Renungan Kamis Pagi
Dalam dunia pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki ilmu dan keterampilan, tetapi juga kesabaran, ketulusan, dan keteguhan hati. Tidak jarang mereka menghadapi ucapan kasar, tuduhan, bahkan perlakuan yang merendahkan. Kisah ini mengajarkan bahwa menjaga kehormatan diri, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang benar merupakan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Islam.
Setiap profesi memiliki ujian dan tantangannya masing-masing. Bagi tenaga kesehatan, ujian itu sering datang ketika harus melayani pasien dan keluarga pasien yang sedang berada dalam kondisi cemas, takut, atau tertekan. Dalam situasi seperti itu, tidak semua orang mampu mengendalikan ucapan dan perilakunya. Ada yang mudah marah, menuduh, bahkan melampiaskan emosinya kepada orang yang sebenarnya sedang berusaha membantu.
Kisah seorang tenaga kesehatan yang menghadapi kemarahan keluarga pasien menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Ketika seseorang datang dengan nada tinggi, menunjuk-nunjuk, dan menuduh pelayanan lambat, tentu hati manusia akan tersinggung. Apalagi jika tuduhan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Namun dalam kondisi seperti itu, Islam mengajarkan agar seorang mukmin tetap mengendalikan dirinya dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
(QS. Fussilat: 34)
Ayat ini mengajarkan bahwa menghadapi perilaku buruk tidak selalu harus dengan kemarahan. Sikap tenang, penjelasan yang baik, dan tindakan yang proporsional sering kali lebih efektif dalam menyelesaikan persoalan. Namun demikian, Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk membiarkan diri diinjak, dihina, atau diperlakukan secara zalim.
Dalam kisah tersebut, tenaga kesehatan itu tetap menjalankan tugasnya secara profesional. Ia memeriksa kondisi pasien, memastikan kebenaran laporan, dan memberikan pelayanan sesuai prosedur. Ketika ternyata kondisi pasien tidak seperti yang dilaporkan oleh suaminya, ia menyampaikan fakta dengan jelas. Ketegasan itu bukan bentuk kesombongan, melainkan upaya menjaga kehormatan profesi dan meluruskan kesalahpahaman.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menjadi dasar penting bahwa setiap orang wajib menghormati hak orang lain. Tidak boleh ada tindakan yang merugikan, menyakiti, atau merendahkan martabat sesama manusia. Menunjuk-nunjuk dengan penuh kemarahan, memaki, atau merendahkan orang lain termasuk perilaku yang bertentangan dengan adab Islam.
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kehormatan manusia. Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa membedakan profesi, jabatan, atau kedudukan sosial. Seorang dokter, perawat, petugas kebersihan, guru, pedagang, maupun buruh memiliki kehormatan yang wajib dihormati.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. Al-Isra’: 70)
Kemuliaan manusia tidak boleh dirusak dengan penghinaan, caci maki, ataupun perlakuan semena-mena. Karena itu, ketika seseorang diperlakukan tidak adil, ia berhak membela dirinya dengan cara yang benar dan tetap berada dalam batas-batas syariat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan.”
(HR. Muslim)
Kekuatan yang dimaksud bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan mental, keberanian membela kebenaran, dan keteguhan menjaga harga diri. Seorang mukmin tidak boleh menjadi penindasan bagi orang lain, tetapi juga tidak boleh menjadi korban penindasan yang terus-menerus tanpa melakukan langkah yang benar untuk menghentikannya.
Dalam kisah tersebut, langkah melaporkan kejadian kepada kepala ruangan merupakan tindakan yang bijaksana. Banyak masalah menjadi besar karena disimpan sendiri atau dibalas dengan emosi. Sebaliknya, ketika masalah disampaikan kepada pihak yang berwenang, penyelesaian dapat dilakukan secara objektif dan profesional. Islam sangat menganjurkan penyelesaian masalah melalui jalur yang benar dan penuh keadilan.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Keadilan menuntut agar setiap pihak didengar keterangannya dan diberikan haknya. Dalam kisah ini, pihak rumah sakit tidak langsung menyalahkan siapa pun, tetapi melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Setelah fakta terungkap, keluarga pasien pun menyadari kesalahannya dan menyampaikan permintaan maaf. Inilah salah satu buah dari penyelesaian yang dilakukan dengan cara yang benar.
Menariknya, yang datang meminta maaf bukan hanya pasien, tetapi juga anak dari keluarga tersebut. Ini menunjukkan bahwa pendidikan akhlak masih hidup dalam keluarga. Mengakui kesalahan bukanlah aib. Justru keberanian meminta maaf merupakan tanda kemuliaan jiwa dan kedewasaan seseorang.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Bagi para tenaga kesehatan, kisah ini menjadi pengingat bahwa kesabaran memang penting, tetapi kesabaran tidak identik dengan membiarkan diri diperlakukan semena-mena. Tetaplah bersikap santun, profesional, dan berpegang pada aturan. Jika terjadi perlakuan yang tidak pantas, hadapilah dengan tenang, jelaskan fakta secara objektif, dan laporkan kepada atasan sesuai prosedur.
Bagi masyarakat, kisah ini juga menjadi pelajaran bahwa tenaga kesehatan adalah manusia yang memiliki perasaan, harga diri, dan kehormatan. Mereka bekerja siang dan malam demi membantu sesama. Kesalahan komunikasi mungkin terjadi, tetapi tidak ada alasan untuk menghina atau merendahkan mereka. Menghormati tenaga kesehatan berarti menghormati kemanusiaan itu sendiri.
Pada akhirnya, akhlak yang baik akan selalu menemukan jalannya menuju penyelesaian yang baik. Ketegasan yang dibingkai dengan kesantunan akan lebih dihormati daripada kemarahan yang meledak-ledak. Kesabaran yang disertai keberanian akan melahirkan keadilan. Dan setiap mukmin hendaknya menjaga lisan, sikap, serta perilakunya agar tidak menyakiti orang lain, karena kemuliaan seorang hamba di sisi Allah tidak hanya diukur dari ibadahnya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama manusia dengan hormat, adil, dan penuh kasih sayang. (Dr. H. Muhtadi Hairi.,M.Pd)
