Renungan Ahad Pagi
Setiap manusia mendambakan dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan penuh kemuliaan. Namun, sering kali keinginan untuk dihormati tidak diiringi dengan kesediaan untuk lebih dahulu menghormati orang lain. Padahal, dalam pandangan Islam, kemuliaan seseorang tidak diukur dari usia, jabatan, kekayaan, ataupun kedudukan sosialnya, melainkan dari ketakwaan, akhlak yang mulia, dan cara ia memperlakukan sesama manusia dengan penuh kasih sayang serta penghormatan.
Sikap menghargai orang lain merupakan salah satu buah keimanan yang nyata. Seseorang yang benar-benar memahami ajaran Islam akan menyadari bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah yang memiliki kehormatan. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk merendahkan, mengabaikan, atau memperlakukan orang lain dengan semena-mena hanya karena merasa lebih berilmu, lebih tua, lebih kaya, atau memiliki jabatan yang lebih tinggi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Artinya:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas banyak makhluk yang telah Kami ciptakan.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 70)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia pada hakikatnya telah dimuliakan oleh Allah. Kemuliaan dasar tersebut menuntut setiap muslim agar menghormati sesama manusia tanpa membedakan latar belakang, status sosial, suku, warna kulit, maupun tingkat pendidikan. Menghargai manusia berarti menghormati kemuliaan yang telah Allah anugerahkan kepadanya.
Sering kali seseorang hanya bersikap ramah kepada orang yang memiliki kekuasaan atau mampu memberikan manfaat baginya. Sebaliknya, kepada orang yang dianggap biasa, ia berubah menjadi acuh, kasar, bahkan meremehkan. Padahal, akhlak yang sejati justru tampak ketika seseorang tetap berbuat baik kepada siapa pun, sekalipun tidak memperoleh keuntungan apa pun darinya.
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diukur oleh status duniawi. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Ayat tersebut menghapus segala bentuk kesombongan manusia. Tidak ada seorang pun yang layak merasa lebih tinggi hanya karena jabatan, kekayaan, keturunan, ataupun gelar akademik. Semua manusia sama di hadapan Allah, sedangkan yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan paling sempurna dalam memuliakan manusia. Beliau menghormati anak-anak, menyayangi orang tua, menghargai para sahabat, melayani tamu, bahkan tetap berlaku santun kepada orang-orang yang memusuhinya selama tidak melanggar ketentuan Allah. Beliau tidak pernah memandang rendah seseorang hanya karena penampilannya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.”
(HR. Muslim)
Kesombongan sering kali muncul dalam bentuk yang halus, misalnya merasa lebih layak dihormati daripada orang lain, enggan menyapa lebih dahulu, malas mengucapkan terima kasih kepada orang yang dianggap lebih rendah, atau berbicara dengan nada merendahkan. Padahal, semua itu bertentangan dengan akhlak seorang mukmin.
Dalam hadis lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengandung prinsip yang sangat mendalam. Jika kita ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Jika kita ingin diperlakukan dengan sopan, maka bersikaplah sopan kepada siapa pun. Jika kita ingin didengar, maka belajarlah mendengarkan. Kebaikan yang kita tebarkan kepada sesama pada akhirnya akan kembali kepada diri kita sendiri.
Allah juga mengingatkan agar manusia saling menebarkan perkataan yang baik.
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Artinya:
“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 83)
Perkataan yang baik merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada sesama. Senyum yang tulus, sapaan yang ramah, ucapan terima kasih, permohonan maaf, serta tutur kata yang lembut adalah amal-amal sederhana yang bernilai besar di sisi Allah. Sering kali seseorang tidak mengingat berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi ia akan selalu mengingat bagaimana kita memperlakukannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, menghargai orang lain dapat diwujudkan dengan tidak memotong pembicaraan, tidak meremehkan pendapat orang lain, tidak menyebarkan aib, tidak menghina kekurangan seseorang, serta menjaga adab ketika berbeda pendapat. Islam mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh melahirkan permusuhan, melainkan menjadi jalan untuk saling memahami dan saling belajar.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan pengendalian diri. Banyak hubungan yang rusak bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena ucapan yang kasar dan menyakitkan. Sebaliknya, banyak hati yang luluh hanya karena kelembutan akhlak dan penghormatan yang tulus.
Menghargai manusia bukan berarti mengagungkan manusia melebihi batas, tetapi memberikan hak-haknya sebagai sesama makhluk Allah. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya. Semakin besar kedudukannya, semakin lembut perilakunya. Sebab, kemuliaan seorang mukmin tidak terletak pada seberapa banyak orang yang menghormatinya, melainkan pada seberapa besar ia mampu menghormati orang lain karena mengharap ridha Allah.
Marilah kita menjadikan akhlak mulia sebagai identitas diri. Hormatilah orang tua, sayangilah yang lebih muda, muliakan tetangga, santuni fakir miskin, hargai bawahan, hormati atasan tanpa menjilat, serta perlakukan setiap manusia dengan adil dan penuh kasih sayang. Ketika penghormatan lahir dari hati yang ikhlas karena Allah, maka hubungan antarmanusia akan dipenuhi keberkahan, persaudaraan akan semakin kokoh, dan kehidupan akan menjadi lebih damai. Semoga Allah menghiasi hati kita dengan kerendahan hati, kelembutan akhlak, dan kemampuan memuliakan setiap manusia sebagaimana ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin. (Dr. H. Mutadi Hairi,M.Pd)
