain. Ya semacam audisi televisi namun dengan treatment dan kondisional lebih kompleks karena ditampilkan di sosial media yang cair dan hampir tanpa batas meski dengan batasan tak tertulis dalam figur dakwah bahwa seseorang tak boleh lebih besar dari pesan kebenaran yang dibawanya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) misalnya harus mulai berikhtiar sebagai ijtihad sosial mereka dalam tanggungjawab keumatan tak hanya berkutat dengan pembahasan masalah fiqih dan fatwa. Atau lembaga keagamaan lain yang niscaya membutuhkan media digital sebagai platform dakwah namun hadir dengan fenomena modern yang bertanggungjawab ketimbang menunggu kreatifitas masyarakat sambil menengahi perbedaan pendapat yang terjadi karena kualifikasi atau literasi yang kurang. Penulis:: Zammi Suryadi, Pegiat Literasi NTB
